Kamis, 16 Desember 2010

Portofolio



Oleh: Kartika Sari
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Portofolio dapat diartikan sebagai hasil karya atau tugas-tugas siswa yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Portofolio dapat membantu penilai untuk memusatkan kualitas kemampuan yang dimiliki oleh siswa dalam menerapkam konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari di sebuah karya. Cara melakukan penilaian terhadap sebuah portofolio beragantung kepada deskripsi tujuan dan hasil belajar yang perlu dicapai oleh siswa.
Selain digunakan sebagai metode untuk melakukan penilaian, portofolio juga digunakan untuk mengetahui kemajuan belajar atau learning progress yang telah dicapai oleh siswa setelah menempuh proses belajar. Dari paparan diatas penulis ingin menjelaskan bagaimana teknik pembuatan saat penilaian portofolio.
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Penilaian Portofolio
Penilaian dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah evaluation atau assessment, bukan merupakan istilah baru bagi insan yang bergerak pada lapangan pendidikan dan pengajaran. Pada akhir suatu program pendidikan, pengajaran, ataupun pelatihan pada umumnya diadakan penilaian.[1]
Portofolio adalah sebagaikumpulan karya siswa yang disusun secara sistematis dan terorganisir sebagai hasil dari usaha pembelajaran yang telah dilakukannya dalam kurun waktu tertentu.[2]
Menurut Wina Sanjaya penilaian portofolio adalah penilaian terhadap karya-karya siswa selama proses pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dikumpulkan periode tertentu dan digunakan untuk memantau perkembangan siswa baik mengenai pengetahuan, keterampilan, maupun sikap siswa terhadap mata pelajaran bersangkutan.[3] Menurut Benny A. Pribadi penilaian portofolio adalah salah satu bentuk alternatif instrumen evaluasi hasil belajar yang dapat digunakan oleh guru atau instruktur untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari.[4]

2.      Tujuan dan Manfaat Portofolio
Tujuannya ditetapkan berdasarkan apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan menggunakan jenis portofolio. Dalam penilaian kelas, portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain:[5]
·                  Menghargai perkembangan yang dialami siswa.
·                  Mendokumentasi proses pembelajaran yang berlangsung.
·                  Memberi perhatian pada prestasi kerja siswa yang terbaik.
·                  Mereflesikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksprementasi.
·                  Meningkatkan efektifitas pross pengajaran.
·                  Bertukar informasi dengan orangtua/wali siswa dan guru lain.
·                  Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada siswa.
·                  Meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri, dan membantu siswa dalam melakukan tujuan.
Penilaian portofolio memiliki beberapa manfaat diantaranya:[6]
1.      Penilaian portofolio dapat memberikan gambaran yang utuh tentang perkembangan kemampuan siswa. Artinya melaui penilaian portofolio, informasi yang didapatkan bukan hanya sekedar pengetahuan saja, akan tetapi juga sikap dan keterampilan.
2.      Penilaian portofolio merupakan penilaian yang autentik, artinya penilaian portofolio memberikan gambaran nyata rentang kemampuan siswa yang sesungguhnya. Sebab portofolio adalah dokumen asli yang berisi tentang sekumpulan karya siswa.
3.      Penilaian portofolio adalah merupakan teknik penilaian yang dapat mendorong siswa pada pencapaian hasil yang lebih baik dan lebih sempurna, siswa dapat belajar optimal, tanpa merasa tertekan, sebab penilaian portofolio adalah penialian yang dilakukan secara terus-menerus setiap hasil karya siswa dimonitor dan diberi komentar.
4.      Penilaian portofolio dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa, oleh sebab setiap respon siswa proses pembelajaran diberikan dukungan, dengan demikian siswa akan segera mengetahui kekurangan dan kelebihan dari proses pembelajaran yang dilakukan.
5.      Penilaian portofolio dapat mendorong para orang tua siswa untuk aktif terlibat dulu proses pembelajaran siswa, disebabkan setiap perkembangan siswa yang digambarkan melalui hasil kerja siswa, orang tua dimintai komentarnya.

3.      Prinsip-Prinsip Penilaian Portofolio
Dalam proses pelaksanaan evaluasi dengan sistem penilaian portofolio terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut dijelaskan sebagai berikut:[7]
a.       Saling percaya antara guru dan siswa
Penilaian portofolio adalah penialian yang melibatkan siswa secara secara aktif sebagai pihak yang dievaluasi, antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai piak yang dievaluasi harus saling percaya. Siswa harus memiliki kepercayaan bahwa evaluasi yang dilakukan guru bukan semata-matauntuk menilai hasil pekerjaannya, akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan baik untuk meningkatkan hasil belajar.
b.      Keterbukaan
Portofolio adalah penilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya guru sebagai elevator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberikan nilai atau kritik, akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul, oleh sebab itu guru harus menciptakan iklim belajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat menunjukkan kemampuannya tanpa ada rasa takut dan malu.
c.       Kerahasiaan bersama antar guru dan siswa
Sebelum dilaksanakan pameran, kerahasiaan dokumen setiap siswa perlu dijaga, hal ini untuk menunbuhkan kepercayaan setiap siswa. Berbagai komentar yang diberikan uru terhadap pembelajaran dan hasil karya siswa, biar siswa yang bersangkutan yag tahu. Hal ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai ada kesan siswa merasa direndahkan dan dipernalukandidepan teman-temannya, apalai kalau komentar itu menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan.
d.      Milik bersama antara siswa dan guru
Guru dan siswa harus merasa bahwa bahan portofolio adalah milik bersama, oleh sebab itu semua pihak harus menjaganya secara baik.
e.       Kepuasan dan Kesesuaian
Hasil akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Ketercapaian itu selanjutnya dapat dilihat dari bahan yang diorganisasikan oleh guru dan siswa.
f.       Budaya Pembelajaran
Penilaian portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar sebab penialian portofolio itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran, dalam proses pembelajaran guru tidak hanya menuntut siswa untuk menghafal sejumlah fakta atau pengetahuan taraf rendah, akan tetapi harus membelajarkan siswa pada taraf yang lebih tinggi, misalnya mengembangkan pembelajaran berpikir melalui penelaah kasus atau pengumpulan dan penafsiran data.
g.      Refleksi
Penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya melalui refleksi, siswa dapat menghayati tentang proses berpikir mereka sendiri. Kemampuan yang telah mereka peroleh, serta pemahaman mereka tentang kompetensi yang telah dimilikinya.
h.      Berorientasi pada proses dan hasil
Penialian ini dilakukan dengan dua proses yang penting, yakni sisi proses dan hasil belajar secara seimbang. Penilaian portofolio ini mengikuti setiap aspek perkembangan siswa, bagaimana cara perkembangan siswa, motivasi belajar siswa, sikap, minat, kebiasaan dan lainnya dan pada akhirnya bagaimana hasil belajar yang diperoleh siswa.

4.      Kelebihan ddan Kelemahan Portofolio
Penialian portofolio dilakukan untuk menilai setiap aspek perkembangan siswa termasuk perkembangan minat, sikap, dan motivasi. Oleh sebab itu, penialian portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus dan menyeluruh.

Sebagai suatu teknik penialian portofolio memiliki kelebihan diantaranya:
a.       Penilaian portofolio dapat menilai kemampuan siswa secara menyeluruh.
b.      Penilaian portofolio dapat menjamin akuntabilitas (pertanggung jawaban) sekolah terhadap siswa, orang tua dan masyrakat lebih terjamin.
c.       Penilaian portofolio merupakan penilaian yang bersifat individual.
d.      Penilaian portofolio merupakan penilaian yang terbuka.
e.       Penilaian portofolio bersifat self evaluation (menilai diri sendiri).
Disamping kelebihan, penilaian portofolio juga memiliki kelemahan diantaranya:
a.       Memerlukan waktu dan kerja keras bagi guru dibandingkan dengan penilaian yang lain.
b.      Penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pendang.
c.       Penilaian portofolio memerlukan perubahan gaya belajar.
d.      Penilaian portofolio memerlukan perubahan sistem pembelajaran.

5.      Tahap Pelaksanaan Penilaian Portofolio
a.       Menentukan tujuan portofolio
Pembelajaran adalah suatu proses yang bertujuan apa yang dilakuan siswa dan guru diarahkan untuk mencapai tujuan itu. Oleh karena itulah tahapan pertama dalam pelaksanaan penilaian Portofolioadalah merumuskan tujuan yang ingin dicapai, dengan tujuan yang jelas dan terarah, akan memudahkan bagi guru untuk mengelola pembelajaran.
b.      Penentuan isi portofolio
Penentuan isi portofolio merupakan tahapan berikutnya setelah menentukan tujuan. Isi dalam portofolio harus dapat mengambarkan perkembangan kemampuan siswa yang sesuai dengan standar kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Misalkan apabila tujuan penggunaan portofolio adalah kemampuan anak dalam membuat sebuah karangan, maka isi portofolio adalah perkembangan kemampuan anak dari mulai mengembangkan ide atau gagasan, menentukan tema, menyusun kalimat, menyusum pragraf, dan seterusnya hingga penyusunan kerangka secara utuh.
c.       Menentukan kriteria dan format penialian
Kriteria penilaian ditentukan dalam dua aspek poko, yaitu kriteria untuk proses belajar dan kriteria untuk hasil belajar. Proses belajar misalnya ditentukan kriteria penialaian dari aspek kesungguhan menyelesaikan tugas, motivasi belajar, keteapan waktu penyelesaian. Sedangkan kriteria dilihat dari hasil belajar disesuaikan dengan isi yang menggambarkan kompetensi.
d.      Pengamatan dan penentuan bahan portofolio
Tidak semua bahan dimasukan sebagai bahan portofolio. Portofolio biasanya hanya memuat bahan yang dianggap dapat mewakili dan mengambarkan suatu perkembangan dan perubahan yang terjadi. Pengamatan dan penentuan bahan sebaiknya dilakukan oleh guru dan siswa secara bersama-sama. Siswa perlu dimintai pertimbangan-pertimbangan serta alasan-alasannya bahan mana yang harus dimaksudkan, hal ini penting untuk menjamin objektivitas penilaian portofolio.
e.       Menyusun dokumen portofolio
Bahan-bahan portofolio telah ditentukan, langkah selanjutnya adalah menyusun bahan itu dalam dokumen portofolio, misalnya dalam bentuk folder, folder itu sendiri perlu dilengkapi dengan:
1)      Identitas siswa
2)      Mata pelajaran
3)      Daftar isi dokumen
4)      Isi dokumen beserta komentar-komentar baik dari guru maupun orang tua.

6.      Pedoman Penerapan Penilaian Portofolio
Langkah-langkah yang perlu diperhatian dan dilakukan oleh guru dalm penggunaan penialian portofolio disekolah sebagai berikut:
                  1.            Memastikan bahwa siswa memiliki berkas portofolio
·         Menentukan bentuk dokumen/hasil pekerjaan yang perlu dikumpulkan.
·         Siswa mengumpulkan dan dan menyimpan dokumen dan hasil pekerjaannya.
·         Siswa mengumpulkan kriteria penilaian yang digunakan.
·         Mengharuskan siswa menilai hasil pekerjaannya sendiri secara berkelanjutan.
·         Menentukan waktu dan menyelenggarakan pertemuan portofolio.
·         Melibatkan orang tua dalam proses penilaian portofolio.
                  2.            Bahan penelitian
                  3.            Pembahasan, skor maksimum 25, dengan rincian:
·         Mampu menafsirkan/menganalisis data yang ada (10)
·         Menghubungkan antara data dengan pustaka sebagai referensi (10)
·         Relevan dengan tujuan (15)
                  4.            Rumusan simpulan, skor maksimum 10, dengan rincian:
·         Relevan dengan permasalahan/tujuan (2,5)
·         Relevan dengan data dan pembahasannya (7,5)
                  5.            Tata tulis dan bahasa
·         Tata tulis benar (15)
·         Bahasa menggunakan Bahasa Indonesia baku (10)
Total skor (maksimum 90)

Contoh lain, bentuk instrumen dan penskoran portofolio:
            Portofolio merupakan kumpulan hasil karya tugas atau pekerjaan siswa yang disusun berdasarkan urutan kategori kegiatan. Karya tugas atau pekerjaan ini dipilih, kemudian dinilai sehingga dapat menggambarkan perkembangan kompetensi siwa, portofolio sangat bermanfaat baik bagi guru maupun siswa dalam melakuakn penialian proses. Contoh soal: laporan makalah untuk dipresentasiakan, tugas-tugas penugasan ini objektif, maka guru perlu mengembangkan rubrik, yakni semacam kisi-kisi pedoman penialian, hendaknya memuat:
a)      Daftar kriteria kinerja siswa.
b)      Ranah-ranah dan konsep-konsep yang akan dinilai.
c)      Gradasi mutu sebagai alat penialain tugas, sebelum rubrik digunakan, guru harus mengomunikasikan kepada siswa.
Skor terlihat bersifat kontinum 0 sampai dengan 10 tau 0 sampai dengan 100. Porsi untuk tiap ketertibatan berpikir dalam menjawab soal dari tahap pemahaman, aplikasi, dan analisi (sintesis dan evaluasi) disaranakan sebesar 20%, 30%, dan 50%. Batas ketuntasan ditetapkan dengan skor 75% penugasan kompetensi.
KESIMPULAN
            Penialaian portofolio merupakan salah satu bentuk alternatif instrumen evaluasi hasil belajar yang dapat digunakan oleh guru atau instruktur untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengkontruksi ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilki. Portofolio dapat membantu penilai untuk memusatkan kualitas kemampuan yang dimiliki mahasiswa dalam menerapkan konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari dalam sebuah karya. Cara melakuakn penialian terhadap sebuah portofolio bergantung kepada deskripsi tujuan dan hasil belajar yang perlu dicapai oleh siswa.
            Penilaian portofolio juga digunakan untuk mengetahui aspek-aspek dari hasil karya yang masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Budimansyah, Dasim , Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio, Bandung: PT. Genesindo. 2002.
Majid, Abdul , Perencanaan Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. 2007
Pribadi, Benny A. Model Desain Pembelajaran. Jakarta: PT. Dian Rakyat. 2009
Sanjaya , Wima, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2007


[1] Dasim Budimansyah, Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio, (Bandung: PT. Genesindo, 2002), Hlm. 106.
[2] Wima Sanjaya, Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), Hlm. 195.
[3] Ibid. Hlm. 194.
[4] Benny A. Pribadi, Model Desain Pembelajaran, (Jakarta: PT. Dian Rakyat, 2009), Hlm. 175.
[5] Abdul Majid, Perencanaan Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007), Hlm. 201.
[6] Wina Sanjana, Op. Cit., Hlm. 196.
[7] Ibid, Hlm. 198.

Observasi


Oleh: Kasirun
PENDAHULUAN
KATA PENGANTAR
  Mutu pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya siswa, pengelola sekolah, lingkungan,kualitas pengajaran, kurikulum dan sebagainya. Usaha peningkatan pendidikan bisa ditempuh dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan sistem evaluasi yang baik. Keduanya saling berkaitan sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik.
            Para ahli berpendapat bahwa dalam melakukan evaluasi pembelajaran, kita dapat menggunakan teknik tes dan non-tes, sebab hasil belajar  atau pembelajaran bersifat aneka ragam. Hasil belajar dapat berupa pengetahuan teoritis, keterampilan dan sikap. Pengetahuan teoritis dapat diukur dengan menggunakan teknik non-tes. Keterampilan dapat dilakukan dengan menggunakan tes perbuatan. Adapun pertumbuhan sikap dan pertumbuhan anak dalam psikologi hanya dapat diukur dengan teknik non-tes, misalnya observasi, wawancara, skala sikap dan lain-lain. Dengan kata lain, banyak hasil belajar yang hanya dapat diukur dengan teknik non-tes.
            Di dalam makalah ini penulis akan membahas tentang teknik evaluasi yang bersifat non-tes. Dan di dalam teknik evalusi non-tes tersebut banyak alat yang bisa digunakan seperti observasi, wawancara, angket, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tetapi didalam maklah ini penulis hanya akan membahas tentang salahsatu alat yang digunakan dalam teknik evaluasi jenis non-tes yaitu observasi, yang akan penulis bahas berikut ini:
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Jenis Observasi
Pengertian observasi dapat dirumuskan sebagai berikut:
Observasi ialah metode atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat dan mengamati individu atau kelompok secara langsung.
Observasi merupakan salahsatu alat evaluasi jenis non-tes yang dilakukan dengan jalan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu.
Dilihat dari kerangka kerjanya, observasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1.      Observasi berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai observer telah ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kerangka kerja yang berisi faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya. Isi dan luas materi observasi telah ditetapkan dan dibatasi dengan jelas dan tegas.
2.      Observasi tak berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai observer tidak dibatasi oleh suatu kerangka kerja yang pasti. Kegiatan observer hanya dibatasi oleh tujuan observasi itu sendiri.
Sedangkan bila dilihat dari teknis pelaksanaanya, observasi dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu:
1.      Observasi langsung, yaitu observasi yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang diselidiki.
2.      Observasi tak langsung, yaitu observasi yang dilakukan melalui perantara, baik teknik maupun alat tertentu.[1]
3.      Observasi partisipasi, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti.[2]
B.     Cara dan Tujuan Observasi
Menurut cara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam:
1.      Observasi Partisipatif dan Observasi Nonpartisipatif
Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut ambil bagian alam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan observasi nonpartisipatif, observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka.
2.      Observasi Sistematis dan Observasi Nonsistematis
Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur sruktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati. Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat struktur kategori yang akan diamati.
3.      Observasi Experimental
Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi sistematis. Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan.[3]
C.    Langkah-langkah Observasi
Untuk menyusun pedoman observasi, anda sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
Ø  Merumuskan tujuan observasi
Ø  Membuat lay-out atau kisi-kisi observasi
Ø  Menyusun pedoman observasi
Ø  Menyusun aspek-aspek yang akan di observasi, baik yang berkenaan dengan proses belajar peserta didik maupun kepribadiannya
Ø  Melakukan uji coba pedoman observasi untuk melihat kelemahan-kelemahan pedoman observasi
Ø  Merevisi pedoman observasi berdasarkan hasil uji coba
Ø  Melaksanakan observasi pada saat kegiatan berlangsung
Ø  Mengolah dan menafsirkan hasil observasi[4]
D.    Sifat Observasi
Observasi yang baik dan tepat harus memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu:
Ø  Hanya dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran
Ø  Direncanakan secara sistematis
Ø  Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan
Ø  Dapat diperiksa validitas, rehabilitas, dan ketelitiannya[5]
E.     Kelebihan dan Kelemahan Observasi
Observasi sebagai alat penilaian non-tes, mempunyai beberapa kelebihan antara lain:
1.      Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak.
2.      Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala atau kejadian yang penting.
3.      Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mengecek data yang telah diperoleh dari teknik lain, misalnya wawancara atau angket.
4.      Observer tidak perlu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran.
Selain keuntungan diatas, observasi juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
1.      Observer tidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorang yang sangat dirahasiakan. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi.
2.      Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang.
3.      Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol sebelumnya.[6]

F.     Kedudukan Observasi di dalam Evaluasi
Observasi merupakan metode langsung terhadap tingkah laku sampling di dalam situasi sosial, dengan demikian merupakan bantuan yang vital sebagai suatu alat evaluasi. Melalui observasi, deskripsi objektif dari individu-individu dalam hubungannya yang aktual satu sama lain dan hubungan mereka dengan lingkungannya dapat diperoleh. Dengan mencatat tingkah laku ekspresi mereka yang timbul secara wajar, tanpa dibuat-buat, teknik observasi menjadi proses pengukuran (evaluasi) itu tanpa merusak atau mengganggu kegiatan-kegiatan normal dari kelompok atau individu yang diamati. Data yang dikumpulkan melalui observasi mudah dan dapat diolah dengan teknik statistik konvensional.
Jenis-jenis situasi sosial yang dapat diselidiki dengan observasi sangat luas, mencakup bermacam penelitian mengenai tingkah laku fisik, sosial dan emosional, dari mulai TK, SD, SMP sampai kepada pengamatan terhadap tingkah laku orang dewasa, di pabrik-pabrik, di kantor-kantor, di rumah, dalam kelompok diskusi, dan dalam situasi-situasi lain di masyarakat.
Dalam rangka evaluasi hasil belajar, observasi digunakan sebagai teknik evaluasi untuk menilai kegiatan-kegiatan belajar yang bersifat keterampilan atau skill. Dalam observasi ini guru menggunakan blangko daftar isian yang didalamnya telah tercantum aspek-aspek kegiatan dari keterampilan itu yang harus dinilai, dan kolom-kolom tempat membutuhkan check atau skor menurut standar yang telah ditentukan.[7]
G.    Situasi di dalam Observasi
Yesrild dan Meigs membagi situasi-situasi yang dapat diselidiki melalui observasi langsung itu menjadi tiga macam, yaitu :
Ø  Situasi bebas (free situation)
Ø  Situasi yang dibuat (manipulated situation)
Ø  Situasi campuran (partially controlled) gabungan dari kedua situasi tersebut.
Pada situasi bebas (free situation), klien yang diamati dalam keadaan bebas, tidak terganggu, dan tidak mengetahui bahwa ia atau mereka sedang diamati. Dengan observasi terhadap situasi bebas, mengamat dapat memperoleh data yang sewajar-wajarnya (apa adanya) tentang perisitiwa atau tingkah laku seseorang atau kelompok yang tidak dibuat-buat.
Pada situasi yang dibuat (manipulated situation), pengamat telah sengaja membuat atau menambahkan kondisi-kondisi atau situasi-situasi tertentu, kemudian mengamati bagaimana reaksi-reaksi yang timbul dengan adanya kondisi atau situasi yang sengaja di buat itu. Misalnya dengan memberikan sesuatu yang dapat menimbulkan frustasi. Observasi yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan belajar yang bersifat keterampilan termasuk ke dalam jenis situasi (situasi yang dibuat).
Situasi campuran (partially controlled) adalah situasi dalam observasi yang merupakan gabungan dari kedua macam situasi tersebut diatas.[8]
PENUTUP
KESIMPULAN
Observasi merupakan salahsatu alat evaluasi jenis non-tes yang dilakukan dengan jalan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu.
Dilihat dari kerangka kerjanya, observasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu observasi berstruktur dan observasi tak berstruktur. Sedangkan bila dilihat dari teknis pelaksanaanya, observasi dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu observasi langsung, observasi tak langsung dan observasi partisipasi. Adapun langkah-langkah dalam penyusunan observasi adalah merumuskan tujuan observasi, membuat lay-out atau kisi-kisi observasi, menyusun pedoman observasi, menyusun aspek-aspek yang akan diobservasi, melakukan ujicoba pedoman observasi, merevisi pedoman observasi, melaksanakan observasi dan mengolah hasil observasi.
Dan pada intinya tujuan-tujuan observasi dalam rangka evaluasi pendidikan pada umumnya untuk menilai pertumbuhan dan kemajuan murid dalam belajar, bagaimana perkembangan tingkah laku penyesuaian sosialnya, minat dan bakat dan seterusnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin Zainal, Evaluasi Pembelajaran, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009)

Alkisah si Ibu Bermata Satu yang Mempunyai Seorang Anak Laki-laki


 
Ketika anak laki-lakinya pergi sekolah dasar, si ibu datang ke sekolah untuk melihat-lihat anaknya. Tapi apa yang terjadi, si anak laki-lakinya jadi malu karena diolok-olok oleh teman-teman, karena dia mempunya ibu bermata satu. Sesampai di rumah si ibu dimarahin oleh si anak. Sejak itu si ibu tidak dibolehkan ketemu orang-orang lain agar si anak tidak malu.
Setelah anaknya dewasa, si anak telah bekerja dan sukses, dan sudah berkeluarga dan mempunyai istri yang cantik dan anak-anak yang lucu.... Si ibu rindu ingin ketemu dengan anak dan cucunya. Sesampai di depan pintu rumah anak laki-lakinya, dia diusir oleh anaknya sendiri, seraya berkata: “UNTUK APA KAMU DATANG KESINI ORANG TUA BERMATA SATU, KAMU TELAH MENAKUTKAN ANAK-ANAKKU” kata si anak. Akhirnya, si ibu pulang dengan bersedih hati. Dia akhirnya hanya melihat cucu-cucunya di depan pagar, lalu pergi.
Sekian lama waktu berlalu, si ibu akhirnya sakit dan sepertinya tidak akan lama lagi umurnya. Dia memberi tahukan berita ini kepada anak laki-lakinya itu, bahwasanya dia sedang sakit parah. Tapi, si anak laki-laki tetap tidak mau ketemu ibunya. Ajalnya pun menjemputnya.
Selang beberapa waktu, si istri dari si anak laki2 bertanya ke suaminya: “Mengapa kamu tidak datang ke rumah ibumu?” Dia menjawab: “Saya sedang sibuk”. Tapi akhirnya, dia dibujuk oleh istrinya, agar pergi ke rumah ibunya tersebut sekali saja karena ibunya sudah tiada.
Akhirnya si anak laki-laki pergilah ke rumah almarhum ibunya, dia masuk ke rumah yang telah lama dia tinggalkannya, dan ada secarik kertas yang ditinggalkan oleh ibunya berisi: "Anakku, aku sangat bahagia melihatmu dari kecil, sampai dewasa dan menjadi sukses sekarang ini. ketahuilah nak, bahwasanya kamu kecil hanya mempunyai mata satu, aku telah merelakan mata yang satu lagi diberikan kepadamu, agar kamu bisa hidup bahagia nantinya".

Si anak akhirnya, menanggis s
ejadi-jadinya: “oh..ibu........!! maafkan aku selama ini”.
Np: teman..!! perjuangan seorang ibu demi kita takkan mampu kamu balas walaupun bulan kau pangkukan di pangkuannya. Tanya dirimu sendiri saat ini...!! sudah kau meminta maaf dan berterima kasih untuk kasih sayangnya selama ini.
Sumber: Kisah-kisah motivasi