Jumat, 11 September 2009

Kaitan antara kurikulum dan pembelajaran

Makalah Perencanaan system PAI
Tentang: Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran
Nama : Rabian Syahbana
Nim : 0711059
Dosen pengampu : Adrian M,Pd
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahhirobbil alamin wasalatu wassalamuaalai’asysyrofil anbiya wal mursalina sayyidina Muhammad wa’ala alihi washobihi ajmain.
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tak lupa penyusun haturkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
Pembahasan tugas kali ini, penulis mencoba membahas tentang mata kuliah Perencanaan Sistem PAI untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen mata kuliah kepada kami. Kali ini kami mencakup pembahasan tentang Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran.
Penulis menyadari bahwa dalam tugas ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna untuk itu tanggapan, teguran, dan kritikan serta saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan dari teman-teman. Penulis juga berharap tugas ini bermanfaat dan dapat dipergunakan untuk mahasiswa sekalian.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Petaling, Maret 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Beberapa virus yang tampak di dnia pendidikan yang bersumber dari paradigma sentralisasi, diantaranya penggunaan pakaian seragam, pengunaan kurikulum yang seragam, penggunaan stratergi pembelajaran yang seragam, penggunaan buku sumber yang seragam. Penyeragaman ini dimaksudkan untuk mengingkarimadanya keragaman. Semua bentuk penyeragaman ini ternyata telah berhasil membentuk anak-anak Indonesia yang sangat menghargai kesamaan, dan tanpa sadar ternyata juga telah berhasil membentuk anak-anak yang mengabaikan penghargaan pada keragaman. Anak-anak sangat sulit menghargai perbedaan. Perilaku yang berbeda lebih dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum.[1]
Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Menurut Mauritz Johson (1967, Hlm. 130) kurikulum “prescribes for at least anticipates) the result of intruction”. Kurikulum juga merupakan suatu proses pendidikan. Disamping kedua fungsi itu, kurikulum juga merupakan suatu bidang studi, yang ditekuni oleh para ahli atau spesialis kurikulum, yang menjadi sumber konsep-konsep atau memberikan landasan-landasan teoretis bagi pengembangan kurikulum berbagai instuisi pendidikan.[2]
RUMUSAN MASALAH
Untuk mengetahui kaitan antara kurikulum dengan pembalajaran kita harus mengetahui beberapa masalah diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan Konsep Kurikulum?
2. Apa yang dimaksud Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan?
3. Apa yang dimaksud Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran?
4. Apa yang dimaksud Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran?
5. Beberapa Komponen kurikulum yang berpengaruh terhadap pembelajaran?
TUJUAN
Dengan mempelajari pendekatan belajar mengajar pemakalah mengharapkan kita dapat mengetahui Apa yang dimaksud Apa yang dimaksud dengan Konsep Kurikulum, Apa yang dimaksud Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan, Apa yang dimaksud Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran, Apa yang dimaksud Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran, Beberapa Komponen kurikulum yang berpengaruh terhadap pembelajaran, Dan semoga dengan mempelajari ini pengetahuan kita tentang pendidika semakin bertambah.
BAB II
PEMBAHASAN
KAITAN ANTARA KURIKULUM DENGAN PEMBELAJARAN
Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga pengertian dari Kaitan adalah (kait;gancu); hubungan (sangkutan) : mungkin hal itu ada.[3] Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan, perangkat mata kuliah mengenaibidang keahlian khusus.[4]
Kurikulum asal mulanya bukan berasal dari bahasa Indonesia, tetapi berasal dari bahasa latin yang kata dasarnya adalah Currere, secara harfiah berarti lapangan perlombaan lari, lapangan tersebut ada batas start dan batas finish. Dalam lapangan pendidikan pengertian tersebut dijabarkan bahan pelajaran sudah ditentukan secara pasti, dari mana mulai dijabarkan dan kapan diakhiri, dan bagaimana cara untuk menguasai bahan agar dapat mencapai gelar.[5]
Kegiatan penyusunan analisis materi pelajaran berupa penjabaran dan penyesuaian isi GBPP mata pelajaran, Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a) Menjabarkan Kurikulum
Yaitu menguraikan bahan pelajaran, menguraikan tema, Konsep pokok bahasan yang mengacu pada tujuan pembelajan.
b) Menyesuaikan Kurikulum
Yaitu menyesuaikan pembellajran dalam kurikulum nasional dengan keadaan stempat agar proses belajar dan hasil belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien, sesuai dengan tujuan. Kegiatan penyesuaian kurikulum mencakup:
1) Pemilihan metode
2) Pemilihan sarana pembelajaran
3) Pendistribusian waktu belajar mengajar[6]
Dalam perencanaan atau penyusunan suatu program pengajaran, hal pertama yang perlu mendapat perhatian adalah kurikulum terutama GBPP-nya. Dalam GBPP telah tercantum tujuan kurikuler, tujuan intruksional, pokok bahasan serta jam pelajaran untuk mengajarkan pokok bahasan tersebut.[7]
Konsep Kurikulum
Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata-mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa. Anggapan ini telah ada sejak zaman Yunani kuno, dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “.... a racecourseof subject matters to be mastered” (Robert S. Zais, 1976, Hal. 7). Banyak orang tua bahkan juga guru-guru, kalau ditanya tentang kurikulum akan memberikan jawaban sekitarbidang studi atau mata-mata pelajaran. Lebih khusus mungkin kurikulum diartikan hanya sebagai isi pelajaran.
Kurikulum adalah program didikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah/lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untuk berkembang. Itu sebabnya, kurikulum disususun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran, namun meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, karyawa tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.[8]
Kurikulum dan Teori-Teori Pendidikan
Kurikulum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum, dan suatu kurikulum diturunkan atau dijabarkan dari teori pendidikan tertentu. Kurikulum dapat dipandang sebagai rencana konkret penerapan dari suatu teori pendidikan. Untuk lebih memahami hubungan kurikulum dengan pendidikan, dikemukakan bebrapa teori pendidikan dan model-model konsep kurikulum dari masing-masing teori tersebut. Minimal ada empat teori pendidikan yang banyak dibicarakan para ahli pendidikan dan dipandang mendasari pelaksanaan pendidikan, yaitu
Pendidikan klasik
Pendidikan klasik atau classical education dapat dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu.
Pendidikan pribadi
Pendidikan pribadi (personalized education) lebih mengemukakan peranan siswa.
Pendidikan interaksional
Konsep pendidikan ini bertolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupannya, manusia selalu membutuhkan manusia lain, selalu hidup bersama, berinteraksi, dan bekerja sama.
Teknologi pendidikan
Yang diutamakan dalam teknologi pendidikan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.
Baik dalam uraian tentang modek-model konsep kurikulum, maupun dalam macam-macam desain kurikulum, masalah ini dan proses pengajaranselalu menjadi tema dan titik tolak. Hal itu disebabkan kedudukan kedua komponen kurikulum tersebut sangat penting. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila ada yang berpendapat bahwa kurikulum itu tidak lain dari satu program pendidikan yang berisi jalinan antara isi dengan proses penyampaiannya. Pendapat demikian tidak seluruhnya benar tetapi mengandung kebenaran, mengingat kedua komponen tersebut berperan sebagai kunci.
Pengertian Kaitan Antara Kurikulum Dengan Pembelajaran
Dalam kegiatan proses pembelajaran, kurikulum sangat dibutuhkan krikulum sebagai pedoman untuk menyusun target dalam proses belajar mengajar. Namun, dalam memahami hakikat kurikulum sering terjadi perbedaan persepsi dan pemahama.
Untuk itu berikut ini dikemukaka beberapa pengertian kurikulum tersebut:
Kurikulum dipandang sebagai suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah yang harus dilaksanakan dari tahun ke tahun.
Kurikulum dilukiskan sebagai bahan tertulis untuk digunakan para guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
Yang dimaksud dengan kurikulum adalah suatu usaha untuk menyampaikan asas-asas dan ciri-ciri yang penting dari suatu rencana dalam bentuk yang sedemikian rupa sehinggga dapat dilaksanakan guru di sekolah.
kurikulum diartikan sebagai tujuan pengajaran, pengalaman-pengalaman belajar, alat-alat plajaran dan cara-cara penilaian yang direncanakan dan digunakan dalam pendidikan.
kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu.
Fungsi kurikulum terhadap pembelajaran
Sehubung dengan pengertian dasar pendidikan tersebut, maka fungsi kurikulum difokuskan pada tiga aspek berikut:
Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu sebagai alat untuk mencapai seperangkat tujuan pendidikan yang didinginkan dan sebagai pedoman dalam mengaur kegiatan sehari-hari.
Fungsi kurikulum bagi tataran tingkat sekolah, yaitu sebagai pemeliharaan proses pendiddikan dan penyiapan tenaga kerja.
Fungsi bagi konsumen, yaitu sebagai keikutsertaan dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan progran yang serasi.
Komponen kurikulum terhadap pembelajaran.
Kurikulum dalam suatu sekolah mengandung tiga komponen dasar, yaitu komponen tujuan, isi atau materi dan komponen organisasi atau stratergi.
Komponen tujuan
a. Tujuan pendidikan nasional, yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tataran nasional.
b. Tujuan instusional yaitu yang ingin dicapai pada tingkat lembaga pendidikan.
c. Tujuan kurikulm yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat tataran mata pelajaran atau bidang studi.
d. Tujuan intruksional yaitu tujuan yang ingin dicapai pada tingkat tataran pengajaran yang dapat berwujud sebagai bentuk watak, kemampuan berfikir, dan berketerampilan teknologinya secara bertahap.
Komponen isi
Isi suatu program kurikulum di sekolah dibedakan berdasarkan jenis bidang studi yang disajikan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut.
Komponen organisai dan stratergi
Komponen kurikulum yang terakhir adalah organisasi dan stratergi komponen organisasi, didalamnya terdapat struktur (susunan) horizontal dan vertikal. Dalam komponen stratergi pelaksanaan kurikulum tergambar dan cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaran, cara mengadakan penilaian, cara melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan.[9]
Menurut Drs. Ismed Syarif dkk (1976, Hal. 18-24) kegiatan dalam bidang kurikulum inim masih diperluas dengan mengatur pelaksanaan evaluasi belajar, membuat laporan hasil evaluasi dan mengatur kegiatan bimbingan dan penyuluhan.[10]
Proses pembelajaran dapat terjadi secara efisien, dan efektif melalui suatu sistem kurikulum yang dirancang secara sistematik sejak penentuan tujuan yang harus dicapai, materi yang harus dipelajari, proses pembelajaran yang harus diterapkan, dan sistem evaluasi yang harus dikembangkan dan dilaksanakan. Kalau kita cermati, tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam Undang- Undang Pendidikan Nasional, baik UU No. 4 Tahun 1950, jo UU No. 12 Tahun 1954, yang mencitakan manusia terdidik Indonesia sebagai “manusia susila yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab”, atau UU No. 2 Tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia terdidik sebagai “manusia yang beriman dan bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”, dan yang terakhir UU No. 20 Tahun 2003 yang mencitakan “manusia yang beriman, bertaqwa dan 92 Jurnal Pendidikan Penabur - No.03 / Th.III / Desember 2004 Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis berakhlak mulia, dan seterusnya”, kesemuanya mencitakan wujud sosok manusia yang ideal. Ketercapaiannya tidak mungkin tanpa suatu proses yang terencana, terprogram, dan terlaksana dengan efisien, efektif, dan relevan. Tetapi pada umumnya tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional dan diupayakan ketercapaiannya. Bahkan banyak sementara orang (termasuk para pejabat atau pakar) yang memandang hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh sekolah. Mereka ini adalah kaum realis, dalam pengertian kalau penyelenggaraan pendidikan disekolah dengan kondisi seperti yang berlangsung sampai dengan hari ini, dalam pengertian rendahnya kesungguhan dan kemampuan guru, serta terbatasnya, bahkan tanpa fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukan, dengan pengertian waktu yang terbatas, dalam pengertian model pembelajaran yang tidak lebih dari mendengar, mencatat, dan menghafal dengan evaluasi hanya mengukur kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari dengan keterbatasan buku bacaan baik untuk guru dan murid. Kalau tetap demikian memang segala tujuan itu tidak akan dapat dicapai. Kalau demikian sesungguhnya tidak perlu kita mengubah kurikulum bahkan tidak perlu mengubah UU Sisdiknas, karena semuanya tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan mutu pendidikan.[11]

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kurikulum sangat berkaitan dengan pembelajaran dikarenakan Kurikulum adalah program didikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan peertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah/lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untuk berkembang. Itu sebabnya, kurikulum disususun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata pelajaran, namun meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti: bangunan sekolah, karyawa tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.
B. SARAN
Berkaitan dengan pembahasan makalah ini, maka pemakalah sekaligus menyarankan agar: Melalui pembahasan makalah ini, pemakalah mengharapkan dari semua pihak, terutama aktifis STAIN SAS Bangka-Belitung untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun. Agar kedepannya makalah yang dibuat akan menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Budiningsih, Asri. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2005
2. Syaodih Sukmadinata, Nana. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1997
3. Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005
4. Dakir. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta. 2004
5. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar DI sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. 2002
6. Ibrahim, R dan Nana Syaodih. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2003
7. Hamalik, Oemar. Manajemen Pengembangan Kurikulu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006
8. Ladjid, Hafni. Pengembang Kurikulumn Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi. Ciputat: PT Ciputat Press Group. 2005
9. Subroto, Suryo . Tatalaksana Kurikulum, Jakarta: Rineka Cipta. 2005
10. Jurnal Pendidikan Penabur, - No.03 / Th.III / Desember 2004 89 ”Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis Abstrak”,(online)available:http://www.bpkpenabur.or.id/files/hal%20089107%20Kurikulum,%20Sistem%20Evaluasi%20dan%20Teaga%20Pendidikan%20sebagai%20Unsur%20Strategis%20dalam%20Penyelenggaraan%20Sistem%20Pengajaran%20Nasional.pdf, diakses pada tanggal 7 Maret 2009.
[1] C Asri Budiningsih, Belajar dan pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta , 2005), hal. 3-4.
[2] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1997), Hal. 4.
[3] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), Hal. 491.
[4] Ibid, Hal. 617.
[5] Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), Hal. 2-3.
[6] B. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar DI Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 30.
[7] R.Ibrahim dan Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal. 63-64.
[8] Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), Hal. 10.
[9] Hafni Ladjid, Pengembang Kurikulumn Menuju Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Ciputat: PT Ciputat Press Group, 2005), Hal.6.
[10] Suryo Subroto, Tatalaksana Kurikulum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), Hal. 14.
[11]Jurnal Pendidikan Penabur, - No.03 / Th.III / Desember 2004 89”Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis Abstrak”, (online) available: http://www.bpkpenabur.or.id/files/hal%20089107%20Kurikulum,%20Sistem%20Evaluasi%20dan%20Teaga%20Pendidikan%20sebagai%20Unsur%20Strategis%20dalam%20Penyelenggaraan%20Sistem%20Pengajaran%20Nasional.pdf, diakses pada tanggal 7 Maret 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar