Jumat, 30 Juli 2010

HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU KALAM DAN FILSAFAT



Oleh: Penti Zunita, Puri Handayani, dan Rabian Syahbana
PENDAHULUAN
Pada hakikatnya semua agama terbentuk berdasarkan wahyu dan tafsir terhadap wahyu itu. Yang tersebut pertama bersifat pasti dan tetap, oleh karena merupakan peryataan aktual dari kehendak ilahi, serta mengandung kebenaran-kebenaran abadi. Adapun tafsir merupakan tanggapan hati nurani manusia terhadap wahyu, dan karena hati nurani ini berangsur-angsur terlibat, maka lalu bergantung kepadanya. Selama berabad-abad wahyu bertahan tanpa mengalami sesuatu perubahan apapun; sedangkan tafsir, dalam perjalanan masa menjadi sasaran tekanan oleh kekuatan dalam maupun luar. Tekanan –tekanan yang pada setiap babakan sejarah memberikan cirinya kepada masyarakat[1].
Bagaimanapun juga ketiga disiplin ilmu itu Tasawuf, kalam dan tasawuf hadir didalam sejarah Pemikiran Islam dengan saling berjalinan, dan dalam istilah-istilah yang terumuskan dengan baik Tasawuf, Falsafah, dan  Kalam.
Semuanya ini merupakan hasil, yang terkadang marginal. Pada sejarah tertentu ketiga-tiganya tak bebas dari serangan hebat kaum ortodoks kerana dituduh banyak mencampuri urusan yang dalam pandangan mereka, harus tetap terbatas bagi agama murni belaka. Tetapi semua itu dalam berbagai macam kadarnya, berakhir dengan penerimaan terhadapnya dan ketiganya telah membari kemasyhuran terhadap peradaban Islam.
Pada makalah ini akan membahas terlebih dahulu pengertian dari disiplin ilmu yang tiga, yakni : ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu filsafat, kemudian hubungan dari ketiga disiplin ilmu serta  titik persamaan dan perbedaannya.          
PEMBAHASAN
HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU KALAM DAN FILSAFAT
A.     Pengertian Tasawuf, Ilmu Kalam dan Filsafat
Agama Islam menyimpan banyak sekali ilmu tentang pengetahuan didalamnya. Dengan sumber yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah lahirlah beberapa disiplin ilmu keislaman yang ada saat ini, seperti ilmu kalam, tasawuf, filsafat, dan lain sebagainya. Setiap disiplin ilmu yang itu mempunyai keterikatan yang tidak dapat dipisahkan. Untuk lebih mempermudah mengetahui hubungan antara tasawuf, ilmu kalam dan filsafat alangkah lebih baiknya kita mengetahui pengertiannya terlebih dahulu.
1.      Tasawuf
Tasawuf  adalah ajaran (cara dan sebagainya) otak mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar denganNya.[2] Tasawuf, sebagai aspek mistisisme dalam Islam, pada intinya adalah kesadaran adanya hubungan komunikasi manusia dengan Tuhannya, yang selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat (qurb) dengan Tuhan. Hubungan kedekatan tersebut dipahami sebagai pengalaman spritual dzauqiyah manusia dengan Tuhan, yang kemudian memunculkan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah kepunyaan-Nya. Segala eksistensi yang relatif dan nisbi tidak ada artinya di hadapan eksistensi Yang Absolut.[3]
Salah satu disiplin ilmu yang berkembang dalam tradisi kajian Islam, selain Ilmu Kalam, Filsafat dan Fiqih. Tujuannya: memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Tasawuf berusaha mengetahui dan menemukan Kebenaran Tertinggi (Allah SWT); dan bila mendapatkannya, seorang sufi tidak akan banyak menuntut dalam hidup ini.[4]
Abu al-Wafa’al-Ganimi at-Taftazani (peneliti tasawuf) menyebutkan karakteristik secara umum, baginya tasawuf mempunyai 5 ciri umum, yaitu:
1)      Memiliki nilai-nilai moral
2)      Pemenuhan fana (sirna) dalam realitas mutlak
3)      Pengetahuan intuitif langsung
4)      Timbulnya rasa kebahagiaan sebagai karunia Allah SWT dalam diri sufi karena terciptanya maqamat (makam-makam atau beberapa tingkatan)
5)      Penggunaan simbol-simbol pengungkapan yang biasanya mengandung pengertian harfiah dan tersirat.[5]
2.      Ilmu Kalam
Menurut ahli tata bahasa Arab, kalam didefenisikan sebagai ‘kata’ atau ‘lafaz’ dengan bentuk mejemuk (ketentuan/perjanjian). Secara teknis, kalam berarti alasan atau argumen rasonal untuk  memperkuat pernyataan.[6] Nama lain : Ilmu Aqaid (ilmu akidah-akidah), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemahaesaan Tuhan), Ilmu Ushuluddin (Ilmu pokok-pokok agama). Disebut juga ‘Teologi Islam’. ‘Theos’=Tuhan; ‘Logos’=ilmu. Berarti ilmu tentang ketuhanan yang didasarkan atas prinsip-prinsip dan ajaran Islam; termasuk di dalamnya persoalan-persoalan gaib. Ilmu=pengetahuan; Kalam=‘pembicaraan’; pengetahuan tentang pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Dasar Ilmu Kalam adalah dalil-dalil fikiran (dalil aqli) Dalil Naqli (Al-Qur’an dan Hadis) baru dipakai sesudah ditetapkan kebenaran persolan  menurut akal fikiran. (Persoalan kafir-bukan kafir).
Menurut al-Ghazali, kalam  hanya bisa digunakan untuk menghadapi tantangan terhadap akidah yang sudah dianut oleh umat; tetapi tidak untuk menanamkan akidah yang benar kepada,umat yang menganutnya, apalagi untuk menuntut orang bisa menghayatinya.[7]
Ilmu kalam sebagai disiplin ilmu yang terdiri sendiri disebutkan untuk pertama kali pada masa Khalifah ‘Abbasiyah, Al-Ma’mun (W. 218 H), setelah ulama-ulama Muktazilah mempelajari kitab-kitab filsafat yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab dipadukan dengan meode ilmu kalam. Sebelum masa Al-Ma’mun, ilmu yang membicarakan masalah kepercayaan disebut Al-Fiqh sebagai imbangan fiqh Fialilmi, yaitu tentang hukum Islam, sebagaimana Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) menamakan bukunya mengenai kepercayaan agama dengan Al-Fiqh Al-Akbar, perkembangan lebih lanjut istilah fiqh ini khusus untuk ilmu yang membicarakan perrsoalan-persoalan hukum-hukum Islam.ilmu kalam belakangan juga dikenal dengan teologi Islam yang sudah lama dikenal penulis-penulis Barat. Dalam pembahasan para ahli ketimuran selalu digunakan theology (Islam) untuk ilmu kalam ini. Ilmu kalam/teologi Islam timbul karena Islam sebagai agama merasa perlu menjelaskan poko dasar agamamya dan segi-segi dakwah sebagai tujuan Al-Qur’an dan Sunah. Dua dasar ini membicarakan wujud Tuhan yang segala aspeknya dan mengatakan hubungan-Nya dengan makhluk.
Ilmu kalam belum dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW. Selang beberapa periode, setelah ilmu-ilmu ke=Islaman satu-persatu mulai muncul dan banyak orang membicarakan soal metafisika/alam gaib, dalam ilmu ini terdapat berbagai golongan dan aliran, kurang lebih 3 abad lamanya kaum muslimiin melakukan berbagai perdebatan baik sesama pemeluk Islam maupun dengan pemeluk agama lain, akhirnya kaum muslimin mencapai ilmu yang membicarakan dasar-dasar akidah dan rinciannya; baik oleh faktor dari dalam Islam sendiri maupun karena faktor dari luar Islam karena berbagai persoalan kalam yang muncul, timbullah bermacam-macam aliran kalam.[8]

3.      Filsafat
Filsafat adalah  pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumannya.[9] Pengetahuan indera mencakup segala sesuatu yang dapat diindera. Batasnya: segala sesuatu yang tidak tertangkap panca indera; pengetahuan ilmu mencakup sesuatu yang dapat diteliti (riset). Batasnya: segala sesuatu yang tidak atau belum dapat dilakukan penelitian; pengetahuan filsafat mencakup segala sesuatu yang dapat difikir oleh akal budi (rasio). Batasnya adalah alam. Namun ia juga mencoba memikirkan sesuatu di luar alam, yang disebut agama, Tuhan.
Tiga Ciri Berfikir Filsafat
                                                         
  1. Radikal. Radix (bahasa Yunani) berarti akar. Berfikir sampai ke akarnya, tidak tanggung-tanggung.
  2. Sistematis. Berarti berfikir logis, bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dan saling berhubungan secara teratur.
  3. Universal. Berarti berfikir secara umum, tidak khusus. Berfikir secara khusus, masuk lapangan ilmu.
Filsafat barat modern memandang manusia bebas dari segala kekuatan luarnya, dan kebebasan itu terjadi lewat pengetahuan rasional. Manusia seolah digiring untuk memikirkan dunia an-sich sehingga Tuhan, surga, neraka, dan persolan-persoalan eksatologis tidak lagi menjadi pusat pemikiran. Mereka menjadi bebas dari segala macam magis, religi, kepercayaan, dan semua yang mereka anggap rasional. Manusia diangkat martabatnya menjadi makhluk bebasdan otonom sebagaimana tergambar dalam pemikiran Descartes, Immanuel Kant, Sartre, dan Frederich Nietzsche.[10]

B.     Hubungan Tasawuf, Ilmu Kalam dan Filsafat
Tasawuf, sebagai disiplin ilmu tentu memiliki hubungan atau keterkaitannya dengan ilmu-ilmu dispilin keilmuan yang lainnya. Untuk lebih mengetahui tentang hubungannya akan lebih baik jika kita hubungkan satu-persatu dulu keterkaitannya setelah itu barulah kita hubungkan ketiganya sekaligus.
1.      Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Kalam
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spritual dalm pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam melali hati (dzauq dan widan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pendang bahwa ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu tauhid.
Kajian-kajian mereka tentang jiwa dalam pendekatan kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam. Pemahaman tentang jiwa dan roh itu sendiri menjadi hal yang esensial dalam tasawuf. Kajian –kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan dalam tasawuf. Namun, perlu juga dicatat bahwa istilah yang lebih banyak dikembangkan dalam tasawuf adalah istilah qalb (hati). Istilah qalb ini memang lebih spesifik dikembangkan dalam tasawuf. Namun, tidak berarti bahwa istilah qalb tidak berpengaruh dengan roh dan jiwa.[11]
Ilmu kalam pun berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh para ulama salaf, hal itu harus ditolak.
Dr. Fuad Al-Ahwani di dalam bukunya Filsafat Islam tidak setuju kalau filsafat sama dengan ilmu kalam.  Dengan alasan-alasan sebagai berikut: Karena ilmu kalam dasarnya adalah keagamaan atau ilmu agama. Sedangkan filsafat merupakan pembuktian intelektual. Obyek pembahasannya bagi ilmu kalam berdasar pada Allah SWT. dan sifat-sifat-Nya serta hubungan-Nya dengan alam dan manusia yang berada di bahwa syariat-Nya. Objek filsafat adalah alam dan manusia serta pemikiran tentang prinsip wujud dan sebab-sebabnya. Seperti filosuf Aristoteles yang dapat membuktikan tentang sebab pertama yaitu Allah. Tetapi ada juga yang mengingkari adanya wujud Allah SWT. sebagaimana aliran materialisme.[12]
Selain itu, ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadarran rohaniah dalam perdebaan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan nasional, di samping muatan naqliah. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran rohaniah, ilmu kalam dapat bererak ke arah yang lebih liberal dan bebas. Di sinilah ilmu tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehinggailmu kalam tidak dikesani sebagai dialektika keislaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan secara qabliah (hati).[13]
2.      Hubungan Ilmu Tasawuf dengan Filsafat
Kajian-kajian Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali tentang jiwa dalam pendekatan kefilsafatan ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kesempurnaan kajian tasawuf dalam dunia Islam. Pemahaman tentang jiwa dan roh itu pun menjadi hal yang esensial dalam tasawuf. Kajian-kajian kefilsafatan tentang jiwa dan roh kemudian banyak dikembangkan dalam tasawuf. Namun, perlu juga dicata bahwa istilah yang lebih banyak dikembangkan dalam tasawuf adalah istilah qalb (hati). Istilah qalb ini memang lebih spesifik dikembangkan dalam tasawuf. Namun, tidak berarti bahwa istilah qalb tidak berpengaruh terhadap roh dan jiwa.[14]
3.      Hubungan Tasawuf, Ilmu Kalam dan Filsafat;
1)      Ketiganya berusaha menemukan  apa yang disebut Kebenaran (al-haq).
2)      Kebenaran dalam Tasawuf berupa tersingkapnya (kasyaf) Kebenaran Sejati (Allah) melalui mata hati.
3)      Kebenaran dalam Ilmu Kalam berupa diketahuinya kebenaran  ajaran agama melalui penalaran rasio lalu dirujukkan kepada nash (al-Qur’an & Hadis).
4)      Kebenaran dalam Filsafat berupa kebenaran spekulatif tentang segala yang ada (wujud). Bersandar kepada pendapat Abbas Mahmud ‘Aqqad dalam al-Tafkir : Faridlah Islamiyah  :
فالتعمق في طلب الأسرار صفة مشتركة بين الصوفية وفلاسفة التفكير الذين يغوصون على الحقائق البعيدة وعلماء النفس الذين ينقبون عن ودائع الوعي الباطن وغرائب السريرة الإنسانية
5)      Maka ketiganya mendalami pencarian segala yang bersifat rahasia (gaib) yang dianggap sebagai ‘kebenaran terjauh’ dimana tidak semua orang dapat melakukannya.

Selanjutnya kita juga harus mengetahui dimana titik persamaan dan perbedaan antara ilmu tasawuf, ilmu kalam dan filsafat.
a.       Titik Persamaan
Ilmu kalam, filsafat, dan tasawuf mempunyai kemiripan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan di samping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada.[15] Sementara itu objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-uapaya pendekatan terhadap-Nya. Jadi, di lihat dari objeknya, ketiga ilmu itu membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.[16]
Argumen filsafat- sebagai mana ilmu kalam- dibangaun di atas logika. Oleh karena itu, hasil kajiannya bersifat spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan eksperimental). Kerelatifan hasil karya logika itu menyebabkan beragamannya kebenaran yang dihasilkannya.
Bagi ilmu kalam, filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia (yang belum atau tidak dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuaan karena berada di luar atau di atas jangkauanya), atau tentang tuhan. Sementara itu, tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan dengan perjalanan spritual menuju Tuhan.

b.      Titik Perbedaan
Perbedaan di antara ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika di samping argumentasi-argumentasi naqliah berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, yang sangat tampak nilai-nilai apologinya.[17] Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan. Sebagai ilmuwan bahkan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktek dan pelaksanaan ajaran agama, serta pengalaman keagamaan yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.[18]
            Sementara itu, filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam); tidak merasa terikata oleh apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama logika. Peranan filsafat sebagaimana dikatakan Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep (the gaining of conceptual clarity).[19]
            Berkenaan dengan keragaman kebenaran yang dihasilkan oleh kerja logika maka dalam filsafat dikenal apa yang disebut kebenaran korespondensi. Dalam pandangan korespodensi, kebenaran adalah persesuaian antara kenyataan sebenarnya di alam nyata.[20]
            Disamping kebenaran korespodensi, di dalam filsafat juga dikenal kebenaran korehensi. Dalam pandangan korehensi, kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Jadi, kebenaran dianggap tidak benar kalau tidak sesuai dengan kebenaran yang dianggap benar oleh ulama umum.
            Disamping dua kebenaran di atas, di dalam filsafat dikenal juga kebenaran pragmatis. Dalam pandangan pragmatisme, kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat (utility) dan mungkin dapat dikerjakan (workability) dengan dampak yang memuaskan. Jadi, sesuatu akan dianggap tidak benar kalau tidak tampak manfaatnya secara nyata dan sulit untuk di kerjakan.
            Adapun ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa dari pada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifst subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Itulah sebabnya, bahasa tasawuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio. Hal ini karena pengalaman rasa sulit dibahasan. Pengalaman rasa lebih muda dirasakan langsung oleh orang yang ingin memperoleh kebenaranya dan mudah digambarkan dengan bahasa lambang, sehingga sangat interpretable dapat diinterpretasikan bermacam-macam). Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau  ilham, atau inspirasi yang datang dari tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf dikenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang objeknya datang dari dalam diri subjek sendiri. Itulah sebabnya dalam sains dikenal istilah objeknya  tidak objektif. Ilmu seperti ini dalam sains dikenal dengan ilmu yang diketahui bersama atau tacit knowledge, dan bukan ilmu proporsional.
            Didalam pertumbuhannya, ilmu kalam (teologi) berkembang menjadi teologi rasional[21] dan teologi tradisional.[22] Filsafat berkembang menjadi sains dan  filsafat sendiri. Sains berkembang menjadi sains kealaman,sosial, dan humaniora; sedangkan filsafat berkembang lagi menjadi filsafat klasik, pertengahan, dan filsafat modern. Tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tasawuf praktis dan tasawuf teoritis.
            Dilihat dari aspek aksiologi (manfaatnya), teologi diantaranya berperan sebagai ilmu yang mengajak orang baru untuk mengenal rasional sebagai upaya mengenal Tuhan secara rasional. Adapun filsafat, lebih berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya langsung. Dengan cara ini, orang yang telah mempunyai rasio sangat prima diharapkan dapat mengenal Tuhan secara meyakinkan melalui rasionya. Adapaun tasawuf lebih perperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin dicarinya.
PENUTUP
Sebagai sebuah disiplin ilmu keislaman, tasawuf tidak dapat lepas dari keterkaitannya dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti ilmu kalam dan filsafat dan bidang ilmu-ilmu lainnya.
Sebagai contoh contoh materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh dzauq (rasa rohaniah). Untuk memberikan wawasan spritual dalam pemahaman kalam, muncul ilmu tasawuf. Penghayatan yang mendalam melalui hati  terhadap ilmu kalam, filsafat, ilmu tauhid, fikih dan ilmu lainnya menjadikan ilmu tasawuf lebih terhayati atau teramplikasi dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat dari sudut pandang bahwa tasawuf merupakan sisi terapan rohani dari ilmu tauhid.
DAFTAR PUSTAKA
1)      Abdillah, Pius. Kamus Populer Ilmiah lengkap. Surabaya: Arkola.
2)      Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia. 2007.
3)      Beck dan Kapten,  Pandangan Barat terhadap Literatur, Hukum, Filosofi Teologi dan Mistik Tradisi Islam, Jakarta: INIS, 2001.
4)      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2002.

5)      Ensiklopedi Islam 2. Jakarta: PT Ichitar Baru Van Hoeve. 2001.
6)      Rozak, Abdul. Ilmu Kalam. Bandung: CV. Pustaka Setia. 2007.
7)      Solihin. Sejarah dan pemikiran Tasawuf di Indonesia. Bandung: Pustaka Setia. 2001.
8)      Syumhoedim, Fadjar Noegraha. Tasawuf Kehidupan Al-Ghazali. Jakarta: CV. Putra Harapan. 1999 .
9)      Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. 2008.

10)  Aries. Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani dan Ilmu-ilmu Islam”. (online) avaible: http://a2i3s-c0ol.blogspot.com/2009/01/hubungan-filsafat-islam-dengan-filsafat.html, diakses pada tanggal 26 Juli 2010.

11)  Hadiyan. Hubungan Tasawuf, Ilmu Kalam, Dan Filsafat” disampaikan pada Perkuliahan Tatap Muka Ke-4 Ilmu Tasawuf 8 November 2008. (online) avaible: google.com//download. diakses pada tangal 16 Juli 2010.


[1] H.L. Beck dan N.J.G Kapten, Pandangan Barat terhadap Literatur, Hukum, Filosofi Teologi dan Mistik Tradisi Islam, (Jakarta: INIS, 2001), hal.45.
[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 1147.
[3] Solihin, Sejarah dan pemikiran Tasawuf di Indonesia, ( Bandung: Pustaka Setia, 2001), hal. 15.
[4] Hadiyan, Hubungan Tasawuf, Ilmu Kalam, Dan Filsafat”, disampaikan pada Perkuliahan Tatap Muka Ke-4 Ilmu Tasawuf 8 November 2008. (online) avaible: google.com//download, diakses pada tangal 16 Juli 2010.
[5] Solihin, Op. Cit., Hal. 75
[6] Ensiklopedi Islam 2, (Jakarta: PT Ichitar Baru Van Hoeve ,2001), hal. 345.
[7] Syumhoedim, Fadjar Noegraha, Tasawuf Kehidupan Al-Ghazali, (Jakarta: CV. Putra Harapan, 1999), hal. 81.
[8] Ensiklopedi Islam 2, Op. Cit., hal. 346
[9] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit., hal. 317.
[10] Solihin, Op. Cit.,  hal. 9-10.
[13] Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hal. 102-103.
[14] Anwar, Rosihon. Op. Cit., Hal. 107.
[15]  Plato menyatakan bahwa objek filsafat adalah menemukan kenyataan  (the discovery of realty) atau kebenaran mutlak (absolute truth) kedua hal itu bisa dikenal dengan istilah dialektika (dialectic). Aristoteles menyatakan bahwa pada mulanya filsafat merupakan kebujaksanaan. Kemudian menjadi upaya menyelidik sebab atau latar belakang dan prinsip-prinsip dari segala sesuatu  (consernet with the investigasion of couses and prinsiple of  things). Prinsip atau unsur pokok di sini adalah mengidentifikasi seluruh ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kemanusiaan (to be identical with the totaliti of human knowledge). Aristoteles selanjutnya mengatakan bahwa filsafat yang  pertama (first philosophy) dinamakan sebagai theology yang kajian utamanya berkenan dengan sebab terakhir yang dikenal istilah Tuhan (concernet with ultimate prinsiples and couses, which includs the idea of god ). Selanjutnya lihat:  Dr. Abdul Rozak dan Dr. Rosihan Anwar. Ilmu Kalam, (Bandung : CV Pustaka Setia), hal. 39.
[16] Ibid. . . , hal. 39.
[17] Pius,Abdillah P. pada  Kamus Ilmiah Populer Lengkap, (Surabaya: Arkola), . Opologi  artinya Pidato pembelaan, hal. 38.  
[18] Rasional  (Descarates-Spinoza-Lebniz )  yakni : masuk akal ; sesuai dengan nalar; menurut pikiran sehat ; bijaksankan sedangkan Rasionalisme adalah  faham filsafat yang  mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan , ibid. . .,hal. 522 dan  prof. Dr . Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), hal 127
[19] log.ci . ., hal. 40
[20]Ibid . ., hal 41  
[21] Teologi rasional memiliki prinsip-prinsip berikut ini:
a.        Hanya terikat pada dogma-doma yang dengan jelas dan tegas di sebut dalam Al-Qur’an dan Hadist  Nabi.
b.       Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta memberikan daya yang kuat kepada akal. Ibid . . .,hal. 42

[22]Teologi tradisional memiliki prinsip-prinsip berikut ini:
a.        Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti zhanni teks yang boleh mengandung arti lain selain dari arti harfiah
b.       Tidak memberikan kebebasan pada manusia dalam kehendak dan berbuat.
c.        Memberikan daya yang kecil kepada akal.  Ibid. . .,hal.42

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar