Sabtu, 25 Desember 2010

Antropologi Sosial Budaya






NAMA                        : HENDRI
NIM                            : 0711022
MATA KULIAH       : ANTROPOLOGI BUDAYA
Tugas Resume Antropologi

1.      Pendahuluan
Pokok bahasan antropologi yang akan dikaji mencakup: 1) antropologi dan cabang-cabangnya; 2) metode-metode antropologi; 3) orientasi teoritis; 4) konsep kebudayaan; 5) kepribadian; 6) kekerabatan dan organisasi sosial; 7) agama; 8) sistem politik; 9) sistem ekonomi; 10) antropologi dan pembangunan.

2.      Antropologi dan Cabang-cabangnya
Menurut Koentjaraningrat ruang lingkup dan objek kajian antropologi yaitu masalah asal usul dan perkembangan manusia secara biologi, masalah sejarah terjadinya aneka ragam manusia dilihat dari sudut pandang fisiknya, masalah penyebaran dan perkembangan keanekaragaman bahasa yang digunakan, masalah perkembangan dan dan terjadinya keanekaragaman kebudayaan manusia, dan masalah asas-asas dari kebudayaan manusia dalam masyarakat dari suku-suku bangsa.
Sejarah dan perkembangan antropologi menurut Koentjaraningrat dibagi kepada empat fase, yaitu:
1.      Fase pertama (sebelum 1800) sebagai fase awal penyusunan etnografi dalam pengertian lukisan tentang suku-suku bangsa. Berawal dari kedatangan bangsa Eropa di Asia, Afrika dan Amerika akhir abad 15 dan awal abad 16. Mereka adalah para musafir, pelaut, pedagang, pegawai pemerintah colonial dan penyebar agama nasrani. Mereka biasanya membuat catatan dan laporan perjalanan dan kegiatan mereka tentang adat istiadat, ciri-ciri fisik, bahasa dan aspek-aspek lain suku-suku bangsa yang ditemui. Pada abad 18 laporan dan catatan tentang kehidupan suku bangsa tersebut menarik perhatian dan menjadi bahan kajian kaum terpelajar di Eropa. Pada awal abad 19 perhatian terhadap etnografi tersebut semakin besar dan muncul keinginan untuk mengintegrasikan seluruhnya menjadi satu.
2.      Fase kedua adalah pertengahan kedua abad 19 yang melahirkan penyusunan etnografi berdasarkan kerangka piker evolusi. Pada masa ini, ilmuan banyak dipengaruhi oleh kerangka pikir evolusi bahwa masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara bertahap dan dalam waktu lama dari yang sederhana menuju yang kompleks dan bangsa Eropa adalah bangsa yang memiliki kebudayaan yang tertinggi sementara yang lainnya dianggap primitif dan dan sisa-sisa kebudayaan zaman dulu. Pada fase ini, antropologi telah menjadi disiplin ilmu yang dipelajari secara akademik di perguruan tinggi khususnya di Eropa dengan munculnya karangan-karangan yang mengkaji penyebaran kebudayaan manusia.
3.      Fase ketiga (awal abad 20) adalah periode di mana pihak penguasa colonial Eropa dan misionaris mendorong orang-orang untuk melakukan ekspedisi ke Australia, Amerika Latin, Asia, dan Afrika untuk kepentingan pemerintah dan gereja. Mereka beranggapan bahwa studi tentang masyarakat dan kebudayaan daerah jajahan sangat bermamfaat dalam rangka mendidik, mengontrol dan menguasai daerah tersebut.
4.      Fase keempat (sejak 1930) ilmu antropologi mengalami perkembangan yang pesat baik dari segi hasil studi dan penelitian maupun dari segi metode ilmiah. Penelitian antropologi tidak lagi terfokus pada suku-suku bangsa primitive tetapi juga pada suku-suku bangsa pedesaan dan penduduk kota kecil.
Cabang-cabang ilmu antropologi yaitu:
·         Antropologi biologi
·         Antropologi budaya dibagi menjadi arkeologi/prehistory, antropologi linguistic, etnologi, antropologi spesialisasi (antropologi ekonomi, politik, kependudukan, kesehatan, pendidikan, perkotaan, agama, turisme dan ekologi), etno psikologi, dan antropolgi terapan terapan.

3.      Metode-metode Antropologi
Antropologi memiliki hubungan paling erat dengan sosiologi, akan tetapi antropologi dan sosiologi berbeda dilihat dari perbedaan sejarah dan asal usul, objek kajian dan metode ilmiah. Selain dengan sosiologi, antropologi juga mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain. Tujuan antropologi budaya yaitu etnologi (penjelasan, perbandingan dan klasifikasi) dan etnografi (deskripsi).
Dengan demikian, secara keseluruhan, metode penelitian antropologi dapat dibagi menurut ruang atau wilayah dan menurut cakupan waktu.

4.      Orientasi Teoritis
Dalam ilmu antropologi terdapat beberapa orientasi teoritis yaitu:
1.      Evolusionisme. Berkembang pada akhir abad 19, tokoh utamanya adalah E.B Taylor (1832-1917) dengan karyanya yang berjudul primitive culture yang terbit pertama kali pada tahun 1871 dan Lewis Henry Morgan (1818-1881) dengan karyanya yang terkenal yaitu ancient society yang diterbitkan pada tahun 1877. Taylor berpandangan bahwa kebudayaan manusia berkembang dari yang sederhana menuju yang kompleks. Menurutnya evolusi budaya tersebut melewati tiga tahap yaitu tahap keliaran, kebiadaban dan peradaban. Sedangkan menurut Morgan tingkat evolusi tersebut dapat dikembangkan secara lebih rinci menjadi zaman liar tua, liar madya, liar muda, barbar tua, barbar madya, barbar muda, peradaban purba dan peradaban masa kini.
2.      Difusionisme. Teori ini popular pada akhir abad 19 dan abad 20. Tokoh utama difusionisme Inggris adalah G. Eliot Smith (1871-1937), William J.Perry (1887-1949) dan W.H.R. Rivers (1864-1922). Mereka berpendapat bahwa pada hakikatnya sebagian besar manusia tidak menciptakan hal-hal baru tetapi hanya meminjam aspek-aspek kebudayaan orang lain yang telah ada. Adapun tokoh difusionisme di Jerman dan Austria adalah Fritz Graebner (1877-1934) dan Peter Wilhelm Schmidt (1868-1954). Mereka berpandangan bahwa cirri khas kebudayaan tertua di dunia dapat direkonstruksikan dari unsure-unsur kebudayaan yang masih dipertahankan masyarakat primitive sebagai masyarakat paling tua. Adapun tokoh difusionisme di Amerika adalah Clark Wissler (1879-1947) dan Alfred Kroeber (1876-1960). Mereka berpendapat bahwa cirri-ciri kebudayaan yang khas terdapat dalam wilayah kebudayaan bersumber dari suatu pusat kebudayaan.
3.      Partikularisme historis. Aliran ini dibangun oleh bapak antropologi Amerika, Franz Boas (1858-1942). Boaz berpandangan bahwa cirri-ciri kebudayaan harus dipelajari dalam konteks masyarakat tertentu. Boas menyatakan bahwa unsure-unsur suatu budaya merupakan produk proses histori yang rumit dan banyak melibatkan penyebaran serta pengambialihan perangai serta komlpeks perangai dari budaya lain di sekitarnya.
4.      Structural fungsionalisme. Dipelopori oleh Bronislaw Malinowski (1884-1942) dan Arthur Reginald Radcliffe-Brown (1881-1955). Malinowski berasumsi bahwa semua unsure kebudayaan memiliki fungsi penting dan memenuhi beberapa fungsi mendasar bagi keseluruhan kebudayaan yang bersangkutan. Sedangkan Radcliffe-Brown berpandangan bahwa aspek-aspek perilaku social masyarakat, bukan untuk memenuhi kebutuhan individu.
5.      Antropologi psikologi. Pada awal tahun 1920-an di Amerika muncul ketertarikan di kalangan beberapa antropolog untuk mengkaji hubungan antara kebudayaan dan kepribadian. Salah satu tokoh antropog ini yaitu Ralph Linton. Antropologi psikologi berusaha memahami hubungan antara kebudayaan dan hakikat manusia, hubungan antara kebudayaan dan kepribadian manusia, dan hubungan antara kebudayaan dan tipe kepribadian khas masyarakat. Antropologi psikologi juga berusaha memahami factor-faktor dan proses psikologis terhadap praktik-praktik budaya.
