Kamis, 15 Juli 2010

Makalah Tasawuf: pengertian tasawuf


Makalah Tasawuf
Oleh: Yani, Cik Agus Sani, dan Abdurrahman
A.    Pendahuluan
Mengenali sejarah tasawuf sama saja dengan memahami potongan-potongan sejarah Islam dan para pemeluknya, terutama pada masa Nabi. Sebab, secara faktual, tasawuf rnempunyai kaitan yang erat dengan prosesi ritual ibadah yang dilaksanakan olch para Sahahat di bawah himbingan Nahi. Kenapa gerakan tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi’in. Kenapa tidak muncul pada masa Nabi? Jawahnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan tasawuf. Perilaku umat masih sangat stahil. Sisi akal, jasmani dan rohani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya pragmatisme, materialisme dan hedonisme.
Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena Nabi, para Shahabat dan para Tabi’in pada hakikatnya sudah sufi: sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia. tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah SWT sebagai sang Khaliq.
Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup.
 Para mayoritas ahli sejarah berpendapat bahwa tema tasawuf dan sufi adalah sebuah terma yang muncul setelah abad II Hijriah. Sebuah terma yang sama sekali baru dalam agama Islam. Pakar sejarah juga sepakat bahwa yang mula -mula menggunakan istilah ini adalah orang-orang yang berada di kota Bagdad Irak. Pendapat yang menyatakan bahwa tema tasawuf dan sufi adalah baru serta terlahir dari kalangan komunitas Bagdad merupakan satu pendapat yang di setujui oleh mayoritas penulis buku-buku tasawuf.[1]
Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan paham yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah. Dan orang-orang Islam baru di daerah Irak dan Iran (sekitar abad 8 Masehi) yang sebelumnya merupakan orang-orang yang memeluk agama non muslim atau menganut paham-paham tertentu. Meski sudah masuk Islam, hidupnya tetap memelihara kesahajaan dan menjauhkan diri dan kemewahan dan kesenangan keduniaan. Hal ini didorong oleh kesungguhannya untuk mengamalkan ajarannya, yaitu dalam hidupannya sangat berendah-rendah diri dan berhina-hina diri terhadap Tuhan. Mereka selalu mengenakan pakaian yang pada waktu itu termasuk pakaian yang sangat sederhana, yaitu pakaian dan kulit domba yang rnasih berulu. sampai akhirnya dikenal sebagai semacam tanda bagi penganut-penganut paham tersebut. Itulah sebabnya maka pahamnya kemudian disebut PAHAM SUFI. SUFISME atau PAHAM TASAWUF, dan orangnya disebut ORANG SUFI.[2]
Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal-usul ajaran tasawuf berasal dan zaman Nabi Muhammad. Berasal dan kata ‘beranda” (suffa). dan pelakunya disebut dengan ahi al-suffa, seperti telah disebutkan di atas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dan pengetahuan Nabi Muhammad. Kemudian, menurut catatan sejarah, diantara sekalian sahabat Nabi, maka yang pertama sekali memfilsyafatkan ibadah dan menjadikan ihadah secara satu yang khusus adalah sahabat Nabi Yang bernama Huzaifa bin Al Yamani. salah seorang sahabat Nabi yang Mulia dan terhormat. Beliaulah yang pertama kali menyampaikan ilmu-ilmu yang kemudian hari ini kita kenal dengan “Tasawuf” dan beliaulah yang membuka jalan serta teori-teori untuk tasawuf itu.[3]
Menurut cacatan sejarah dari shahabat Nabi Huzaifah bin al Yamani inilah pertama-tama mendirikan Madrasah Tasawuf. tetapi pada masa itu belumlah terkenal dengan nama “Tasawuf”. masih sangat sederhana sekali. Imam sufi yang pertama di dalam sejarah Islam yaitu Al Hasan Al Basry seorang ulama besar Tabi’in. adalah murid pertama Huzaifah bin Al Yamani dan adalah keluaran dan Madrasah yang pernah didirikan oleh Huzaifah bin Al Yamani.[4]
Selanjutnya, tasawuf itu berkembang yang dimulai oleh Madrasah huzaifah bin Al yamani di madinah. kemudian diteruskan Madrasah Al Hasanul hasry di basrah dan seterusnya oleh Sa’ad bin Al Mussayib salah seorang ulama besar Tabi’in, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu Tasawuf lainnya. Sejak itulah pelajaran Ilmu tasawwuf telah mendapat kedudukan yang tetap dan tidak akan terlepas lagi dari masyarakat ummat Islam sepanjang masa.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana pengertian tasawuf secara etimologi dan terminologi? Darimana sumber-sumber tasawuf itu berasal? Dan bagaimana tahap-tahap perkembangan tasawuf’? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan dibahas dalam makalah ini.

B.Pengertian Tasawuf
Tasawuf secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha untuk menyucikan jiwa sesuci mungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran-Nya senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan. Ibn al-Khaldun pernah menyatakan bahwa tasawuf para sahabat bukanlah pola ketasawufan yang menghendaki kasyf al-hijab (penyingkapan tabir antara Tuhan dengan makhluk) atau hal-hal sejenisnya yang diburu oleh para sufi di masa belakangan. Corak sufisme yang mereka tunjukkan adalah ittiba’ dan iqtida’ (kesetiaan meneladani) perilaku hidup Nabi. Islam sekalipun mengajarkan tentang ketakwaan. Qana’ah. keutamaan akhlak dan juga keadilan, tetapi sama sekali tidak pernah mengajarkan hidup kerahiban, pertapaan atau uzlah sebagaimana akrab dalam tradisi mistisisme agama-agama lainnya. Ada berbagai pengertian mengenai tasawuf diantaranya yaitu:
a. Secara Etimologi (Bahasa)
1. Berasal dan kata Ahi Al-Shuffah Yaitu sebutan bagi orang-orang yang pada zaman Rasulullah SAW. hidup di sebuah gubuk yang dibangun oleh Rasulullah SAW. di sekitar Masjid Madinah, mereka ikut nabi saat hijrah dan Mekah ke Madinah. Karena hijrah dengan meninggalkan harta benda mereka, mereka hidup miskin dan papa, pada akhirnya mereka bertawakal (berserah diri) dan mengabdikan hidupnva untuk beribadah kepada Allah SWT. Mereka tinggal di sekitar masjid nabi dan tidur diatas bangku yang terbuat dan batu dan pelana yang disebut suffah sebagai bantalnya. Kata sofa dalam bahasa Eropa berasal dan kata suffah. Mereka Ahi Al-Suffah berhati dan berakhlak mulia walaupun miskin. itu merupakan sebagian dan sifat-sifat sifat kaum sufi.
2. Berasal dari kata Shafa’ (suci bersih) Yaitu sekelompok orang yang  menyucikan hati dan jiwanya karena Allah. Sufi berarti orang-orang yang hati dan jiwanya suci bersih dan disinari cahaya hikmah, tauhid, dan kesatuan dengan Allah.
3.  Berasal dari kata shuf (pakaian dari bulu domba atau wol) Mereka di sebut sufi karena memakai kain yang terbuat dari bulu domba. Pakaian yang terbuat dan bulu domba menjadi pakaian khas kaum sufi, bulu domba atau wol saat itu bukanlah wol lembut seperti sekarang melainkan wol yang sangat kasar, itulah lambang dan kesederhanaan pada saat itu. Berbeda dengan orang kaya saat itu yang memakai kain sutra. Mereka hidup sederhana dan miskin tetapi berhati mulia, saat awal suluk (perjalanan menuju Allah dalam agama), mereka hidup sangat wara’ (menjaga din dan berbuat dosa dan maksiat).
4.  Berasal dari wazan “tafa”ala” dalarn ilmu tashrif bahasa arab yaitu tafa”ala - yatafa”alu - tafa”ulan”, kata tasawuf berarti berasal dan mauzun “tashaw’vafa - yatashawwafu - tashawwufan”.
5.  Abdul Qadir Al-Jilani rnemakniai Tasawuf meupakan singkatan dan huruf ta’ (taubah). shad (shafa’), wawu (wilayah), fa’ (fana’), yang masing-masing huruf tersebut memiliki makna tersendiri. Huruf ta berasal dari kata tawbah ( taubat) yang terbagi dalam taubah zahir dan taubah batin. Huruf shad herasal dari kata shafa (kejernihan) yang juga terbagi dan dua bagian, yakni kejernihan hati dan kejernihan nurani. Huruf wawu berasal dari kata wilayah (kewalian) yang akan muncul dalam diri seorang sufi setelah kejernihan hati dan nurani. Dan huruf fa yang bermakna fana’ lillah (peniadaan diri dalam Allah) dan segala selain Allah. Jika sifat-sifat manusia telah tiada, maka yang ada adalah sifat-sifat Keesaan Transenden yang tidak meniada, tidak melenyap, dan tidak menghilang. Hamba yang mengalami fana’ ini akan tetap bersama Tuhan Yang Maha Abadi dan keridhaan-Nya. dan hati hamba yang telah rnengalaminya akan abadi bersama Rahasia Yang Maha Abadi dan Perhatian-Nya.[5]
b. Secara Teriminologi
I) Menurut Al - Juroiri berpendapat tentang tasawuf: “Memasuki kedalam akhlak yang bersifat sunni dan keluar dari akhlak (Budi Pekerti) yang rendah.”
2) Menurut Al-Junaidi “Tasawuf membersihkan hati dan apa yang mengganggu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal (instink) kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi segala seruan dan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat kerohanian, dan bergantung pada ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal. menaburkan nasihat kepada umat manusia, memegang janji dengan Allah dalam hal hakikat dan mengikuti contoh rasulullah dalam hal syariat.
Dan segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf Nasution. misalnya menyebutkan lima istilah yang ber-dengan tasawuf, yaitu aI-suffah (ahl al-suffah), (orang yang nindah dengan Nabi dan Mekkah ke Madinah), saf (banis-sufi (suci), sophos (bahasa Yunani: hikmat), dan suf (kain Keseluruhan kata mi bisa-bisa saja dihubungkan dengan wuf Kata ahl al-suffah (orang yang ikut pindah dengan Nabi Mekkah ke Madinah) misalnya menggambarkan keadaan yang rela mencurahkan jiwa raganya, harta benda dan lain-lainya hanya untuk Allah.
Dan segi Linguistik (kebahasaan) ini segera dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri. beribadah. hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana Sikap jiwa yang demikian pada hakikatnya adalah akhlak yang ilmu Tasawuf adalah ilmu yang membahas secara karakteristik sifat dan sikap manusia baik yang terpuji maupun yang tercela. Di sini terkandung maksud agar manusia mampu rnembersihkan hati dan jiwanya sebagai tujuan utama pengamalan ilmu tasawuf dan pintu gerbang memasuki alam shufiyah. Dengan cara ini akan mudah bagi manusia menghiasi jiwanya dengan sifat-sifat yang mulia ber-taqarruh dan bermusyahadah dengan Allah SWT.
Hukum mempelajari ilmu tasawuf melihat peranannya bagi jiwa manusia. adalah wajib ‘ain bagi setiap mukallaf. Sebab apabila mempelajari semua hal yang akan memperbaiki dan memperbagus lahiriyah menjadi wajib. maka demikian juga halnya mempelajari semua ilmu yang akan memperbaiki dan memperbagus batiniyah manusia. Karena fungsi ilmu tasawuf adalah untuk mensucikan batin agar dalam ber-musyahadah kepada Allah semakin kuat. maka kedudukan ilmu tasawuf diantara ajaran Islam merupakan induk dari semua ilmu. Hubungan tasawuf dengan aspek batin manusia, adalah seperti hubungan Fiqh dengan aspek lahiriyah manusia. Para ulama penegak pilar-pilar yang menjadi sandaran ilmu tasawuf telah menciptakan istilah-istilah untuk memudahkan jalan bagi mereka yang ingin menapak ilmu tasawuf yang sesuai dengan kedudukannya sebagai pernbersih dan pensuci hati dan jiwa.
Adapun tasawuf yang berkembang pada masa berikutnva sebagai suatu aliran (mazhab). maka sejauh hal itu tidak bertentangan dengan Islam dapat dikatakan positif (ijabi). Tetapi apabila telah keluar dan prinsip-prinsip keislaman maka tasawuf tersebut menjadi mazhab yang negatif (salbi). Tasawuf ijabi mempunyai dua corak: (1) tasawuf salafi, yakni yang membatasi diri pada dalil-dalil naqli atau atsar dengan menekankan pendekatan interpretasi tekstual (2) tasawuf sunni. yakni yang sudah memasukkan penalaran-penalaran rasional ke dalam konstruk pemahaman dan pengarnalannya. Perbedaan mendasar antara tasawuf salafi dengan tasawuf sunni terletak pada takwil. Salafi menolak adanya takwil, sementara sunni menerima. takwil rasional sejauh rnasih berada dalam kerangka syariah. Sedangkan tasawuf salbi atau disebut juga tasawuf falsafi adalah tasawul yang telah terpengaruh secara jauh oleh faham gnostisisme Timur maupun Barat.

C. Sumber -Sumber Tasawuf
Sumber-sumber tasawuf yaitu:
I. Bersumber dari Islam
Secara umum ajaran Islam mengatur lehidupan yang bersifat lahiriah atau jasadiah. dan kehidupan yang bersifat batiniah. Pada unsur kehidupan yang bersifat batiniah itulah kemudian lahir tasawuf. Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber ajaran Islam. al-Qur’an dan al Sunnah serta praktek kehidupan Nabi dan para sahabatnya Al-Quran antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dengan Tuhan dapat saling mencintai (mahahbah) (LihatQS.Al-Maidah.5:54): perintah agar manusia senantiasa bertaubat. membersihkan diri memohon ampunan kepada Allah (Lihat QS. iahrim, 8). petunjuk bahwa manusia akan senantiasa bertemu dengan Tuhan di manapun mereka berada. (lihat QS. aI-Baqarah. 2: 110). Tuhan dapat memberikan cahaya kepada orang yang dikehendakinya (Lihat  QS an-Nur. 35). Selanjutnya al-Qur’an rnengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak oleh kehidupan dunia dan harta benda (Lihat QS. al-Hadid, al-Fathir, 5), dan senantiasa bersikap sabar dalam menjalani pendekatan diri kepada Allah SWT. (Lihat QS. Ali- lmran, 3).
2. Bersumber dari Luar Islam
        Dalam berbagai literatur yang ditulis para orientalis Barat sering dijumpai uraian yang menjelaskan bahwa tasawuf Islam dipengaruhi oleh adanya unsur agama masehi. unsur Yunani, unsur Hindu Budha dan unsur Persia. Hal ini secara akadernik bisa saja diterima, namun secara akidah perlu kehati-hatian. Para orientalis Barat menyimpulkan bahwa adanya unsur luar Islam masuk ke dalam tasawuf itu disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut telah ada sebelum Islam. bahkan banyak dikenal oleh masyarakat Arab yang kemudian masuk Islam. Akan tetapi kita dapat mengatakan bahwa boleh saja orang Arab terpengaruh oleh agarna-agama tersebut, namun tidak secara otomatis mempengaruhi kehidupan tasawuf,.karena para penyusun ilmu tasawuf atau orang yang kelak menjadi sufi itu bukan berasal dari mereka itu. Dengan demikian adanya unsur luar Islam yang mempengaruhi tasawuf Islam itu merupakan rnasalah akademik bukan masalah akidah lslamiah. Karenanva boleh diterima dengan sikap yang sangat kritis dan obyektif. Kita mengakui bahwa Islam sebagai agama universal yang dapat bersentuhan dengan berbagai lingkungan social. Dengan sangat selektif Islam bisa beresonansi dengan berbagai unsur ajaran sufistik yang terdapat dalam berbagai ajaran tersebut. Dalam huhungan ini maka Islam termasuk ajaran tasawufnya dapat bersentuhan atau memiliki kemiripan dengan ajaran tasawuf yang berasal dari luar Islam itu.
3. Bersumber Dari Masehi
         Orang Arab sangat menyukai cata kependetaan. khususnva dalam hal latihan jiwa dan ibadah Alas dasar ini tidak mengherankan jika von Krornyer terdapat tasawuf adalah buah dan unsur  Nasrani yang terdapat pada zaman jahiliyah. Hal ini di perkuat pula oleh Ciold Ziher yang mengatakan bahwa sikap fakir dalam Islam adalah merupakan cabang dari agama Nasrani. Selanjutnya Noldicker mengatakan bahwa pakaian wol kasar yang kelak digunakan para sufi sebagai lambang kesederhanaan hidup adalah merupakanpakaian yang hiasa dipakai oleh para pendeta Sedangkan Nicholson mengatakan bahwa istilah-istilah tasawuf itu berasal dan agama Nasrani, dan bahkan ada yangberpendapat bahwa aliran tasawuf berasal dari agama Nasrani.
4. Bersumber dari Yunani
           Kebudayaan Yunani yaitu filsafatnya telah masuk pada dunia di mana perkembangannya dimulai pada akhir Daulah Umayyah dan puncaknya path Daulah Ahbasiyah, metode berpikir filsafat Yunani mi juga telah ikut mempengaruhi pola berpikir sebagian orang Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Kalau pada bagian uraian dimulai perkembangan tasawuf ml baru dalam taraf arnaliah (akhlak) dalam pengrruh filsafat Yunani mi maka uraianuraian tentang tasawuf itu pun telah berubah menjadi tasawuf filsafat. Hal mi dapat dilihat dan pikiran al-Farabi’, al-Kindi, Ibn Sina terutama thiam uraian mereka tentang uilsafat jiwa. Demikian juga pada uraian-uraian tasawuf dan Abu Yazid, al-Hallaj, lbn Arabi, Suhrawardi dan lain-lain sebagainya.
5. Bersumber dari Hindul Budha
         Antara tasawuf dan sistem kepercayaan agama Hindu dapat dilihat adanya hubungan seperti sikap fakir, darwisy. Al-Birawi mencatat bahwa ada persamaan antara cara ibadah dan rnujahadah tasawuf dengan Hindu. Kemudian pula paham reinkamasil (perpindahan roh dan satu badan ke badan yang lain), cara kelepasan dari dunia versi Hindu Budha dengan persatuan diri dengan jalan mengingat Allah. Salah satu mqomat Sufiah al-Fana tampaknya ada persamaan dengan ajaran tentang Nirwana dalam agama Hindu. Goffiq Ziher mengatakan bahwa ada huhungan persarnaan antara tokoh Sidharta Gautarna dengan Ibrahim bin Adham tokoh sufi.
6. Bersumber dari Persia
          Sebenarnya anlara Arab dan Persia itu sudah ada hubungan semenjak ama vaitu hubungan dalarn bidang politik, pemikiran. kemasvarakatan dan sastra. Akan tetapi helum ditemukan dalil yang kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohanj Persia telah masuk ke tanah Arab. Yang jelas adalah kehidupan kerohanian
Arab masuk ke Persia itu terjadi melalui ahii-ahli tasawuf di dunia mi. Namun barangkali ada persamaan antara istilah zuhd di Arab dengan zuhd menurut agama Manu Mazdaq dan hakikat Muhammad menyerupai paham (Tuhan kebaikan) dalam agama Zarathustra.
D. Tahap - Tahap Pcrkcmbangan Tasawuf
Pertumbuhan dan perkembangan tasawuf di dunia Islam dapat dikelompokan ke dalam beberapa tahap:
1.Tahap Zuhud (Asketisme)
        Tahap awal perkembangan tasawuf dimulai pada akhir ahad ke-l H sampai kurang lebih abad ke-2H. Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah, Kufah dan Basrah kemudian menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnva merupakan respon terhadap gaya hidup mewah para pembesar negara akibat dari perolehan kekayaan melirnpah setelah islam mengalarni perluasan wilayah ke Suriah Mesir. Mesopotamia dan Persia. Dalam islam Asketisme mempunyai pengertian khusus. Asketisme bukanlah kependetaan atau terputusnva kehidupan durnawi di mana mereka tetap bekerja dan berusaha, namur kehidupan dunia itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka. serta tidak membuat mereka rnengkari Tuhannya. Tokoh-tokohnya menurut tempat perkernbangannva:
A. Madinah: Dari kalangan sahabat Nabi Muhammad Saw, Abu Ubaidah Al Jarrah (w. 18 I-l: Abu Dzar Al Ghiffari (W. 22 H): Salman Al Farisi (W.32 H):
Ahdullah ibn Mas’ud (W 33 I-lI: sedangkan dan kalangan satu genarasi setelah masa Nabi (Tab’in) diantaranya. Said ibn Musayyab (w. 91 H): dan Salim ibn Abdullah (w. 1061-I). B. Basrah: Hasan Al Bashri (w. 110 H): Malik ibn Dinar (w. 131 IH. fadhl Al Raqqasyi, Kahrnas ibn Al hadan Al Qais (w. 149 H): Shalih Al Murri dan Abut Wahid ibn Zaid (w. 171 H) C. Kufah: Al Rabi ibn Khasim (w. Q6 11): Said ibn Jubair . 96 H): Thawus ibn Kisan (w. 106 1-1): Sufyan Al Tsauri (xv. 161 11): Al Laits ibn Said (w. 175 H): Sufyan ibn Uyainah(w.198H).
D. Mesir: Salim ibn Altar Al Tajihi (W. 75H): Abdurrahman Al Hujairah ( w. 83
H): Nat), hamba sahaya Abdullah ibn Urnar (171 H). Pada masa-masa terakhir tahap ini, muncul tokoh-tokoh yang dikenal sebagai sufi sejati. Diantaranya, Ibrahim ibn Adham (w. 161 H); Fudhail ibn Iyadh (w. 187 H); Dawud Al Tha’i (w. 165 H) dan Rabi’ah Al Adawiyyah.
           Menurut Abu al-Wafa’ aliran asketisme abad pertama dan kedua hijriyah dapat disimpulkan dengan beberapa karekteristik berikut (1) asketisisme ini berdasarkan ide menjauhi hal-hal duniawi, demi meraih pahala akhirat, dan memelihara dari azab neraka. ide ini berakar pada ajaran-ajaran al-Qur’an dan sunnah, dan terkena dampak berbagai kondisi sosio-politik yang berkembang pada masyarakat Islam kala itu. (2) asketisisme ini bercorak praktis. dan .para pendirinya tidak menaruh perhatian untuk menyusun prinsip-prinsip teoritis atas asketisismenya tersebut. Sarana-sarana praktisnya merupakan hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan secara penuh, sedikit makan maupun minum, bnayak beribadah mengingat Allah, berlebih-lebihan dalam merasa berdosa. tunduk mutlak pada kehendak Allah, dan berserah diri kepada-Nya. Dengan begitu. asketisisme ini mengarah pada tujuan moral. (3) Motivasi asketisismel, yakni rasa yang muncul dan landasan amal keagamaan secara sungguh-sungguh. Sernentara pada akhir abad kedua hijriah. di tangan Rabi’ah al-Adawivvah. Muncul motivasi cinta kepada Allah. yang bebas dan rasa takut terhadap azabNva maupun rasa harap terhadap pahala-Nya. Hal ini mencerminkan penyucian diri dan abstraksi dalam hubungan antara manusia dengan Allah. (4) asketisisme ‘ sebagai asketis yang terakhir, khususnya di Khurasan, dan pada Rabiah alAdawiyyah ditanda kedalaman rnembuat analisa, yang bisa dipandang sebagai
pandahuluan tasawuf. kelompok ini sekalipun dekat dengan tasawuf, tidak dipandarng sebagai para sufi dalam pengertiannya yang terinci. Mereka lebih tepat
dipandang sehagai cikal bakal para sufi abad - abad ketiga dan keempat Hijriyah.
2. Tahap Tasawuf (abad ke 3 dan 4 H)
        Paruh pertama pada abad ke-3H, wacana tentang Zuhud digantikan dengan tasawuf. Ajaran para sufi tidak lagi terbatas pada amaliyah (aspek praktis), berupa penanaman akhlak. tetapi sudah masuk ke aspek teoritis (nazhari) dengan memperkenalkan konsep-konsep dan terminologi baru yang sebelumnya tidak dikenal seperti, maqam, hal, rna’rifah. tauhid (dalam makna tasawuf yang khas): fana, hulul dan lain-lain. Fokoh-tokohnya, Ma’ruf Al Kharkhi (w. 200 H). Abu Sulairnan Al Darani (w. 254 Il), Dzul Nun Al Mishri (v.254Il) dan Junaid AlBaghdadi. Muncul pula karya-karya tulis yang membahas tasawuf secara teoritis, termasuk karya Al Harits ibn Asad Al Muhasibi (w. 243 H) ABu Said Al Kharraz (v 279 H): Al Hakirn Al Tirmidzi (v.285 H) dan Junaid Al Baghdadi (‘.294 H) Pada masa tahap tasawuf, muncul para sufi yang mempromosikan tasawuf yang berorientasi pada “kemabukan” (sukr), antara lain Al Hallaj dan Ba Yazid Al Busthami. yang bercirikan pada ungkapan-ungkapam ganjil yang sering kali sulit untuk dipahami dan terkesan melanggar keyakinan umurn kaum muslim. seperti “Akulah kebenaran “ (Ana Al Haqq) atau “Tak ada apapun dalam jubah yang dipakai Busthami selain Allah ‘ (ma’ fill jubbah ill√£ Allah), kalau dilndonesia dikenal dengan Syekh Siti Jenar dengan ungkapannya “Tiada Tuhan selain Aku”
          Secara global, pada periode abad ini setidaknya ada lima karakteristik tasawuf tersebut.[6] Pertama, peningkatan moral. Pada dasarnya, pada abad ketiga dan keempat Hijriyah. tasawuf adalah ilmu tentang moral agama. Sebab. aspek moral tasawuf pada masa itu. berkaitan erat dengan pembahasan jiwa. klasi fikasinya. uraian kclemahannya. penvakitnva. ataupun jalan keluarnya. Dan karena dapat dikatakan bahwa tasawuf pada masa tersebut ditandat ciri-ciri psikologis. di samping ciri-ciri moral.
         Kedua, pengetahuan intuitif secara langsung atau disebut marifat ini merupakan prinsip epistimologis yang membedakan tasawuf dengan filsafat. Apabila dengan flisafat yang da!arn memahami realitas seseorang menggunakan metode-metode intelektual, maka dia disebut seorang filosof. Sedangkan kalau dia menggunakan metode intuisi atau rna’rifat, maka dalam kondisi demikian dia disebut sebagai seorang sufi atau mistikus dalam pengertian yang lengkap.[7]
        Ketiga. pemenuhan fana (sirna) dalam realitas mutlak. Yang dimaksud fana ialah bahwa dengan latihan-latihan fisik dan psikis yang ditempuhnya. akhirnya seorang sufi sampai pada kondisi tertentu. di mana dia tidak lagi merasakan adanya diri atau pun keakuannva. Fana juga bisa didetinisikan sebagai ketiadaan diri di dalarn Allah, yakni menjadikan sifat-sifat baik Allah, bukan eksistensi, sebagai ganti sifat-sifat manusiawi yang rendah.[8]
          Dalarn kontek ini, Imam Al-Qusyairi rnenghubungan fana berupa gugurnya sifat-sifat tercela dan baqa’ berupa kejelasan sifat-sifat terpuji. Barang siapa fana dari sifat-sifat tercela, maka yang tampak (baqa’) adalah sifat-sifat terpuji. Siapa yang fana dari kebodohannya. yang kekal adalah ilmunya. Siapa yang fana dari syahwatnya, yang kekal adalah kesadarannva. Siapa yang fana dari gejolak keinginannya, yang kekal adalah kezuhudannya. Dan siapa yang fana dari angan-angannya, yang kekal adalah kehendak baiknya.[9]
          Keempat, ketenterarnan atau kebahagiaan ini merupakan karakteristik khusus berbagai dorongan hawa nafsu, serta pembangkit keseimbangan psikis pada diri seorang sufi. Dengan sendirinya, tujuan tersebut akan membuat sang sufi terlepas dari sernua rasa takut dan merasakan ketenterarnan jiwa dan kehahagiaan dirinya pun terwujudkan.
         Kelima. pernakaian simbol-sirnbol dalam rnengungkapkan hakikat realitas-realitas tasawuf Yang dimaksud dengan simbol di sini adalah ungkapan-ungkapan yang di pergunakan sufi biasanya mengandung dua pengertian. Pertama. pengertian yang digali dengan analisa dan pendalarnan. Pengertian yang kedua ini hampir sepenuhnya tetutup bagi yang bukan sufi dan sulit untuk dapat mernahami rnaksud tujuan mereka.[10]
3. lahap Tasawuf Moderat (abad ke 5)
          Pada ahad kelirna hijriyah aliran taswuf moderat atau yang biasa yang dikenal dengan sunni terus tumbuh dan berkembang, sedangkan aliran yang kedua (semi-filosofis) rnulai tenggelam. Hal itu disebahkan oleh berjayanya aliran Ahli sunnah WalJama’ah. yang mana tesawuf pada era ini cenderung mengadakan pembaharuan dengan mengembalikannya ke landasan al-q’uran dan sunnah.
4. Tahap Tasawuf Falsafi (ahad ke 6 H)
         Pada tahap ini, tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. Ibn Arabi merupakan tokoh utama aliran ini, disamping juga Al Qunawi, muridnya. Sebagian ahli juga memasukan Al Hallaj dan Abu (Ba) Yazid Al Busthami dalam aliran ini. Aliran ini kadang disebut juga dengan Irfan (Gnostisisme) karena orientasinya pada pengetahuan (ma‘rifah atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu.
           Para pengkaji tasawuf filosofis, berpendapat bahwa perhatian para penganut tasawuf filosofis terutama diarahkan untuk menyusun teori-teori wujud dengan berlandaskan rasa (dzauq), yang merupakan titik tolak tasawuf mereka. Ibn Khaldun memaparkan ada empat karakteristik tasawuf filosofis. (1) latihan ruhaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri yang timbul darinya. (2) iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat rabbani. arsy, kursi, malaikat, wahyu, kenabian, ruh. hakikat realitas segala wujud, yang ghaib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, terutama tentang Penciptanya dan penciptaannya. (3) peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan. (4) penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syahahiyat), yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui, atau menginterpretasikannya.[11]
5. Tahap Tarekat (abad ke 7 H dan seterusnya)
        Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnva. seperti tarekat Junaidiyvah yang didirikan oleh Ahu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H atau Nuriyyah yang didirikan oleh Abu hasan lbn Muhammad Nuri (w. 295 1-1).
baru pada masa-masa mi tarekat berkembang dengan pesat. Seperti tarekat Qadariyyah ( mengkaitkan tasawuf dengan aI-Qur’an dan sunnah) yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H) dan .jilan ( Wilayah Iran sekaran ). Tarekat
Rifa’iyyah (meliputi tentang zuhud, ma’rifat dan cinta) didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H) dan tarek Suhrawadiyyah ( aturan-aturan tarekat) yang didirikan oleh Abu Najib Al Suhrawardi (w. 563 H). Tarekat  Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling luas. tarekat ini sekarang telah memiliki banyak variasi.

DAFTAR  PUSTAKA

1.      Mawhiburrahman, /menggunat-onsinalitas-tasawuf hlm 1. / Muhammad.blogspot.com 2007/01
2.      http//id.wikipedia.org/wiki/tasawuf
3.      Zahri, Mustafa Kinci Memahami Ilmu tasawuf, Surabaya; PT. Bina Ilmu. 1984
  1. Bagir Haidar, Buku Saku Tasawuf . Bandung: Mizan. 2006
  2. Qadir Al-Jilani, Abdul, danTitian Mahabbah, terj. Ahmad Fadhil. Jakarta: Sahara. 2003


[1] Nttp://Muhammadmawhiburrahman.blogspot.com/2007/01/menggunat-onsinalitas-tasawuf hlm 1.
[2] http//id.wikipedia.org/wiki/tasawuf.
[3] Mustafa Zahri, Kinci Memahami Ilmu tasawuf, Surabaya; PT. Bina Ilmu, 1984 hal. 155
[4] Mustafa Zahri, Kunci……….., hal. 155
[5] Abdul Qadir Al-Jilani, Titian Mahabbah, terj. Ahmad Fadhil (Jakarta: Sahara, 2003) hlm. 74-77
[6] Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf ,( Bandung: Mizan, 2006).Hal 101.
[7]  Menurut analisis Ghozali, ada perbedaan krusial-krusial antara pengetahuan dengan ma’rifat. Dalam hal ini, Ghozali membuat ilustrasi bahwa jika ilmu itu bagaikan melihat api ( karu’yatin nar), sedangkan ma’rifat bagaikan tenggelam langsung dalam kobaran api tersebut ( ka al-ishthilai biha). Lihat Abu Hamid AL-Ghozali, Raudhat AL-Thalibin, ( Libanon Beirut ) Hal. 54.
[8] Rosidi, Ilmu Tasawuf, ( Bangka Belitung:Siddiq Press, 2007). Hal 4.
[9] Rosidi, Ilmu………Hal 15.
 [10] Bahasa symbol ini bukan hanya berlaku dalam dunia sufi di timur, tapi juga pada mistikus di Barat. Lihat Idries shah, the sufis, ( London: The Octogen Press, 1989).
[11] Rosidi,ilmu……………

3 komentar:

  1. hatur nuhun kang...
    sy t lg butuh info ttg apa itu tasawuf...
    thnx dh share ilmunya...

    BalasHapus
  2. Silahkan., senang bisa berbagi..

    BalasHapus