Jumat, 13 November 2009

laporan studi pembelajaran ke UIN SUKA oleh Diknas BEM STAIN SAS


LAPORAN KEGIATAN STUDI PEMBELAJARAN DI UIN SUNAN KALIJAGA JOGJAKARTA 2009

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BEM STAIN SAS BANGKA BELITUNG

1. PENDAHULUAN

Untuk meningkatkan sumber daya mahasiswa yang berkualitas dibutuhkan berbagai upaya yang bisa meningkatkan kemampuan mahasiswa tersebut. Upaya tersebut bisa berupa melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak positif dan bermanfaat untuk mahasiswa. Kegiatan tersebut juga bisa membuat pengalaman mahasiswa dalam berorganisasi semakin bagus dan luas.

Di dalam surat Ar Ra’d ayat 11, Allah berfirman yang terjemahannya berbunyi:

“….Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….”.

Dari firman Allah SWT tersebut jelaslah bahwa umat Islam diharapkan untuk terus berusaha memperbaiki keadaan mereka. Allah tidak akan merubah keadaan mereka kecuali mereka sendiri berusaha untuk merubahnya. Karena itu untuk memajukan sebuah organisasi dibutuhkan sumber daya mahasiswa yang berkualitas dan juga berpengalaman.

Dalam menghadapi era globalisasi yang semakin maju, sebagai seorang mahasiswa sangat dituntut untuk mempunyai berbagai bekal dan pengalaman terutama dalam hal pendidikan agar mereka dapat bersaing dan memiliki kompeten. Karena itu kegiatan studi pembelajaran ke UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta mempunyai manfaat yang sangat bagus untuk perkembangan organisasi mahasiswa di STAIN SAS Bangka Belitung.

2. WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2009 – 31 Oktober 2009, di kampus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

3. SASARAN

1. Meningkatkan sumber daya mahasiswa dalam hal berorganisasi.

2. Meningkatkan pengalaman mahasiswa untuk mengembangkan kegiatan departemen pendidikan.

3. Meningkatkan kualitas depatemen pendidikan untuk kemajuan mahasiswa.

4. APA YANG SUDAH DILAKUKAN

1. Terlebih dahulu menjelaskan kondisi organisasi pada saat ini.

2. Berbagi pengalaman dalam menjalankan sebuah organisasi.

3. Melakukan tanya jawab seputar organisasi tersebut.

5. MANFAAT

  1. Memberikan pengalaman kepada mahasiswa STAIN SAS Bangka Belitung.
  2. Menjalin silahturahmi antar perguruan tinggi Agama Islam di Bangka dan Jogjakarta.
  3. Memperluas pengetahuan mahasiswa dalam hal berorganisasi.

6. DESKRIPSI HASIL KEGIATAN

1. Mengetahui perkembangan organisasi di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

2. Mengetahui apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

3. Mengetahui cara meningkatkan kualitas organisasi di UIN Sunan Kalijaga.

7. STRATERGI/REKUMENDASI UNTUK DEPARTEMAN PENDIDIKAN BEM

1. Melakukan kegiatan rutinitas tiap minggu untuk mahasiswa STAIN SAS Bangka Belitung yaitu berupa English Club.

2. Melakukan workshop tentang HIV/AIDS.

3. Melakukan workshop tentang narkoba.

4. Melakukan lomba karya tulis antar mahasiswa STAIN SAS Bangka Belitung.

5. Melakukan leadership training untuk mahasiswa STAIN SAS Bangka Belitung.

6. Melakukan lomba debat bahasa arab dan bahasa inggris untuk mahasiswa STAIN SAS Bngka Belitung.

8. PENUTUP

Demikianlah laporan studi pembelajaran ke UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, yang dibuat oleh departemen pendidikan BEM STAIN SAS Bangka Belitung. Semoga dapat bermanfaat dan digunakan oleh mahasiswa/i di STAIN SAS Bangka Belitung.

Departemen Pendidikan

Rabian Syahbana

Nim: 0711059

laporan studi pembelajaran ke UIN SUKA Jogja oleh MAPALA STAIN SAS


LAPORAN KEGIATAN STUDI PEMBELAJARAN DI UIN SUNAN KALIJAGA JOGJAKARTA 2009

UKM PERSIAPAN MAPALA STAIN SAS BANGKA BELITUNG

1. PENDAHULUAN

Di dalam menjalankan sebuah organisasi kemahasiswaan yang baru mulai berkembang dibutuhkan sumber daya mahasiswa yang lebih dalam hal kualitas maupun dalam hal pengalaman. Untuk meningkatkan potensi pada diri mahasiswa dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi kinerja mahasiswa tersebut dalam hal berorganisasi. Bagus buruknya keadaan sebuah organisasi sangat dipengaruhi oleh faktor mahasiswa yang ada pada organisasi tersebut.

Kegiatan studi pembelajaran ke UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta mempunyai pengaruh yang sangat penting untuk UKM persiapan MAPALA STAIN SAS Bangka Belitung karena menambah pengetahuan dalam hal beorganisasi dan menambah pengalaman mahasiswa untuk mengolah organisasi pecinta alam.

Semua yang didapat dalam melakukan studi pembelajaran tersebut sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas UKM pecinta alam di STAIN SAS karena bisa berbagi pengalaman dengan UKM pecinta alam di UIN Sunan Kalijaga yang sudah lama eksis.

2. WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2009 – 31 Oktober 2009, di kampus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

3. SASARAN

1. Meningkatkan sumber daya mahasiswa dalam menjalankan UKM MAPALA.

2. Meningkatkan pengalaman mahasiswa untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan di UKM MAPALA.

3. Meningkatkan kualitas berorganisasi UKM MAPALA untuk kemajuan mahasiswa.

4. APA YANG SUDAH DILAKUKAN

1. Terlebih dahulu menjelaskan kondisi UKM MAPALA pada saat ini.

2. Berbagi pengalaman dalam menjalankan sebuah UKM MAPALA.

3. Melakukan tanya jawab seputar UKM tersebut.

5. MANFAAT

  1. Memberikan pengalaman kepada mahasiswa STAIN SAS Bangka Belitung
  2. Menjalin silahturahmi UKM MAPALA antar perguruan tinggi Agama Islam di Bangka dan Jogjakarta.
  3. Memperluas pengetahuan mahasiswa dalam hal menjalankan UKM MAPALA.

6. DESKRIPSI HASIL KEGIATAN

1. Mengetahui perkembangan UKM MAPALA di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

2. Mengetahui apa saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan pengurus UKM MAPALA UIN Sunan Kalijaga.

3. Mengetahui cara meningkatkan kualitas UKM MAPALA di UIN Sunan Kalijaga.

7. STRATERGI/REKUMENDASI UNTUK DEPARTEMAN PENDIDIKAN BEM

1. Melakukan kegiatan rutinitas seperti panjat dinding.

2. Melakukan pendakian ke bukit-bukit di daerah Bangka Belitung.

3. Melakukan perkemahan di tempat-tempat alam terbuka di daerah Bangka Belitung.

4. Membuat tong sampah yang di tempatkan di tempat-tempat strategis di sekitar kampus STAIN SAS Bangka Belitung.

5. Melakukan penanaman pohon-pohon di sekitar wilayah Bangka Belitung.

6. Melakukan penanaman apotik hidup.

7. Melakukan pembersihan sampah di sekitar kampus STAIN SAS Bangka Belitung.

8. PENUTUP

Demikianlah laporan studi pembelajaran ke UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, yang dibuat oleh UKM persiapan MAPALA STAIN SAS Bangka Belitung. Semoga dapat bermanfaat dan digunakan oleh mahasiswa/i di STAIN SAS Bangka Belitung.

Ukm Persiapan MAPALA

Alim Fitriano

Nim: 0611004

langkah-langkah evaluasi pendidikan


MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN
TENTANG: LANGKAH-LANGKAH EVALUASI PENDIDIKAN
NAMA : Rabian Syahbana NIM: 0711059
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SYAIKH ABDURAHMAN SIDDIK
BANGKA BELITUNG
2009
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahhirobbil alamin wasalatu wassalamuaalai’asysyrofil anbiya wal mursalina sayyidina Muhammad wa’ala alihi washobihi ajmain.
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tak lupa penyusun haturkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
Pembahasan tugas kali ini, penulis mencoba membahas tentang mata kuliah evaluasi pendidikan untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen pengampu mata kuliah evaluasi pendidikan kepada kami. Kali ini kami mencakup pembahasan langkah-langkah evaluasi pendidikan.
Penulis menyadari bahwa dalam tugas ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna untuk itu tanggapan, teguran, dan kritikan serta saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan dari teman-teman. Penulis juga berharap tugas ini bermanfaat dan dapat dipergunakan untuk mahasiswa sekalian.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Petaling, 2009


Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Kegiatan belajar dan pembelajaran pastilah membutuhkan penilaian atau evaluasi, dimana evaluasi tersebut membutuhkan kualitas, mutu dan pofesionalisme seorang guru dan kepada sekolah dalam menjalannkan kegiatan belajar dan pembelajaran. Evaluasi program kelas dan evaluasi program sekolah dilaksanaaka oleh evaluator yang memang sudah pernah mengajar atau menjadi seorang guru dan sudah menjabat berbagai posisi di lembaga pendidikan. Dengan kata lain seorang evaluator haruslah professional dibidangnya untuk menilai dan mengukur kemampuan guru dalam menyampaikan materi kepada siswa dan menilai sekolah dalam menjalankan lembaga pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekolah/madrasah.
A. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja langkah-langkah dalam melakukan evaluasi pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
Langkah-langkah evaluasi pendidikan
- Prosedur pelaksanaan evaluasi
Pekerjaan mengevaluasi ada prosedur tersendiri meskipun perlu untuk ditekankan, bahwa pekerjaan mengevaluasi itu lebih tepat untuk dipandang sebagai suatu proses yang kontinu. Suatu kontinous proses yang tidak terputus-putus, tetapi ada gunanya juga mengetahui prosedur apa sajakah yang merupakan titik-titik penghubung dari proses yang bersifat kontinu tadi.
Pengetahuan tentang prosedur ini ditambah dengan pengetahuan tentang fungsi dalam keseluruhan proses evaluasi akan memungkinkan kita memperoleh gambaran yang cukup jelas tentang sistematik pekerjaan evluasi pada ummnya. Dan kalau bayangan tentang sitematik rangka pekerjaan evaluasi ini sudah ada pada kita, akan lebih memudahkan bagi kita untuk membangunkan suatu system evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan dalam suatu lingkungan pendidikan tertentu ataupun untuk menilai dan aplagi perlu merevisi sitem evaluasi yang telah berlaku dalam suatu lingkungan pendidikan tertentu.
Kalau langkah-langkah pokok yang telah kita sebutkan tadi kita susun kembali, barangkali urutan langkah-langkah pokok tadi akan terlihat sebagai berikut:
1. Langkah perencanaan (termasuk atau tidak termasuk perumusan kriterium, bergantung keadaan),
2. Langkah pengumpulan data.
3. Langkah persifikasi data.
4. Langkah pengolaan data.
5. Langkah penafsiran data, (didahului atau tidak didahului oleh perumusan kriterium revisi kriterium).
Tentu saja stasistik yang disebutkan diatas tidak melupakan satu-satunya sistematik yang lain-lain lagi. Misalnya klau kita hendak menyusun sitematik yang lebih sederhana lagi, dapatlah seluruh langkah-langkah yang kita susun di atas tadi kita bagi menjadi tiga langkah dasar saja, dan barangkali kata langkah dapat diganti dengan kata taraf, sehingga seluruh proses evaluasi dapat dibagi menjadi taraf-taraf sebafai berikut:
1) Taraf persiapan,
2) Taraf pelaksanaan, dan
3) Taraf pengobatan.
Yang penting disini ialah, bahwa kita sebagai evaluator menyadari, dimanakah kita harus memulai tugas kita dan dimanakah pula kita dapat mengakhiri tugas kita. Dan apa sajakah yang kita harus lakukan di antara kedyua batas ini untuk menjamin adanya evaluasi yang sebaik-baiknya. Kiranya perlu juga dsebutkan di sini bahwa dalam beberapa situasi, pendidikan dilihat dari kepentingan anak atau murid rangkaian langkah-langkah, yang telah disebutkan di atas tadi belum dirasakan selesai, tetapi masih harus dilanjutkan dengan beberapa langkah yang lain lagi. Kalau kita sebagai evaluator dimintai konsultasi oleh seorang teman sejawat nebgenai jenis kesukaran yang terdapat pada seorang teman yang sangat tertinggal dalam mata pelajaran tertentu misalnya, akan kita hadapilah situasi yang kita maksudkan ini.
Perincian langkah-langkah pokok
Marilah kita tinjau langkah-langkah pokok tadi satu demi satu.
A. Langkah perencanaan
Merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilakukan pada masa depan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalandan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefisien dan seefektif mungkin. Dalam setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang meskipun dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yag lainnyadalam proses perencanaan.
Sukses yang akan dicapai oleh suatu program evaluasi telah turut ditentukan oleh memadai atau tidaknya langkah-langkah yang dilaksanakan dalam perencanaan ini.
Yang dapat kita lakukan dalam taraf perencanaan ini ialah soal-soal yang berhubungan dengan pertanyaan untuk evaluasi yang akan dipergunakan kemudian. Yang paling penting kita lakukan dalam taraf perencanaan ini ialah berapa kalikah dalam satu tahun kita harus mengadakan evaluasi?. Untuk mengambil keputusan mengenai soal ini pertimbangan yang harus kita utamakan ialah kelengkapan gambaran tentang perumbuhan para siswa dalam kecakapan yang kita ajarkan. Artinya jumlah yang akan kita tetapkana mengenai evaluasi yang akan kita adakan dalam jangka waktu satu tahun itu kita lakukan hubungkan dengan tujuan memperoleh gambaran yang lengkap mengenai kemajuan yang akan dicapai oleh para siswa selama jangka waktu setahun itu pula. Kalau pertumbuhan yang akan dicapai oleh para siswa kita tadi dapat kita bayangkan sebagai suatu pertumbuhan yang terdiri dari empat fase misalnya, maka ada baiknya umtuk mengadakan empat kali evaluasi selama jangka waktu satu tahun tadi.
Ini merupakan soal praktis yang banyak sedikitnya biasanya selalu diketahui oleh setiap pengajar. Dengan merenungkan sedikit sifat materi yang kita ajarkan biasanya kita akan dapat membangunkan gambaran semacam itu.
B. Langkah pengumpulan data
Soal pertama yang kita hadapu dalam melakukan langkah ini ialah menentukan data apa saja yang kita butuhkan untuk melakukan tugas evaluasi yang kita hadapi dengan baik. Seperti telah disinggung di muka dan kemudian disinggung kembali dalam uraian kita tentang langkah perencanaan di atas, soal penentuan data yang halus dikumpulkan untuk keperluan suatu tugas evaluasi ini berhubungan erat dengan rumusan tentang tugas evaluasi ini berhubungan erat dengan rumusan tentang tugas kita dalam suatu usaha pendidikan.
Kalau kita rangkumkan kembali uraiannya maka kita dapat jalan pikiran sebagai berikut: rumusan tentang tugas kita sebagai seorang pengajar dalam suatu usaha pendidikan menghasilkan ketentuan- ketentuan tentang tujuan yang harus kita capai dengan materi yang kita ajarkan. Rumus tentang tujuan yang harus kita capai ini setelah dianalisis menentukan aspek-aspek manakah dari sekuruh pertumbuhan seorang anak-anak sekelompok siswa terutama harus kita perhatikan dan manakah serta sampai ke taraf manakah pertumbuhan aspek-aspek ini harus kita arahkan.
Soal terakhir yang harus kita selesaikan lebih dahulu dalam langkah pengumpulan data ini ialah pemilihan alat-alat yang kita pergunakan. Untk penyelesaian soalini biasanya pengetahuan mengenai alat-alat yang telah tersedia akan merupakan suatu pegangan yang sangat berguna.
C. Langkah penelitian data
Penelitian data atau verifikasi data dan maksudnya ialah untuk memisahkan data yang “baik” yang akan dapat memperjelas gambaran yang akan kita peroleh mengenai individu atau sekelompok individu yang sedang kita evaluasi, dari data yang kurang baik yang hanya akan merusak atau mengaburkan gambaran yang akan kita peroleh apabila turut kita olah juga.pada langkah ini data yang teutama membutuhkan verifikasiini ialaha data yang kita terima dari pihak lain mengenai orang yang sedang dievaluasi jadi bukan data yang kita peroleh sebagai hasil observasi kita sendiri tehadap orang sedang dievaluasi tadi. Pernyataan ini tentu saja tidak berarti bahwa setiap data yang kita kumpulkan sendiri dapat dianggap sebagai data yang sudah pasti terjamin “kebaikannya”. Tentu saja kemungkinan selalu ada bahwa data yang kita peroleh sebagai hasil dari pemeriksaan langsung terhadap orang yang dievaluasi yang kita sebut data yang berasal dari sumber pertama mengandung pula keasalahan-kesalahan. Banyaknya factor yang dapat menyebabkan masuknya data yang mengandung kesalahan-kesalahan ini.
Tetapi oleh karena itu selalu menyadari baik-buruknya setiap data yang kita pergunakan untuk memperoleh data lengsung dari otak yang bersangkyutan tadi oleh karena dalam evalasi yang baik, kita selalu berusaha untuk hanya mempergunakan alat-alat yang sebaik-baiknya yang tersedia bagi kita. Oleh karena kita telah mempergunakan cara-cara pencatatan yang baik biasanya dengan telah dilakyukannya berbagai langkah pencegahan (precautious steps) semacam ini kita pun dapat merasa cukup pasti “akan kebaikan” atau “kebersihan” data yang langsung kita peroleh dari sumber pertama tadi.
Tetapi tidaklah demikian halnya dengan data yang kita peroleh dari sumber kedua atau sumber ketiga, yaitu data yang kita peroleh tentang seseorang atau sekelompok orang melalui orang lain yang langsung mengenai orang yang kita evaluai tadi. Dalam hal semacam ini banyaklah hal yang tidak kita ketahui tentang kebaikan atau kebenaran data yang diberikan kepada kita.
Dari uraian diatas kianya telah dapat diduga bahwa panjang-pendeknya suatu langkahpenelitian terhadap sekumpulan data ditentukan oleh berbagai factor. Ada kalanya proses penelitian itu berlangsung sebentar saja.
D. Langkah pengolahan data
Langkah pengolahan data dilakukan untuk memberikan “makna” terhadap data yang ada pada kita. Jadi hal ini berate bahwa tanpa kita olah,dan diatur lebih dulu data itu sebenarnya tidak dapat menceritakansuatu apa pun kepada kita. Fungsi pengolahan data yang telah disajikan hingga sekarang ini jelaslah kiranya fungsi penolahan data dalam proses evaluasi yang perlu disadari benar-benar pada taraf “pembicaraan kita sekarang ini ialah bahwa untuk memperoleh gambaran yang selengkap-lengkapnya tentang diri orang yang sedang dievaluasikan langkah pengolahan data ini merupakan keharusan.
E. Langkah penafsiran data
Kalau kita perhatikan segenap uraian yang telah disajikan mengenai langkah data tadi akan segera tampak pada kita bahwa memisahkan lankah penafsiran dari langkah pengolahan sebenarnya merupakan suatu pemisahan yang terlalu dibuat-buat. Memang dalam praktek kedua langkah ini tidak dipisah-pisahkan kalau kita melakukan suatu pengolahan terhadap sekumpulan data, dengan sendirinya kita akan memperoleh “tafsir” makna data yang kita hadapi. Sering terasa pada kita bahwa sesuatu telah terumuskan dengan jelas dalam pikiran kita tetapi kita tidak berhasil juga menemukan kata-kata yang dapat untuk isi pikiran tadi. Dalam situasi-situasi tertentu sering kita dapat lari ke suatu bahasa asing yang telah berhasil menciptakan lambing atau kata, terutama itu untuk isi pikiran semacam itu tetapi dalam situasi yang lain lagi berbahasa maupun kita hendak melarikan diri tetapi tidak dapat kita temukan kata-kata yang tepat. Dalam situasi yang terakhir ini kita mendapatkan diri kita dalam suatu keadaan oleh pikiran yang terkatan. Kalau hal yang tak terkatakan tadi sering muncul dalam pikiran kita, kita pun akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menemukankata yang tepat dan lahirlah sebagai hasil usaha semacam itu “kata-kata baru” istillah-istillah baru.
Introduksi di atas disajikan di sini untuk sekedar meminta perhatian pembaca terhadap kesulitan-kesulitan yang mungkinterjadi dalam rumusan tafsiaran yangf dapat diberikan terhadap sekumpulan data yang telah diolah.

F. Langkah meningkatkan daya serap peserta didik
Hasil pengukuran memiki fungsi utama untuk memperbaiki tingkat penguasaan peserta didik. Hasilpengukuran secara umum dapat dikatakan bisa membantu, memperjelas tujuan intruksional, menentukan kebutuhan pesertra didik, dan menentukan keberhasilan peserta didik dalam suatu proses pembelajaran. Perhatikan uraian berikut ini.
a. Memperjelas tujuan intruksional
Penyebutan tujuan intruksional yang rinci tidak selalu membawa hasil yang positif. Ada kalanya rincian ini membawa dampak yang kurang positif. Ada kalanya rincian ini membawa dampak yang kurang baik antara lain dapat menjemukan peserta didik, terlebih-lebih mereka yang kurang atau lambat, bisa menimbulkan ketegangan. Kedua, peserta didik menganggap untuk menghadapi ujian hanya tujuan intruksional inilah yang harus dipersiapkan, bukan semua pelajaran yang diperoleh selama ini. Ketiga, rincian intruksional dapat mematikankemungkinan untuk mengembangkan tujuan tersebut dalam proses pembelajaran. Padahal, dalam pembelajaran tujuan intruksional harus dikaitkan dengan berbagai metode yang memungkinkan tujuan tersebut mendalami materi dan meningkatkan kualitas proses berpikou, penanaman nilai dan keterampilannya. Inilah sebabnya dalam satuan pelajaran tidak perlu ditusemua tujuan intruksional yang ini dikembangkan tetapidipilih yang pokok dan yang penting saja.
b. Penilaian awal yang menentukan kebutuhan peserta didik
Penilaian awal ini bentuknya dapat dengan mempelajari catatan kemajuan dari sekolah asal, sebelum peserta didik mengikuti program yang dikembangkan dan atau melalui tes awal (pre-test) yang dikembangkan dan atau melalui tes (pre-test) yang dikembangkan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta tentang materi yang akan diberikan.
c. Memonitor kemajuan peserta didik
Monitoring kemajuan peserta didik selama proses pembelajaran bertujuan untuk mengarahkan peserta didik pada jalur yang membawa hasil-hasil belajar yang maksimal.monitoring dilaksanakan secara berkesinambungan dan terus menerus.

G. Laporan hasil penelitian
Pada akhir penggal waktu proses pembelajaran, antara lain akhir catur wulan, akhir semester, akhir tahun ajaran, akhir jenjang persekolahan diperlukan suatu laporan kemajuan peserta didik, yang selanjutnya merupakan laporan kemajuan sekolah. Laporan ini akan memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh anggota masyarakat khususnya orang tua peserta didik dapat tercapai.
a. Laporan kemajuan umum
Informasi tersebu tersebut terbuka untuk siapa saja yang berminat dengan sasaran utamanya adalah orang tua, anak didik dan masyarakat di sekitar sekolah.
b. Laporan kemajuan khusus
Disampaikan hanya pada orang tua dan peserta didik, karena laporan ini banyak menyangkut masalaj pribadi yang tabu untuk diketahui oleh orang lain.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
langkah-langkah pokok dalam melakukan evaluasi pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Langkah perencanaan (termasuk atau tidak termasuk perumusan kriterium, bergantung keadaan),
2. Langkah pengumpulan data.
3. Langkah persifikasi data.
4. Langkah pengolaan data.
5. Langkah penafsiran data, (didahului atau tidak didahului oleh perumusan kriterium revisi kriterium).
B. SARAN
Berkaitan dengan pembahasan makalah ini, maka pemakalah sekaligus menyarankan agar: Melalui pembahasan makalah ini, pemakalah mengharapkan dari semua pihak, terutama aktifis STAIN SAS Bangka-Belitung untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun. Agar kedepannya makalah yang dibuat akan menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. Evaluasi pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2007
Fattah, Nanang. Landasan Manajemen PendidikN. Bandung: PT REmaja Rosdakarya 2004

langkah-langkah evaluasi pendidikan


MAKALAH EVALUASI PENDIDIKAN
TENTANG: LANGKAH-LANGKAH EVALUASI PENDIDIKAN
NAMA : Rabian Syahbana NIM: 0711059
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SYAIKH ABDURAHMAN SIDDIK
BANGKA BELITUNG
2009
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahhirobbil alamin wasalatu wassalamuaalai’asysyrofil anbiya wal mursalina sayyidina Muhammad wa’ala alihi washobihi ajmain.
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tak lupa penyusun haturkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
Pembahasan tugas kali ini, penulis mencoba membahas tentang mata kuliah evaluasi pendidikan untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen pengampu mata kuliah evaluasi pendidikan kepada kami. Kali ini kami mencakup pembahasan langkah-langkah evaluasi pendidikan.
Penulis menyadari bahwa dalam tugas ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna untuk itu tanggapan, teguran, dan kritikan serta saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan dari teman-teman. Penulis juga berharap tugas ini bermanfaat dan dapat dipergunakan untuk mahasiswa sekalian.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Petaling, 2009


Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Kegiatan belajar dan pembelajaran pastilah membutuhkan penilaian atau evaluasi, dimana evaluasi tersebut membutuhkan kualitas, mutu dan pofesionalisme seorang guru dan kepada sekolah dalam menjalannkan kegiatan belajar dan pembelajaran. Evaluasi program kelas dan evaluasi program sekolah dilaksanaaka oleh evaluator yang memang sudah pernah mengajar atau menjadi seorang guru dan sudah menjabat berbagai posisi di lembaga pendidikan. Dengan kata lain seorang evaluator haruslah professional dibidangnya untuk menilai dan mengukur kemampuan guru dalam menyampaikan materi kepada siswa dan menilai sekolah dalam menjalankan lembaga pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekolah/madrasah.
A. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja langkah-langkah dalam melakukan evaluasi pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam melakukan evaluasi program, apanya dari program yang dievaluasi?
a. Input
Siswa adalah subjek yang menerima pelajaran. Ada siswa pandai, kurang pandai, dan tidak pandai. Setiap siswa mempunyai bakat intelektual, emosional, social yang berbeda. Oleh karena itu dalam pembuatan program pengajaran hendaknya guru juga perlu memperhatikan aspek-aspek individu tersebut. Secara umum, hal-hal yang ada pada siswa berpengaruh terhadap keberhasilan belajar.
b. Materi atau kurikulum
Di Indonesia, kurikulum berlaku secara nasional karena kita menganut system sentralisasi. Meskipun penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah sudah dilakukan secara cermat dan melibatkan banyak pihak, namun tidak mustahil bahwa di lapangan masih juga dijumpai kelemahan dan hambatan. Wilayah Indonesia yang sedemikian luas mengandung keragaman yang tidak sedikit. Itulah sebabnya guru perlu dibekali dengan kemampuan untuk melakukan evaluasi program, termasuk mengevaluasi materi kurikulum. Sasaran yang perlu dievaluasi dari komponen kurikulum ini anatara lain, kejelasan pedoman untuk dipahami, kejelasan materi yang terantum dalam GBPP, urutan penyajian materi, kesesuaian antara sumber yang disarankan dengan materi kurikulum dan sebagainya.
c. Guru
Guru merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah orang yang diberi kepercayaan untuk meciptakan suasana kelas yang kondusif untuk pembelajaran. Guru adalah manusia biasa yang mempunyai banyak keterbatasan. oleh karena itu untuk menutupi kelemahan guru perlu dilakukan pembinaan dan penataran dalmrangka melaksanakan pembelajaran
d. Metode atau pendekatan dalam mengajar
Berbeda dengan evaluasi terhadap kurikulum, evaluasi terhadap metode mengajar merupakan kegiatan guru untuk meninjau kembali tentang metode mengajar, pendekatan, atau strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi kurikulum kepada siswa. Metode mengajar adalah cara-cara atau teknik yang digunakan dalam mengajar. Sedangkan strategi pembelajaran menunjuk kepada bagaimana guru mengatur waktu pemenggalan penyajian, pemilihan metoda, pemilihan pendekatan dan sebagainya.
e. Sarana
Komponen lain yang perlu dievaluasi oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah sarana pendidikan, yanga meliputi alat pelajaran dan media pendidikan. Sebelum guru memulai kegiatan mengajar, bahkan sebelum atau sekurang-kurangnya pada waktu menyusun rencana mengajar, guru telah memilih alat yang kira-kira dapat membantu melancarkan dan memperjelas konsep yang diajarkan. Selain guru, mungkin siswa juga dapat dijadikan titik tolak dalam menentukan apakah sarana yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar sudah tepat. Mungkin saja pada waktu menentukan alat pelajaran guru berpikir bahwa pilihannya sudah tepat. Tetapi ternyata di dalam praktek pelaksanaan pengajaran, alat tersebut ternyata kurang atau sama sekali tidak tepat. Proses pengajarannya tidak menjadi semakin lancar, tetapi mungkin bahkan kacau balau. Apabila guru menjumpai dalam mengajar atau ketidak berhasilan siswa dengan nilai rendah-rendah, ia dapat mecoba mengadakan evaluasi terhadap sarana yang digunakan. Sasaran evaluasi yang berkenaan antara lain kelengkapannya, ragam jenisnya, modelnya, kemudahannya untuk digunakan, mudah dan sukarnya diperoleh, kecocokan dengan materi yang diajarkan, jumlah persediaan dibandingkan dengan banyaknya siswa yang memerlukan.
f. Lingkungan
Ada dua macam lingkungan, yaitu lingkungan manusia dan lingkungan bukan manusia. Yang dapat digolongkan sebagai lingkungan masukan lingkungan manusia bukan hanya bukan hanya kepala sekolah, guru-guru, dan pegawai tata usaha di sekolah itu, tetapi siapa saja yang dengan atau tidak sengaja berpengaruh terhadap tingkat hasil belajar siswa. Sedangkan yang dimaksudkan dengan lingkungan bukan manusia adalah segala hal yang berada di lingkungan siswa yang secara langsung maupun tidak, berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Yang termasuk kategori lingkungan bukan manusia misalnya suasana sekolah, halaman sekolah, keadaan gedung dan sarana lain. Pengaruh lingkungan bukan manusia dapat positif maupun negative. Tatanan perabot kelas yang rapi dapat berpengaruh terhadap kesejukan suasana sehingga siswa dapat belajar dengan tenteram. Sebaliknya suasana yang gaduh di luar kelas dapat mengganggu konsentrasi siswa dan menyebabkan siswa tidak dapat seperti yang diharapkan.
Langkah-langkah evaluasi pendidikan
- Prosedur pelaksanaan evaluasi
Pekerjaan mengevaluasi ada prosedur tersendiri meskipun perlu untuk ditekankan, bahwa pekerjaan mengevaluasi itu lebih tepat untuk dipandang sebagai suatu proses yang kontinu. Suatu kontinous proses yang tidak terputus-putus, tetapi ada gunanya juga mengetahui prosedur apa sajakah yang merupakan titik-titik penghubung dari proses yang bersifat kontinu tadi.
Pengetahuan tentang prosedur ini ditambah dengan pengetahuan tentang fungsi dalam keseluruhan proses evaluasi akan memungkinkan kita memperoleh gambaran yang cukup jelas tentang sistematik pekerjaan evluasi pada ummnya. Dan kalau bayangan tentang sitematik rangka pekerjaan evaluasi ini sudah ada pada kita, akan lebih memudahkan bagi kita untuk membangunkan suatu system evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan dalam suatu lingkungan pendidikan tertentu ataupun untuk menilai dan aplagi perlu merevisi sitem evaluasi yang telah berlaku dalam suatu lingkungan pendidikan tertentu.
Kalau langkah-langkah pokok yang telah kita sebutkan tadi kita susun kembali, barangkali urutan langkah-langkah pokok tadi akan terlihat sebagai berikut:
1. Langkah perencanaan (termasuk atau tidak termasuk perumusan kriterium, bergantung keadaan),
2. Langkah pengumpulan data.
3. Langkah persifikasi data.
4. Langkah pengolaan data.
5. Langkah penafsiran data, (didahului atau tidak didahului oleh perumusan kriterium revisi kriterium).
Tentu saja stasistik yang disebutkan diatas tidak melupakan satu-satunya sistematik yang lain-lain lagi. Misalnya klau kita hendak menyusun sitematik yang lebih sederhana lagi, dapatlah seluruh langkah-langkah yang kita susun di atas tadi kita bagi menjadi tiga langkah dasar saja, dan barangkali kata langkah dapat diganti dengan kata taraf, sehingga seluruh proses evaluasi dapat dibagi menjadi taraf-taraf sebafai berikut:
1) Taraf persiapan,
2) Taraf pelaksanaan, dan
3) Taraf pengobatan.
Yang penting disini ialah, bahwa kita sebagai evaluator menyadari, dimanakah kita harus memulai tugas kita dan dimanakah pula kita dapat mengakhiri tugas kita. Dan apa sajakah yang kita harus lakukan di antara kedyua batas ini untuk menjamin adanya evaluasi yang sebaik-baiknya. Kiranya perlu juga dsebutkan di sini bahwa dalam beberapa situasi, pendidikan dilihat dari kepentingan anak atau murid rangkaian langkah-langkah, yang telah disebutkan di atas tadi belum dirasakan selesai, tetapi masih harus dilanjutkan dengan beberapa langkah yang lain lagi. Kalau kita sebagai evaluator dimintai konsultasi oleh seorang teman sejawat nebgenai jenis kesukaran yang terdapat pada seorang teman yang sangat tertinggal dalam mata pelajaran tertentu misalnya, akan kita hadapilah situasi yang kita maksudkan ini.
Perincian langkah-langkah pokok
Marilah kita tinjau langkah-langkah pokok tadi satu demi satu.
A. Langkah perencanaan
Merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilakukan pada masa depan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalandan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefisien dan seefektif mungkin. Dalam setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang meskipun dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yag lainnyadalam proses perencanaan.
Sukses yang akan dicapai oleh suatu program evaluasi telah turut ditentukan oleh memadai atau tidaknya langkah-langkah yang dilaksanakan dalam perencanaan ini.
Yang dapat kita lakukan dalam taraf perencanaan ini ialah soal-soal yang berhubungan dengan pertanyaan untuk evaluasi yang akan dipergunakan kemudian. Yang paling penting kita lakukan dalam taraf perencanaan ini ialah berapa kalikah dalam satu tahun kita harus mengadakan evaluasi?. Untuk mengambil keputusan mengenai soal ini pertimbangan yang harus kita utamakan ialah kelengkapan gambaran tentang perumbuhan para siswa dalam kecakapan yang kita ajarkan. Artinya jumlah yang akan kita tetapkana mengenai evaluasi yang akan kita adakan dalam jangka waktu satu tahun itu kita lakukan hubungkan dengan tujuan memperoleh gambaran yang lengkap mengenai kemajuan yang akan dicapai oleh para siswa selama jangka waktu setahun itu pula. Kalau pertumbuhan yang akan dicapai oleh para siswa kita tadi dapat kita bayangkan sebagai suatu pertumbuhan yang terdiri dari empat fase misalnya, maka ada baiknya umtuk mengadakan empat kali evaluasi selama jangka waktu satu tahun tadi.
Ini merupakan soal praktis yang banyak sedikitnya biasanya selalu diketahui oleh setiap pengajar. Dengan merenungkan sedikit sifat materi yang kita ajarkan biasanya kita akan dapat membangunkan gambaran semacam itu.
B. Langkah pengumpulan data
Soal pertama yang kita hadapu dalam melakukan langkah ini ialah menentukan data apa saja yang kita butuhkan untuk melakukan tugas evaluasi yang kita hadapi dengan baik. Seperti telah disinggung di muka dan kemudian disinggung kembali dalam uraian kita tentang langkah perencanaan di atas, soal penentuan data yang halus dikumpulkan untuk keperluan suatu tugas evaluasi ini berhubungan erat dengan rumusan tentang tugas evaluasi ini berhubungan erat dengan rumusan tentang tugas kita dalam suatu usaha pendidikan.
Kalau kita rangkumkan kembali uraiannya maka kita dapat jalan pikiran sebagai berikut: rumusan tentang tugas kita sebagai seorang pengajar dalam suatu usaha pendidikan menghasilkan ketentuan- ketentuan tentang tujuan yang harus kita capai dengan materi yang kita ajarkan. Rumus tentang tujuan yang harus kita capai ini setelah dianalisis menentukan aspek-aspek manakah dari sekuruh pertumbuhan seorang anak-anak sekelompok siswa terutama harus kita perhatikan dan manakah serta sampai ke taraf manakah pertumbuhan aspek-aspek ini harus kita arahkan.
Soal terakhir yang harus kita selesaikan lebih dahulu dalam langkah pengumpulan data ini ialah pemilihan alat-alat yang kita pergunakan. Untk penyelesaian soalini biasanya pengetahuan mengenai alat-alat yang telah tersedia akan merupakan suatu pegangan yang sangat berguna.
C. Langkah penelitian data
Penelitian data atau verifikasi data dan maksudnya ialah untuk memisahkan data yang “baik” yang akan dapat memperjelas gambaran yang akan kita peroleh mengenai individu atau sekelompok individu yang sedang kita evaluasi, dari data yang kurang baik yang hanya akan merusak atau mengaburkan gambaran yang akan kita peroleh apabila turut kita olah juga.pada langkah ini data yang teutama membutuhkan verifikasiini ialaha data yang kita terima dari pihak lain mengenai orang yang sedang dievaluasi jadi bukan data yang kita peroleh sebagai hasil observasi kita sendiri tehadap orang sedang dievaluasi tadi. Pernyataan ini tentu saja tidak berarti bahwa setiap data yang kita kumpulkan sendiri dapat dianggap sebagai data yang sudah pasti terjamin “kebaikannya”. Tentu saja kemungkinan selalu ada bahwa data yang kita peroleh sebagai hasil dari pemeriksaan langsung terhadap orang yang dievaluasi yang kita sebut data yang berasal dari sumber pertama mengandung pula keasalahan-kesalahan. Banyaknya factor yang dapat menyebabkan masuknya data yang mengandung kesalahan-kesalahan ini.
Tetapi oleh karena itu selalu menyadari baik-buruknya setiap data yang kita pergunakan untuk memperoleh data lengsung dari otak yang bersangkyutan tadi oleh karena dalam evalasi yang baik, kita selalu berusaha untuk hanya mempergunakan alat-alat yang sebaik-baiknya yang tersedia bagi kita. Oleh karena kita telah mempergunakan cara-cara pencatatan yang baik biasanya dengan telah dilakyukannya berbagai langkah pencegahan (precautious steps) semacam ini kita pun dapat merasa cukup pasti “akan kebaikan” atau “kebersihan” data yang langsung kita peroleh dari sumber pertama tadi.
Tetapi tidaklah demikian halnya dengan data yang kita peroleh dari sumber kedua atau sumber ketiga, yaitu data yang kita peroleh tentang seseorang atau sekelompok orang melalui orang lain yang langsung mengenai orang yang kita evaluai tadi. Dalam hal semacam ini banyaklah hal yang tidak kita ketahui tentang kebaikan atau kebenaran data yang diberikan kepada kita.
Dari uraian diatas kianya telah dapat diduga bahwa panjang-pendeknya suatu langkahpenelitian terhadap sekumpulan data ditentukan oleh berbagai factor. Ada kalanya proses penelitian itu berlangsung sebentar saja.
D. Langkah pengolahan data
Langkah pengolahan data dilakukan untuk memberikan “makna” terhadap data yang ada pada kita. Jadi hal ini berate bahwa tanpa kita olah,dan diatur lebih dulu data itu sebenarnya tidak dapat menceritakansuatu apa pun kepada kita. Fungsi pengolahan data yang telah disajikan hingga sekarang ini jelaslah kiranya fungsi penolahan data dalam proses evaluasi yang perlu disadari benar-benar pada taraf “pembicaraan kita sekarang ini ialah bahwa untuk memperoleh gambaran yang selengkap-lengkapnya tentang diri orang yang sedang dievaluasikan langkah pengolahan data ini merupakan keharusan.
E. Langkah penafsiran data
Kalau kita perhatikan segenap uraian yang telah disajikan mengenai langkah data tadi akan segera tampak pada kita bahwa memisahkan lankah penafsiran dari langkah pengolahan sebenarnya merupakan suatu pemisahan yang terlalu dibuat-buat. Memang dalam praktek kedua langkah ini tidak dipisah-pisahkan kalau kita melakukan suatu pengolahan terhadap sekumpulan data, dengan sendirinya kita akan memperoleh “tafsir” makna data yang kita hadapi. Sering terasa pada kita bahwa sesuatu telah terumuskan dengan jelas dalam pikiran kita tetapi kita tidak berhasil juga menemukan kata-kata yang dapat untuk isi pikiran tadi. Dalam situasi-situasi tertentu sering kita dapat lari ke suatu bahasa asing yang telah berhasil menciptakan lambing atau kata, terutama itu untuk isi pikiran semacam itu tetapi dalam situasi yang lain lagi berbahasa maupun kita hendak melarikan diri tetapi tidak dapat kita temukan kata-kata yang tepat. Dalam situasi yang terakhir ini kita mendapatkan diri kita dalam suatu keadaan oleh pikiran yang terkatan. Kalau hal yang tak terkatakan tadi sering muncul dalam pikiran kita, kita pun akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menemukankata yang tepat dan lahirlah sebagai hasil usaha semacam itu “kata-kata baru” istillah-istillah baru.
Introduksi di atas disajikan di sini untuk sekedar meminta perhatian pembaca terhadap kesulitan-kesulitan yang mungkinterjadi dalam rumusan tafsiaran yangf dapat diberikan terhadap sekumpulan data yang telah diolah.

F. Langkah meningkatkan daya serap peserta didik
Hasil pengukuran memiki fungsi utama untuk memperbaiki tingkat penguasaan peserta didik. Hasilpengukuran secara umum dapat dikatakan bisa membantu, memperjelas tujuan intruksional, menentukan kebutuhan pesertra didik, dan menentukan keberhasilan peserta didik dalam suatu proses pembelajaran. Perhatikan uraian berikut ini.
a. Memperjelas tujuan intruksional
Penyebutan tujuan intruksional yang rinci tidak selalu membawa hasil yang positif. Ada kalanya rincian ini membawa dampak yang kurang positif. Ada kalanya rincian ini membawa dampak yang kurang baik antara lain dapat menjemukan peserta didik, terlebih-lebih mereka yang kurang atau lambat, bisa menimbulkan ketegangan. Kedua, peserta didik menganggap untuk menghadapi ujian hanya tujuan intruksional inilah yang harus dipersiapkan, bukan semua pelajaran yang diperoleh selama ini. Ketiga, rincian intruksional dapat mematikankemungkinan untuk mengembangkan tujuan tersebut dalam proses pembelajaran. Padahal, dalam pembelajaran tujuan intruksional harus dikaitkan dengan berbagai metode yang memungkinkan tujuan tersebut mendalami materi dan meningkatkan kualitas proses berpikou, penanaman nilai dan keterampilannya. Inilah sebabnya dalam satuan pelajaran tidak perlu ditusemua tujuan intruksional yang ini dikembangkan tetapidipilih yang pokok dan yang penting saja.
b. Penilaian awal yang menentukan kebutuhan peserta didik
Penilaian awal ini bentuknya dapat dengan mempelajari catatan kemajuan dari sekolah asal, sebelum peserta didik mengikuti program yang dikembangkan dan atau melalui tes awal (pre-test) yang dikembangkan dan atau melalui tes (pre-test) yang dikembangkan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta tentang materi yang akan diberikan.
c. Memonitor kemajuan peserta didik
Monitoring kemajuan peserta didik selama proses pembelajaran bertujuan untuk mengarahkan peserta didik pada jalur yang membawa hasil-hasil belajar yang maksimal.monitoring dilaksanakan secara berkesinambungan dan terus menerus.

G. Laporan hasil penelitian
Pada akhir penggal waktu proses pembelajaran, antara lain akhir catur wulan, akhir semester, akhir tahun ajaran, akhir jenjang persekolahan diperlukan suatu laporan kemajuan peserta didik, yang selanjutnya merupakan laporan kemajuan sekolah. Laporan ini akan memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh anggota masyarakat khususnya orang tua peserta didik dapat tercapai.
a. Laporan kemajuan umum
Informasi tersebu tersebut terbuka untuk siapa saja yang berminat dengan sasaran utamanya adalah orang tua, anak didik dan masyarakat di sekitar sekolah.
b. Laporan kemajuan khusus
Disampaikan hanya pada orang tua dan peserta didik, karena laporan ini banyak menyangkut masalaj pribadi yang tabu untuk diketahui oleh orang lain.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
langkah-langkah pokok dalam melakukan evaluasi pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Langkah perencanaan (termasuk atau tidak termasuk perumusan kriterium, bergantung keadaan),
2. Langkah pengumpulan data.
3. Langkah persifikasi data.
4. Langkah pengolaan data.
5. Langkah penafsiran data, (didahului atau tidak didahului oleh perumusan kriterium revisi kriterium).
B. SARAN
Berkaitan dengan pembahasan makalah ini, maka pemakalah sekaligus menyarankan agar: Melalui pembahasan makalah ini, pemakalah mengharapkan dari semua pihak, terutama aktifis STAIN SAS Bangka-Belitung untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun. Agar kedepannya makalah yang dibuat akan menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Afdhee. “Evaluasi Program Pengajaran”. (online) avaible: http://Artikel: Evaluasi Program Pengajaran( diakses pada tanggal 6 november 2009)
Daryanto. Evaluasi pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2007
Fattah, Nanang. Landasan Manajemen PendidikN. Bandung: PT REmaja Rosdakarya 2004

Sabtu, 24 Oktober 2009

I'am Is The King

“Hidup itu diawali dengan kesenangan, dijalani dengan senyuman, dan diakhiri dengan kenikmatan”.
Banyak orang merasa diriku adalah orang biasa dalam artian dia bukan pemeran utama dalam kehidupan. Ya… mereka boleh beranggapan seperti itu, aku memang seperti orang yang biasa. Tapi tahukah mereka takdir menuntunku untuk menjadi Raja. Ya…. takdirku adalah menjadi Raja. Mereka boleh saja menertawakannya. Itu hak mereka. Tapi takdirku adalah menjadi seorang Raja.
Aku bukan Raja yang memerintah seperti kerajaan-kerajaan di masa silam. Karena sekarang tidak ada istananya (istana zaman dulu). Walaupun tidak ada istananya. Aku akan tetap mempunyai bangunan “istanaku” yang melambangkan kekuatan dan keagungan sebuah kerajaan masa depan untuk didiami oleh seorang raja.
Aku akan menjadi raja idaman yang melegenda dan akan selalu dikenang oleh rakyat-rakyatku. Aku akan selalu menyelesaikan masalah dengan penuh kebijaksanaan. Tidak akan ada satupun atau segelintirpun orang yang marah atau membenciku karena aku adalah seorang Raja bijaksana yang memiliki sifat yang baik, pengertian, ramah, dan tidak sombong. Semua orang mencintaiku dan menghormatiku. Begitu pula sebaliknya saya juga mencintai semua orang dan menghormatinya. Keluargaku tetap setia dan selalu menemaniku dalam keadaan suka atau duka selama aku masih hidup.
Aku dan kerajaanku tidak akan pernah goyang oleh keputusasaan, tidak pernah lemah terhadap cobaan, tidak pernah takut terhadap kehancuran, tidak pernah membuat seseorang bersedih karena tersiksa. Mereka hanya akan menangis karena kesenangan. Itulah kondidi kerajaanku. Dan aku adalah Raja.

alam semesta dalam paradigma filsafat islam

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
TENTANG ALAM SEMESTA DALAM PARADIGMA FILSAFAT ISLAM
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK IV
1. Rabian Syahbana NIM: 0711059
2. Rahmawati NIM: 0711060
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembahasan tentang alam semesta bertujuan mengingatkan kita semua agar tidak melupakan alam lingkungan tempat kita hidup. Sering kali gelora dan semangat eksplorasi ilmiah yang menggebu-gebu membuat manusia lupa akan ekosistem yang sudah teratur baik, yang merupakan penunjang bagi eksistensinya sejak awal kehadirannya di bumi sampai sekarang. Oleh karena itu, sedikit renungan akan dinamika alam mungkin akan bermanfaat sebagai salah satu unsur pelengkap dalam kita berfilsafat. Menurut teori ledakan besar (Big Bang Theory) yang mencoba menerangkan terciptanya alam semesta ini, matahari-matahari (benda-benda langit yang mengeluarkan cahaya sendiri dan posisinya relative tidak berubah karena relative tidak bergerak), yang juga dinamakan bintang sejati, terbentuk sebagai pecahan yang dilontarkan terlepas dari gumpalan massa yang besar sekali pada waktu terjadinya ledakan itu, kurang-lebih 10-20 milyar tahun yang lalu.
B. RUMUSAN MASALAH
Untuk mempelajari alam semesta dalam paradigma alam semesta, ada beberapa rumusan masalah yang akan dibahas diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan paradigma?
2. Apa yang dimaksud dengan alam semesta?
3. Bagaimana alam semesta menurut paradigma filsafat pendidikan islam?
4. Apa saja tujuan terciptanya alam semesta?
5. Apa saja fungsi penciptaan manusia dalam alam semesta?
BAB II PEMBAHASAN (ALAM SEMESTA DALAM PARADIGMA FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM)
A. PENGERTIAN PARADIGMA
Paradigma adalah daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklinasi kata atau model dulu teori ilmu pengetahuan atau bisa juga diartikan kerangka berpikir. Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah :
1. Cara memandang sesuatu.
2. Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari model-model ini fenomena dipandang dan dijelaskan.
3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu study ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.
4. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.
Dalam “The structure of Science Revolution”, Kuhn menggunakan paradigma dalam dua pengertian. Di satu pihak paradigma berarti keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukan sejenis unsur dalam konstelasi itu dan pemecahan teka-teki yang kongkrit yang jika digunakan sebagai model, pola, atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang masih tersisa. Paradigma merupakan suatu keputusan yudikatif dalam hukum yang tidak tertulis.
Secara singkat pengertian pradigma adalah Keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena). Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.
B. PENGERTIAN ALAM SEMESTA
Menurut kamus besar bahasa Indonesia alam adalah: 1) segala yag ada dilangit dan dibumi (seperti bumi, bintang, kekuatan); 2) lingkungan kehidupan, 3) segala sesuatu yang termasuk di satu lingkungan (golongan dan sebagainya) dan dianggap sebagai suatu keutuhan. 4) segala daya (gaya, kekuatan, dan sebagainya) yang menyebabkan terjadinya dan seakan-akan mengatur segala sesuatu yang ada didunia ini. 5) yang bukan buatan manusia. 6) semesta. 7) kerajaan, daerah, negeri. Menurut kamus besar bahasa Indonesia semesta adalah 1) seluruh, segenap, semuanya; semua yang ada di alam. 2) sluruh dunia, universal.
Pengertian alam menggambarkan sesuatu yang nyata, sederhana, dan terbuka untuk diamati. Alam: dunia atau alam semesta. Sedangkan pengertian alam semesta di kamus agama Islam yang dikarang oleh Sudarsono adalah langit, bumi, dan segala isinya, kejadian alam semesta ini termasuk adanya manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, malaikat, jin, setan dan sebagainya adalah hasil ciptaan Allah.
Ada dua pendapat lain tentang alam semesta. Yang pertama menganggap bahwa alam semesta merupakan kenyataan terakhir (the Ultimate Reality) dan tidak ada sesuatu apapun diluar dirinya. Sedang yang kedua (Spritualisme Panteistik) menganggap alam semesta sebagai cermin Tuhan yang tidak sempurna.
Sistem tata surya kita, terbukti hanya merupakan satu dari lebih kurang 200.000.000.000 (20 milyar) sistem tata surya di dalam galaksi kita, Bima Sakti; sedangkan galaksi kita sendiri juga hanyalah satu galaksi di alam raya ini. Alam semesta sendiri mengandung 200 milyar galaksi. Teleskop-teleskop yang sangt kuat telah berhasil menangkap cahaya yang berasal dari galaksi-galaksi yang jaraknya milyaran tahun cahaya dari bumi. Jauhnya jarak itu barangkali tidak dapat dibayangkan oleh kemampuan imajinasi manusia yang masih terbatas, bila kita ingat bahwa dalam 1,3 detik cahaya dapat menempuh jarak bumi-bulan (lebih kurang 400.000 km). dan ini baru satu universe. Dengan mengetahui kenyataan ini, mungkin kita dapat menyadari, betapa kecilnya kita, manusia ini, makhluk yang paling adikuasa di bumi. Betapa tak berartinya kita, meskipun telah mencapai kemampuan dan kemajuan yang baru saja kita bahas, dibandingkan dengan kesesmetaan alam raya yang begitu mempesona.
C. ALAM SEMESTA DALAM PARADIGMA FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Sering kali gelora dan semangat eksplorasi ilmiah yang menggebu-gebu membuat manusia lupa akan ekosistem yang sudah teratur baik, yang merupakan penunjang bagi eksistensinya sejak awal kehadirannya di bumi sampai sekarang. Oleh karena itu, sedikit renungan akan dinamika alam mungkin akan bermanfaat sebagai salah satu unsur pelengkap dalam kita berfilsafat. Menurut teori ledakan besar (Big Bang Theory) yang mencoba menerangkan terciptanya alam semesta ini, matahari-matahari (benda-benda langit yang mengeluarkan cahaya sendiri dan posisinya relative tidak berubah karena relative tidak bergerak), yang juga dinamakan bintang sejati, terbentuk sebagai pecahan yang dilontarkan terlepas dari gumpalan massa yang besar sekali pada waktu terjadinya ledakan itu, kurang-lebih 10-20 milyar tahun yang lalu.
Masalah alam semesta raya dalam Islam, adalah berdasarkan dengan firman Allah SWT: “yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang karena itu lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang . Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihtanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya kami telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang dan kami jadikan bintang-bintang dan kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang bernyala-nyala” (Al-Quran, Surah Al Mulk, ayat 3-5).
Zaman manusia saat ini telah mengarungi ruang angkasa luas, sudah terjadi-jadinya bulan buatan, dan stasiun-stasiun di udara. Ia tetap menjadi perangsang untukberiman kepada yang gaib, dan menjadi contoh yang paling tinggi bagi kelemahan manusia untuk berhadapan dengan “kodrat Ilahi Yang Maha Besar”.
“Tata surya kita” dalam “sistem orbit matahari” menurut pandangan Islam, mempunyai pandangan yang lebih luas lagi, sebab apa yang dikatakan langit bukannya hanya langit yang dalam istilah kebendaan (majasi) saja, tetapi ia mempunyai arti langit-langit yang lebih suci (langit-langit dalam arti ma’nawi atau dalam arti hakiki). Begitu juga mengenai masalah galaksi-galaksi dan Alam Semesta Raya seluruhnya. Sehingga menerbitkan pengertian kepada kita bahwa betapa maha agungNya Allah, sebagai Tuhan pencipta dan pemelihara alam semesta raya ini. Dan menanamkan pengertian kepada kita, betapa kecilnya diri kita ini sebagai makluk Tuhan. Sebab setelah kita ketahui rupanya masih banyak lagi ciptaan-ciptaan Tuhan yang besar-besar seperti matahari dan bintang-bintang yang jumlahnya tiada terkira dan ternyata. “Memang Tuhan sungguh Maha Besar dan Esa”.
D. TUJUAN TERCIPTANYA ALAM SEMESTA
Tujuan Tuhan menciptakan alam, kata Ibn Arab adalah agar Dia bisa melihat diri-Nya sendiri dalam suatu bentuk yang dengan itu nampak jelas asma dan sifatnya. Tuhan tidak terpisah dari dunia, ia adalah jiwa dunia, dan kita semua memiliki sebagian dari api Ilahi. Segala sesuatu adalah bagian dari satu system tunggal, yang disebut alami, kehidupan individu adalah baik jika selaras dengan alam. Dari segi tertentu, setiap kehidupan dalam keadaan selaras dengan alam. Dari segi tertentu, setiap kehidupan dalam keadaan selaras dengan alam, sebab hukum alamiah yang melahirkannya.
Pembahasan tentang alam semesta bertujuan mengingatkan kita semua agar tidak melupakan alam lingkungan tempat kita hidup.
Zat yang sifatnya paling umum tentu memilki realitas yang paling tinggi. Zat yang demikian itu adalah alam semesta. Alam adalah keseluruhan realitas. Oleh karena itu hakikat alam adalah satu, Esa. Tetapi di dalam esa itu dibedakan 4 bentuk, yaitu:
a) Alam yang menciptakan. Tetapi yang sendiri tidak diciptakan. Alam yang esa serta sempurna ini adalah Allah. Satu-satunya realitas, yang adalah hakikat segala sesuatu, yang jauh melebihi segala penentuan bahkan yang mengatasi segala “yang ada”.
b) Alam menciptakan, tetapi yang sendiri menciptakan.
c) Alam yang diciptakan, tetapi yang sendiri tidak menciptakan tekanan.perealisasian segala sesuatu di dalam dunia yang tampak ini.
d) Alam yang tidak diciptakan. Alam disini dipandang sebagai tujuan terakhir segala sesuatu, pengaliran kembali (remanasi) yang mengikuti pengaliran keluar (emanasi).
E. FUNGSI PENCIPTAAN MANUSIA DALAM ALAM SEMESTA
Manusia adalah makhluk Tuhan yang dicptakan dengan bentuk raga yang sebaik-baiknya (Q.S. At Tiin/95:4) dan rupa yang seindah-indahnya (Q.S. At Taghrabun/64:3) dilengkapi dengan berbagai organ psikofisik yang istimewa seperti panca indera dan hati (Q.S, An Nahl/6:78) agar manusia bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahi keistimewaan-keistimewaan itu. Secara lebih rinci keistimewaan-keisti-mewaan yang dianugerahkan Alllah kepada manusia antara lain adalah kemampuan berpikit untuk memahami alam semesta (Q.S, Ar Ra’d/13:3) dan dirinya sendiri (Q.S, Ar-Rum/30:20-21), akal untuk memahami tanda-tanda keagungan_nya (Q.S, Al Hajj/22:46), nafsu yang paling rendah (Q.S, Yusuf/12:53) sampai yang tertinggi kalbu untuk mendapatkan cahaya tertinggi (Q.S, Al Fajr/89:27-30), dan ruh yang kepadanya Allah SWT mengambil kesaksian manusia (Q.S, Al ‘Araa/7:72-74). Dalam Alquran dinyatakan bahwa Alllah SWT menciptakan manusia bukan secara main-main (Q.S, Al Mu’minuun/23:115), melainkan dengan suatu tujuan dan fungsi. Secara global tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklasifikasikan kepada dua, yaitu:
1. Khilafah
Salah satu implikasi terpenting dari kehalifahan manusia di muka bumi ini adalah pentingnya kemapuan untuk memahami alam semesta tempat ia hidup dan menjalankan tugasnya. Manusia memiliki kemungkinan untuk hal inidikarenakan kepadanya dianugerahkan Allah berbagai potensi. Di samping itu, alam semesta ini beserta apa-apa yang ada didalamnya adalah ciptaan Allah SWT untuk kepentingan ummat manusia secara keseluruhan (Q.S, Al Baqarah/2:29, An Nahl/16:8081, Luqman/31:20, Al Mulk/67:15). Karenanya merupakan tanggung jawabmoral manusia untuk mengolah dan memanfaatkan seluruh sumber-sumber yang tersedia di ala mini guna memenuhi keperluan hidupnya. Demikianpun perlu disadari bahwa kewenangan manusia untuk memanfaatkan alam semesta harus didasarkan kepada garis yang telah ditetapkan Allah SWT dan tidak boleh menyalahinya. Seperti tidak boleh merusak alam, tidak boleh mengeksploitasinya untuk kepentingan individu atau golongan, tidak boleh memanfaatkannya secara berlebih-lebihan dan hal-hal yang destruktif lainnya.
2. ‘Abd (Pengabdi Allah)
Secara luas, konsep ‘Abd sebenarnya meliputi seluruh aktivitas manusia dalam hidupnya. Islam menggariskan bahwa seluruh aktivitas seorang hamba selama ia hidup di alam semesta ini dapat dinilai sebbagai ibadah manakala aktivitas itu memang ditujukan semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Dalam konteks ini, manusia harus memahami bahwa sifat-sifat itu diberikan Tuhan adalah sebagai amanah,yaitu tanggung jawab yang besar yang pada suatu saat akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT. Untuk itu, manusia harus mendayakan gunakan potensi yang dianugerahkan kepadanya secara bertanggung jawab dalam rangka merealisasikan tujuan dan fungsi penciptaannya di ala mini, baik sebagai ‘abd maupun khilafah fi al-ardl.
Manusia, sebagai salah satu bagian alam raya, dengan potensi kreatif yang sudah menjadikannya seperti “setengah dewa” karena membawanya kepada kemampuanteknologi tinggi untuk mengendalikan dan memanfaatkan alam sekitarnya supaya mendatangkan kesejahteraan bagi hidupnya, sampai saat ini tetap belum dapat mengendalikan gejolak-gejolak bagian lainnya, yaitu bumi dengan segala komponen dan unsurnya. Manusia baru sampai pada taraf mampu meramalkan (dengan banyak koreksi) kemungkinan datangnya gejolak-gejolak itu sehingga dapat berikhtiar untuk mengurangi kerugian yang akan diakibatkannya; sedangkan usaha untuk membatalkan terjadinya bencana-bencana itu masih jauh dari memberikan hasil yang memuaskan.
Dari sudut pandangan yang lebih cerah kita melihat bahwa manusia sebenarnya sudah sangat maju dalam daya upaya memanfaatkan gejolak-gejolak alam itu sehingga, sebaliknya dari mendatangkan bencana, beberapa komponen dan unsure alam tersebut justru mendatangkan kesejahteraan. Dan ini dimungkinkan oleh adanya perwujudan dimensi kreatif manusia!.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Rasyidin dan Samsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press. 2005

Armsrong, Ammatullah. Kunci Memasuki Dunia Tasawuf. Bandung: Mizam Media Utama. 1996

Buika. Dunia Ingin Diselamatkan. Jakarta: Buika. 1982

Cooper, John. Ronald L. Nettier dan Mohamed Mahmoud. Pemikiran Islam (dari Sayyid Akhmad Khan hingga Nasr Hamid Abu Zayd). Jakarta: Erlangga. 2002

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2002

Mulyadi. Memahami hakikat Tuhan, alam,dan manusia. Jakarta: Nazar religious. 2007

R. Semiawan, Conny, I Made Putrawan, dan I Setiawan. Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2004

Russell, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002

Sudarsono. Kamus Agama Islam. Jakarta: Rineka Cipta. 2003

Sudarsono. Ilmu Filsafat suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta. 2008

Jumat, 23 Oktober 2009

pengertian bimbingan dan konseling

MAKALAH BIMBINGAN DAN KONSELING
TENTANG PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II
1. Ade dewinta NIM: 0711004
2. Hendri Sarmada NIM: 0711021
3. Rabian Syahbana NIM: 0711059
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Didalam keseluruhan proses pendidikan setidaknya ada 3 (tiga) komponen pokok yang paling menunjang dan harus dilaksanakan dalam pendidikan yaitu: program yang baik, administrasi dan supervisi yang lancar, serta pelayanan bimbingan yang terarah. Dari sini jelas bahwa bimbingan dan konseling mempunyai peran yang cukup penting didalam proses pendidikan. Sebagai salah satu komponen penunjang pendidikan, bimbingan dan konseling mempunyai posisi kunci didalam kemajuan atau kemunduran pendidikan. Mutu pendidikan ikut ditentukan oleh bagaimana bimbingan dan konseling itu dimanfaatkan dan dioptimalkan fungsinya dalam pendidikan, khususnya institusi sekolah.
Bimbingan dan konseling merupakan suatu layanan yang memberikan suatu pengembangan yang efektif kepada setiap individu yang berkaitan dengan pengembangan ketrampilan, pengetahuan, dan sikap dalam bidang pribadi-sosial, akademik, dan karir yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas-tugas perkembangan setiap individu. Setiap individu perlu mengembangkan diri nya supaya lebih dapat menggali potensi yang ada dalam dirinya untuk memperoleh hasil yang maksimal di masa yang akan datang.
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian tetang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908. Sejak itu muncul rumusan tetang bimbingan sesuai dengan perkembangan pelayanan bimbingan, sebagai suatu pekerjaan yang khas yang ditekuni oleh para peminat dan ahlinya. Pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli memberikan pengertian yang saling melengkapi satu sama lain.
Bimbingan dan konseling yang merupakan pelayanan dari, untuk, dan oleh manusia memiliki pengertian-pengertian yang khas. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai produser, cara dan bahan agar individu tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada produser wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
BAB II PEMBAHASAN (PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING)
A. PENGERTIAN BIMBINGAN
Menurut kamus bahasa Indonesia Bimbingan adalah petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu: tuntunan: pemimpin. Bimbingan merupakan terjemahan dari “Guidance” dalam bahasa inggris. Secara harfiah istilah “Guidance” dari kata “guide” berarti: (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3) mengelola (to manage), dan (4) menyetir (to sterer). Banyak pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya sebagai berikut:
Donald G. mortensen dan Alan M. scmuller (1976) mengemukakan bahwa: “Guidance may be definedas that part of the total educational program that helps provide the personal oppurtunities and specialized staff services by which each individual can develop to the fullest of his abilities and capacities in terms of the democratic idea”.
Sheetzer dan Stone (1971:40) mengartikan bimbingan sebagai “…process of helping an individual to understand himself and his world (proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri dan lingkungannya)”.
Sunaryo Kartadinata (1998:3) mengartikan sebagai “proses membantu Ibndividu untuk mencapai perkembangan optimal”. Sementara Roshman Natawidjaja (1987:37) mengartikan bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya, sehingga dia sanggup menarahkan dirinya dan bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntunan kehidupan pada umumnya. Dengan demikian dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya, dan dapat member sumbangan yang berarti kepada hidupnya, dan dapat member sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri sendiri optimal sebagai makhluk sosial.
Peraturan pemerintah no 29 tahun 1990 tentang pendidikan menengah dikemukakan bahwa 'bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan'.
B. PENGERTIAN KONSELING
Menurut kamus bahasa Indonesia konseling adalah (1) pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologi dan sebagainya; pengarahan; (2) pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah. Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-saxon. Istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan”.
Robinson (M. surya dan Rochman N., 1986:25) mengartikan konseling adalah “semua bentuk hubungan antara dua orangt, dimana yang seorang, yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya”. Suasana hubungan konseling ini meliputi, penggunaan wawancara untuk memperoleh dan memberikan berbagai informasi, melatih atau mengajar, meningkatkan kematangan, memberikan bantuan melalui pengambilan keputusan dan usaha-usaha penyembuhan. Shertzer dan Stone (1980) telah membahas berbagai definisi yang terdapat di dalam literature tentang konseling. Dari hasil bahasannya itu, mereka sampai pada kesimpulan bahwa: “Conseling is an process which facilitates meaning understanding of self and environment and result in the establishment and / or clarification of goals and values of future behavior”. ASCA (American School Counselor Assocation) mengemukakan bahwa: konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan kliennya mengatasi masalah-masalahnya.
C. HUBUNGAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Konsepsi bimbingan dan konseling ternyata mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pada awalnya istilah “bimbingan” berdiri sendiri da tidak mengandung di dalamnya pengertian konseling. Pada periode berikutnya istilah bimbingan dan konseling dipakai secara kebersamaan dan yang satu memuat yang lain. Pada perkembangan yang lebih lanjut istillah konselingberdiri sendiri dan sekaligus ia memuat pengertian bimbingan.
Hubungan bimbingan dan konseling sangat erat apalagi dalam hal pendidikan. Peran bimbingan dan konseling dalam meningkatkan mutu pendidikan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak hanya terbatas pada bimbingan yang bersifat akademik tetapi juga sosial, pribadi, intelektual dan pemberian nilai. Dengan bantuan bimbingan dan konseling maka pendidikan yang tercipta tidak hanya akan menciptakan manusia-manusia yang berorientasi akademik tinggi, namun dalam kepribaian dan hubungan sosialnya rendah serta tidak mempunyai sistem nilai yang mengontrol dirinya sehingga yang dihasilkan pendidikan hanyalah robot-robot intelektual, dan bukannya manusia seutuhnya. Dengan adanya bimbingan dan konseling maka integrasi dari seluruh potensi ini dapat dimunculkan sehinga keseluruhan aspek yang muncul, bukan hanya kognitif atau akademis saja tetapi juga seluruh komponen dirinya baik itu kepribadian, hubungan sosial serta memiliki niali-nilai yang dapatdijadiakn pegangan.
Jadi, dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa peran bimbingan dan konseling didalam meningkatkan mutu pendidikan terletak pada bagaiaman bimbingan dan konseling itu membangun manusai yang seutuhnya dari dberbagai aspek yang ada didadalam diri peserta didik. Karena seperti diawal telah dijelaskan bahwa pendidikan yang bermutu bukanlah pendidikan yang hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tetapi juga harus meningaktkan profesionalitas dan sistem manjemen, dimana kesemuanya itu tidak hanya menyangkut aspek akademik tetapi juga aspek pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai. Peran BK dalam keempat aspek inilah yang menjadikan bimbingan konseling ikut berperan dalam peningkatan mutu.
Sesuai dengan tingkat perkembangan budaya manusia, muncullah kemudian upaya-upaya bimbingan yang selanjutnya disebut bimbingan formal. Bentuk, isi dan tujuan, serta aspek-aspek penyelenggaraan bimbingan (dan konseling) formal itu memiliki rumusan yang nyata. Bentuk nyata dari gerakan bimbingan (dan konseling) yang formal berasal dari Amerika Serikat yang telah dimulai perkembangannya sejak Frank Parson mendirikan sebuah badan bimbingan yang disebut Vocational Bureau di Boston pada tahun 1908. Badan itu selanjutnya diubah namanya menjadi Vocational Guidance Bureau (Jones, 1951). Usaha Parson inilah yang menjadi cikal-bakal pengembangan gerakan bimbingan (dan konseling) di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, dalam rangka lebih memahami pengertian bimbingan (dan konseling) perlu ditinjau pengertian bimbingan (dan konseling) secara lebih luas untuk dijadikan pangkal tolak bagi pembahasan seluk beluk bimbingan dan konseling lebih jauh.
Konsep bimbingan dan konseling perkembangan mengandung implikasi bahwa target layanannya menjadi tidak sebatas individu saja, melainkan akan tertuju kepada semua individu dalam berbagai kehidupan di dalam masyarakat. Perkembangan yang sehat atau optimal dalam pengembangan perilaku efektif harus terjadi pada setiap diri individu dalam berbagai tatanan lingkungan. Dengan demikian bimbingan dan konseling menjadi terarah kepada upaya membantu indvidu untuk lebih menyadari dirinya dan cara-cara ia merespon lingkungannya, mengembangkan kebermaknaan pribadi dalam perilakunya dan mengembangkan serta mengklasifikasi perangkat tujuan dan nilai-nilai perilaku pada masa yang akan datang. Strategi layanan bimbingan dan konseling menjadi terarah kepada upaya menata dan menciptakan ekologi perkembangan atau lingkungan belajar yang memfasilitasi perkembangan individu.
Miller (1961) dalam Surya (1988), menyatakan bahwa bimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu untuk menyampai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah (dalam hal ini termasuk madrasah), keluarga dan masyarakat. Konseling adalah sebuah penemuan abad ke-20 yang indah. Saat ini, kita hidup dalam dunia yang kmpleks, sibuk, dan terus berubah. Di dunia ini, ada banyak pengalaman yang sulit dihadapi oleh seseorang.
Hubungan bimbingan dan konseling pelayanan dapat juga disebut sebagai Bantuan untuk peserta didik baik individu / kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal dalam hubungan pribadi sosial belajar, karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung atas dasar norma-norma yang berlaku.
D. LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Bimbingan dan konseling mempunyai enam landasan yang terdiri dari landasan filosofis, landasan religious, landasan psikologis, landasan sosial budaya, landasan ilmiah dan teknologi, dan landasan pedagogis.
1. Landasan filosofis
Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi serangkaian kegiatan atau tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tindakan yang bijaksana. Untuk itu diperlukan pemikiran filosofis tentang berbagai hal yang bersangkut-paut dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Pemikira dan pemahaman filosofis menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan bagi konselor pada khususnya, yaitu membantu konselor dalam memahami situasi konselingdan dalam filosofis juga memungkinkan konselor menjadikan hidupnya sendiri lebih mantap, lebih fasilatif, serta lebih efektif dalam penerapan upaya pemberian bantuannya (Belkin, 1975). Disin akan diuraikan beberapa pemikiran filosofis yang selalu terkait dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu tentang hakikat manusia, tujuan dan tugas kehidupan.
2. Landasan Religius
Dalam pembahasan lebih lanjut tentang landasan religious bagi layanan bimbingan dan konseling perlu ditekankan tiga hal pokok, yaitu:
(a) Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk Tuhan,
(b) Sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan kea rah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama, dan
(c) Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dan meneguhkan keidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah individu.
3. Landasan psikologis
Landasan psikologis dalam bimbingan dan konselingberarti memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku pasien, yaitu tingkah laku klien yang perlu diubah atau dikembangkan apabila ia hedak magatasi masalah-masalah yang dihadapinya atau ingin mencapai tujuan-tujuan yang dikehendakinya.
Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologis perlu dikuasai, yaitu tentang:
(1) Motif dan motivasi,
(2) Pembawaan dasar dan lingkungan,
(3) Perkembangan dan individu,
(4) Belajar, balikan dan penguatan, dan
(5) Kepribadian.

4. Landasan Sosial Budaya
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah dapat hidup seorang diri. Dimana pun dan bilamana pun manusia hidup senantiasa membentuk kelompok hidup terdiri dari dari sejumlah anggota guna menjamin baik keselamatan, perkembangan, maupun keturunan. Dalam kehidupan berkelompok itu, manusia harus mengembangkan ketentuan yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing individu sebagai anggota demi ketertiban pergaulan sosial mereka. Ketentuan-ketentuan itu biasanya berupa perangkat nilai, norma sosial maupun pandangan hidup yang terpadu dalam system budaya yang berfungsi sebagai rujukan hidup para pendukungnya. Rujukan itu, melebihi proses belajar, diwariskan kepada generasi penerusyang akan melestarikannya. Karena itu masyarakat dan kebudayaan itu sesungguhnya merupakan dua sisi dari mata uang yang sama (Budhi Santoso, 1992), yaitu generasi tua sebagai pewaris dan sisi generasi muda sebagai penerus.
5. Landasan ilmiah dan teknologi
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan professional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori-teorinya, pelaksanaan kegiatannya, maupun pengembangan-pengembangan pelayanan itu secara berkelanjutan.
6. Landasan pedagogis
Pada bagian ini pendidikan akan ditinjau sebagai landasan bimbingan dan konseling dari tiga segi, yaitu pendidikan sebagai upaya pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, dan pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan pelayanan bimbingan dan konseling.
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu dari seorang yang ahli, namun tidak sesederhana itu untuk memahami pengertian dari bimbingan. Pengertian tetang bimbingan formal telah diusahakan orang setidaknya sejak awal abad ke-20, yang diprakarsai oleh Frank Parson pada tahun 1908.
konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan kliennya mengatasi masalah-masalahnya.
Hubungan bimbingan dan konseling sangat erat apalagi dalam hal pendidikan. Peran bimbingan dan konseling dalam meningkatkan mutu pendidikan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak hanya terbatas pada bimbingan yang bersifat akademik tetapi juga sosial, pribadi, intelektual dan pemberian nilai. Dengan bantuan bimbingan dan konseling maka pendidikan yang tercipta tidak hanya akan menciptakan manusia-manusia yang berorientasi akademik tinggi, namun dalam kepribaian dan hubungan sosialnya rendah serta tidak mempunyai sistem nilai yang mengontrol dirinya sehingga yang dihasilkan pendidikan hanyalah robot-robot intelektual, dan bukannya manusia seutuhnya.
Bimbingan dan konseling mempunyai enam landasan yang terdiri dari landasan filosofis, landasan religious, landasan psikologis, landasan sosial budaya, landasan ilmiah dan teknologi, dan landasan pedagogis.
B. SARAN
Berkaitan dengan pembahasan makalah ini, maka pemakalah sekaligus menyarankan agar: Melalui pembahasan makalah ini, pemakalah mengharapkan dari semua pihak, terutama aktifis STAIN SAS Bangka-Belitung untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun. Agar kedepannya makalah yang dibuat akan menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2002

Mc Lead, John. Pengantar Konseling Teori Dan Studi Kasus (Edisi Ketiga). Jakarta: Prenada Media Group, 2003

Prayitno dan Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta: rineka cipta. 2004

Tohirin. Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madasah (Bebasis Integrasi). Jakarta: PT Raja Grafindo persada. 2007

Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsa., Landasan bimbingan dan konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006

Anonimus. “ Bimbingan dan Konseling”. (online) avaible: http://my.opera.com/DR_TM/blog/index.dml/tag/BIMBINGAN%20DAN%20KONSELING (diakses padatanggal 9 Oktober 2009)

Anonimus. “Bimbingan dan Konseling”. (online) avaible: http://karimanurfitria.blog.friendster.com/2009/02/bimbingan-konseling-perkembangan_punya-karima_/ (diakses pada tanggal 9 Oktober 2009)

Anonimus. “Pengertian Bimbingan”. (online) avaible: http://eko13.wordpress.com/2008/03/16/pengertian-bimbingan/ (diakses pada tanggal 9 Oktober 2009)

Anonimus. “Peran BK dalam meningktakan mutu pendidikan”. (online) avaible: http://luthfis.wordpress.com/2008/04/21/peran-bk-dalam-meningkatkan-mutu-pendidikan/ (diakses pada tanggal 9 Oktober 2009)

Anonimus. “NT”. (online) avaible: http://winithepooh.multiply.com/journal/item/7 (diakses pada tanggal 9 Oktober 2009)