6.      Strukturalisme. Aliran strukturalisme dibangun oleh antropolog Prancis Claude Levi-Strauss. Ia berpendapat bahwa kebudayaan manusia sesungguhnya merupakan perwakilan lahiriah dari struktur pikiran manusia yang mendasarinya. Selain itu strukturalisme berkembang pada 1960-an dengan tokohnya yang paling berpengaruh adalah Mery Douglas melalui bukunya, purity and danger. Dia berpendapat bahwa ajaran kitab suci tentang ketidakmurnian dapat diluminasikan dengan mengkaji posisi yang murni dan yang tidak murni dalam agama yang dianut masyarakat berskala kecil.
7.      Materialisme Dialektika. Aliran ini pertama kali diusung oleh Karl Marx pada pertengahan abad 19. Salah satu antropolog terkenal yang dipengaruhi oleh aliran ini yaitu Marshall Sahlins. Tujuan materialisme dialektika adalah penjelasan tentang alasan terjadinya perubahan dan perkembangan system social budaya yang berfokus pada asumsi bahwa struktur dan ideology suatu masyarakat ditentukan oleh mode produksi.
8.      Materialisme cultural. Aliran ini pertama kali dikembangkan oleh Leslie White dan Julian Steward. Kajian aliran ini adalah penjelasan tentang cara-cara manusia dengan sarana kebudayaan yang dimilikinya memanipulasi dan membentuk ekosistem sendiri.
9.      Etnosains. Aliran ini berkembang di Amerika pada 1950-an dan 1960-an. Tokoh utamanya adalah Harold Conklin, Ward Goodenough dan Charless Frake. Aliran ini memandang bahwa kebudayaan sebagai kognisi manusia atau melihat kaitan antara bahasa, kebudayaan dan kognisi manusia.
10.  Antropologi simbolik. Tokohnya adalah Clifford Geertz. Aliran ini berasumsi bahwa kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia yang dijadikan sebagai pedoman atau penginterpretasi keseluruh tindakan manusia yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat tersebut. Aliran ini berupaya untuk mengungkapkan cara-cara simbolik di mana manusia secara individual dan kolektif memberikan makna kepada kehidupannya.
11.  Sosiobiologi. Dikembangkan oleh Edward Wilson sesuai dengan bukunya sociobiology yang terbit pada 1975. Wilson berpendapat bahwa penerapan prinsip-prinsip Darwin memungkinkan untuk menjelaskan kebudayaan. Sosiobiologi kemudian dikembangkan oleh antropolog Robin Fox yang berpandangan bahwa masyarakat itu memiliki dasar-dasarnya dalam sosialitas hewan.

5.      Kebudayaan
Untuk memahami konsep kebudayaan dalam antropologi, dapat diuraikan menurut orientasi teoritis yang berkembang dalam antropologi yaitu kebudayaan sebagai kemajuan evolusi, proses historis, system fungsional, konfigurasi kepribadian, system struktur, system kognitif, system symbol, dan system adaptasi. Beranjak dari berbagai macam definisi kebudayaan yang berkembang dalam antropologi, ada tiga wujud kebudayaan menurut J.J Honigmann yaitu, ide, aktivitas dan artifak. Wujud kebudayaan sebagai kompleks ide menghasilkan suatu system yang disebut system budaya. Wujud kebudayaan dalam aktifitas menghasilkan system social. Sedangkan wujud kebudayaan artifak menghasilkan benda-benda atau bangunan yang merupakan wujud paling konkret.
  Wujud ideal kebudayaan disebut juga adat karena fungsinya sebagai pengatur kelakuan. Adat dapat dibagi menjdai empat tingkatan yakni, tingkat nilai budaya, norma-norma, hukum, dan tingkat aturan khusus. Ada beberapa pranata dalam masyarakat yang mencakup yaitu, pranata yang bertujuan untuk berkeluarga dan berkerabat, memproduksi, menyimpan dan mendistribusikan barang, pendidikan, rekreasi, berhubungan dengan tuhan dan alam, berkelompok, dan kebutuhan jasmani manusia.
Koentjaraningrat mengemukakan tujuh unsure kebudayaan universal yakni, bahasa, system pengetahuan, organisasi social, system peralatan hidup dan tekologi, system mata pencaharian hidup, system religi dan kesenian.

6.      Kepribadian.
Kepribadian yaitu cirri watak khas individu, yang bersifat konsisten dan berlangsung lama, yang tidak dimiliki oleh individu lain. Keesing menegaskan bahwa kepribadian mengandung beberapa dimensi yaitu, dimensi pengetahuan tentang cara bermasyarakat, identitas individu sebagai masyarakat, dan komponen biologis yang dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi kepribadian merupakan hasil dari interaksi antara warisan genetic dan pengalaman hidup.
Adapun unsure-unsur kepribadian yaitu pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri. Ada dua konsep utama yang dianggap melahirkan pembentukan kepribadian yakni sosialisasi dan enkulturasi. Melalui kedua proses itulah pengaruh orangtua, kerabat dan lingkungan, tampak dalam pembentukan kepribadian. Adapun factor-faktor lainnya adalah fisik manusia, lingkungan, dan pengalaman pribadi individu itu sendiri. Ada tiga aliran teori tentang pembentukan kepribadian yakni teori konflik, teori pemenuhan dan teori konsistensi.

7.      Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Kekerabatan diartikan sebagai hubungan berdasarkan keturunan dan pernikahan. Ada dua bentuk kerabat yakni kerabat yang diakui memiliki hubungan darah secara biologis dan kerabat yang memiliki hubungan secara legal memalui pernikahan. Organisasi social adalah produk kodrat manusia karena setiap individu dan kelompok selalu berusaha sekuat-kuatnya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya demi mencapai kemakmuran. Kekerabatan memiliki kaitan yang erat dengan organisasi social yang berfungsi menunjukkan manifestasinya dalam aktivitas kolektif dalam rangka melakukan sosialisasi dan pendidikan dan dalam rangka mempertahankan eksistensinya.
Unsure penting dalam kekerabatan adalah keluarga yaitu, kelompok manusia yang terikat oleh ikatan perkawinan, ikatan darah, yang membentuk sebuah rumah tangga yang saling bertindak dan berhubungan dalam masing-masing peranannya yang membentuk dan memelihara kebudayaan. Terdapat lima unsure penting keluarga dilihat dari sudut pembentukannya yaitu adanya hubungan seks antara pasangan, adanya pranata social yang mengesahkan hubungan seks antara suami dan istri, adanya system nomenklatur, adanya fungsi ekonomi dan adanya tempat tinggal yang sama.
Perkawinan merupakan bentuk hubungan antara laki-laki dan perempuan yang diakui keabsahannya. Perkawinan memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan seksual manusia, untuk memperlancar pelayanan domestic dan ekonomi, memberikan legitimasi bagi posisi anak dalam masyarakat, menspesifikasi hal atas harta dan warisan dan membina hak-hak dan kewajiban kelompok.
Ada dua bentuk aturan dalam perkawinan yaitu endogamy dan eksogami. Ada beberapa jenis perkawinan yakni monogamy, poligini, poliandri, dan perkawinan kelompok. Dalam perkawinan terjadi pertukaran dan transaksi hak dan kewajiban yang berfungsi mengikat kelompok-kelompok yang bersangkutan dalam aspek ekonomi maupun politik. Ada beberapa jenis barang yang umum berlaku dalam perkawinan yaitu barang yang diberikan kepada kelompok kerabat pengantin perempuan oleh pihak pengantin laki-laki, barang yang diberikan kepada pengantin perempuan oleh pihak pengantin laki-laki, tukar menukar barang oleh masing-masing kedua kerabat yang diikat oleh tali perkawinan, dan periode di mana pengantin laki-laki bekerja dengan dan untuk keluarga dekat pengantin perempuan.
Kelompok dapat diartikan sebagai sejumlah orang yang memiliki objek perhatian yang sama, saling melakukan stimuli dan mempunyai loyalitas serta berpartisipasi dalam kegiatan yang sama. Ada banyak factor tumbuh dan berkembangnya asosiasi-asosiasi yakni urbanisasi, factor ekonomi, dan spesialisasi dalam masyarakat kompleks. Asosiasi memiliki beberapa cirri yaitu memiliki tujuan dan fungsi yang jelas, nama asosiasi, status asosiasi, otoritas, system calon anggota, system hak milik, identitas dan lambang asosiasi.

8.      Agama
Teori tentang agama dalam antropologi dan sosiologi dapat dikelompokkan ke dalam beberapa tipe yaitu:
1.      Evolusi agama. Teori ini berkenaan dengan asal usul agama, khususnya dikemukakan oleh tokoh pendekatan evolusionisme seperti Taylor yang menjelaskan asal usul agama sebagai evolusi pertama dengan menyatakan bahwa animisme adalah bentuk agama yang paling primitive. Evolusi kedua, manusia meyakini adanya jiwa yang menggerakkan berbagai peristiwa dan gejala alam yang dipersonifikasikan dalam bentuk dewa-dewa. Evolusi ketiga, dewa-dewa tersebut juga memiliki susunan mulai dari dewa tertinggi sampai yang paling rendah. Dan evolusi yang terakhir yaitu di mana muncul kesadaran bahwa dewa-dewa tersebut pada dasarnya hanya jelmaan dari satu dewa dan akhirnya lahirlah keyakinan kepada satu tuhan atau monoteisme. Akan tetapi bagi Schmidt, agama paling primitive adalah monoteisme tetapi kemudian muncul kepercayaan politeisme yang dipengaruhi oleh kebudayaan pertanian. Sementara itu Frazer berpendapat bahwa magi atau ilmu gaib adalah bentuk agama yang paling dasar karena magi merupakan praktik universal yang dilaksanakan semua masyarakat sebelum mengenal agama.
2.      Sosiologi agama Durkheim. Teori ini dikemukakan oleh sosiolog prancis yaitu Emile Durkheim. Durkheim melihat bahwa agama adalah bagian dari masyarakat dan masyarakat menjadi sumber yang sesungguhnya dari asal usul fenomena agama. Definisi agama menurut Durkheim yaitu agama adalah suatau system kesatuan dari keyakinan dan praktek-praktek yang bersifat relative terhadap hal-hal yang sacral dan keyakinan-keyakinan dan praktek-praktek yang mengajarkan moral yang tinggi ke dalam suatu komuniti di mana semua orang mengidentitaskan diri padanya. Durkheim juga memandang agama sebagai sumber peradaban manusia.
3.      Sosiologi agama Weber. Teori ini berasal dari Max Weber, dengan tema-tema pokok sosiologi agamanya yaitu gagasan tentang rasionalisasi, peningkatan sistematisasi ide dan konsep keagamaan, perkembangan rasionalitas etis dan kemunduran ritual dan elemen-elemen magis pada agama.
4.      Agama dari pendekatan psikoanalisis. Teori ini dikembangkan oleh ahli psikologi Jerman Sigmund Freud. Freud berpendapat bahwa praktik gama di kalangan masyarakat berskala kecil merupakan manifestasi simbolik dari dorongan psikologis tak sadar.
5.      Agama dari pendekatan fungsionalisme. Teori ini dipelopori oleh A.R. Radcliffe-Brown dengan menggunakan pendekatan fungsionalisme strukturalnya Bronislow Malinowski. Menurut Radcliffe-Brown, keyakinan dan praktik agama harus dilihat sebagai bagian dari system yang kompleks tentang keteraturan hidup masyarakat.
6.      Agama dari pendekatan simbolik. Salah satu tokoh teori ini adalah Clifford Geertz yang mengatakan agama pada dasrnya merupakan suatu system cultural yang memberikan makna dalam eksistensi manusia dan memiliki fungsi universal dalam memberikan makna tersebut.
System agama memiliki beberapa unsure yakni emosi keagamaan, system keyakinan, umat beragama, system ritual dan upacara keagamaan, serta sarana dan peralatan keagamaan. Secara sosiologis dan antropologis umat beragama berwujud keluarga inti terbatas, kekelompok kekerabatan lebih luas, kesatuan komunitas dan organisasi keagamaan. Wallace berpandangan bahwa terdapat keterkaitan yang erat antara agama dan revitalisasi yaitu agama berperan penting dalam proses revitalisasi tetapi pada sisi lain agama berasal dari proses revitalisasi.
Revitalisasi terjadi karena munculnya pemimpin karismatik yang ingin melakukan perubahan dan revitalisasi masyarakat dalam cara-cara tertentu dan terjadi pada saat masyarakat mengalamai disintegrasi social dan ekonomi. Revitalisasi pada umumnya mengikuti sejumlah tahap fungsional yaitu reformulasi, komunikasi, organisasi, adaptasi, transformasi cultural dan rutinisasi.

9.      Sistem Politik
Aktivitas politik suatu masyarakat merupakan bagian dari fenomena social budaya masyarakat tersebut. Kajian ini dinamakan antropologi politik yang berkembang sejak tahun 1940 dengan tokohnya M. Fortes dan E.E. Evans-Pritchard. Yang menjadi focus antropologi politik adalah proses politik yang melibatkan upaya pencapaian tujuan dan penggunaan kekuasaan di kalangan anggota masyarakat. Hakikat politik memiliki beberapa karakteristik yaitu politik bersifat public, berkenaan dengan tujuan atau keuntungan dan mencakup perbedaan kekuasaan di antara anggota-anggota masyarakat.
Pembagian masyarakat kepada pemerintahan (dengan Negara) dan pemerintahan (tanpa Negara) dapat dikembangkan menjadi tiga bentuk pemerintahan yaitu pemerintahan minimal pada level terendah yang memiliki kekuasaan dan otoritas, berdasarkan pada prinsip bahwa laki-laki dewasa sebagai pemegang otoritas, dan berdasarkan kekuasaan terpusat. Pengambilan keputusan pada masyarakat tak bernegara dapat diklasifikasikan pada tiga jenis yaitu penguatan, administrasi dan pengadilan.
Selain system politik terdapat system colonial yang bertujuan untuk memperoleh system politik yang terakhir adalah yang berbentuk Negara bangsa. Integrasi politik terjadi dengan cara peleburan kelompok tradisional tersebut ke dalam unit lebih besar dalam kerangka bangsa secara kokoh. Kebanyakan suatu Negara menginginkan system politik demokrasi.
Sementara Otterbein menyimpulkan bahwa sedikitnya ada delapan sebab terjadinya perang yaitu : pase agresi sebagai naluri atau untuk melepaskan frustrasi, pengaruh difusi, ekologi, tujuan yang hanya dicapai dengan kekerasan, structural kebutuhan satuan patrilokal, kesiagaan militer, dan evolusi social. Ada juga beberapa akibat perang, pertama, perang dapat melahirkan perubahan organisasi social, dapat memperkuat solidaritas dan kekompakan  social. Kedua, perang dapat menjadi penyebab terjadinya perubahan dalam hubungan manusia dengan lingkungan alamnya dan realokasi terhadap sumber – sumber alam bagi masyarakat. Ketiga, perang dapat melahirkan organisasi kenegaraan.
Peperangan, menurut Andrew vayda  memiliki beberapa fungsi, yakni pertama, sebagai regulasi pelaksanaan otoritas, kedua, regulasi hubungan dengan kelompok – kelompok lain, ketiga, regulasi distribusi barang dan sumber – sumber daya, keempat, regulasi variable – variable demografis. Komponen – komponen yang menjadi landasan kekuasaan seorang pemimpin meliputi kewibawaan, charisma, keabsahan, dan kekuasaan dalam arti khusus serta sifat – sifat yang menjadi syarat untuk menjadi pemimpin dalam masyarakat.
 Syarat kepemimpinan dalam negara masa kini adalah ketergantungan pemimpin pada warga masyarakat dimana keabsahan berdasarkan dukungan sebagian besar warga masyarakat sehingga seorang pemimpin harus dekat dengan masyarakat. Weber membagi kepemimpinan otoritatif kepada tiga jenis, yaitu : kepemimpinan legal, tradisional dan kharismatik.
10.  Sistem Ekonomi
Antropologi ekonomi berupaya untuk mendeskripsikan keanekaragaman system ekonomi yang dikembangkan umat manusia, mengklasifikasikannnya, serta menghubungkannya dengan system social dan cultural dengan menggunakan pendekatan menyeluruh. Secara umum terdapat dua pendekatan dalam antropologi ekonomi yaitu pendekatan formalis yang didukung oleh H.K. Schneider, Belshaw, Cook dan Nash yang menekankan pada kelangkaan sumber daya dan pentingnya rasionalitas dalam memperoleh sumber daya tersebut. Dan pendekatan substantivis yang didukung George Dalton dan Karl Polanyi yang menekankan pada bagaimana aktivitas social yang lebih luas pada suatu masyarakat tertentu.
Organisasi produksi pada ekonomi pra industry menurut Stanley H.Udy meliputi empat jenis yakni berdasarkan pada kelompok kekerabatan, kewajiban untuk berpartisipasi, kontrak antara dua pihak atau lebih, dan kehendak pribadi anggota-anggota tanpa ada paksaan dan sanksi. Secara garis besar jenis system produksi yang dikembangkan manusia dapat dibagi kepada dua kategori yaitu:
1.      Ekonomi subsistens. ekonomi ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe yakni berburu dan meramu, berternak, dan bertani. Ciri tipe masyarakat berburu dan meramu adalah memiliki mobilitas yang tinggi dalam rangka memperoleh makanan, kelompok tetap diperhatikan dalam jumlah kecil sesuai dengan suplai makanan yang terbatas, tidak ada kelompok yang memiliki hak eksklusif terhadap sumber daya alam tertentu, surplus makanan sangat kecil dan biasanya hanya tersimpan di kelompok itu sendiri, dan tidak ada kelompok yang terikat secara permanen dengan wilayah tertentu. Kegiatan pertanian dibagi menjadi dua jenis yaitu peladang ( pertanian yang kebanyakan menggunakan tenaga manusia ), dan petani ( pertanian yang mengandalkan tenaga hewan atau mesin ).
2.      Ekonomi industry. Ciri-ciri ekonomi ini adalah adanya spesialisasi pekerjaan yang diemban oleh masing-masing individu dari keseluruhan kegiatan ekonomi, dan adanya tujuan yang spesifik.
Distribusi adalah kegiatan pembagian barang kepada anggota-anggota masyarakat sedangkan pertukaran adalah proses pengembalian oleh penerima barang dengan barang sebagai suatu kewajiban. Masyarakat umumnya mengenal tiga bentuk pertukaran yaitu:
1.      Barter ( resiprositi ) adalah transaksi pertukaran yang melibatkan perpindahan barang atau jasa antara dua pihak tanpa menggunakan uang. Ada tiga bentuk resiprositi yaitu resiprositi disamaratakan, seimbang dan negative. Ada tiga factor yang memepengaruhi resiprositi yakni kekerabatan, status social dan harta.
2.      Redistribusi yakni penarikan barang dari anggota-anggota kelompok masyarakat oleh penguasa pusat dan kemudian membagikannya kepada anggota-anggota tersebut.
3.      Pertukaran pasar yaitu mekanisme penentuan harga yang ditandai dengan upaya penawaran. Medianya adalah uang. Penggunaan uang memiliki tiga tujuan dasar yaitu sebagai media pertukaran, standar nilai dan alat pembayaran.

11.  Antropologi dan pembangunan
Antropologi terapan adalah satu bidang dalam ilmu antropologi di mana pengetahuan, keterampilan dan sudut pandang ilmu antropologi digunakan untuk menolong mencari solusi bagi masalah-masalah praktis kemanusiaan dan memfasilitasi pembangunan. Jadi, antropologi terapan memadukan hubungan dialektis antara teori dan praktek. Marzali mengemukakan ada empat perbedaan antara antropologi murni dengan antropologi terapan yaitu antropologi terapan cenderung mengkaji aspek budaya dan masyarakat yang hidup masa kini sedang antropologi murni cenderung mempelajari budaya dan masyarakat pada masa lampau, antropologi terapan berkenaan dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi masyarakat masa kini sedang antropologi murni mangkaji masalah yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, antropologi terapan menerapkan hasil temuan, data dan analisis pada masalah di luar kepentingan umum di luar ilmu antropologi sedang antropologi murni memamfaatkan hasil temuan dan analisisnya untuk mempertajam, mengkritik dan merumuskan konsep dan teori keilmuan dalam ilmu yang dimaksud, antropologi terapan biasanya bekerja sebagai professional pada lembaga non akademik sedang antropologi murni biasanya bekerja dalam bidang pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi.
Suparlan berpendapat bahwa keterlibatan antropolog dalam kegiatan pembangunan sangat diperlukan karena dapat membantu upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks pembangunan ahli antropologi dipandang sebagai ahli kebudayaan yang menghubungkan dan mentransformasikan modernisasi dan teknologi modern ke dalam masyarakat local. Tujuan antropologi pembangunan adalah untuk mendorong tercapainya hasil yang menguntungkan secra maksimal dan mengurangi kerugian masyarakat yang menjadi sasaran pembangunan dan bagi program pembangunan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar