Jumat, 11 September 2009

makalah pengolaan pengajaran PAI (pribadi)

Tentang: PAI dan Pergaulan Bebas Remaja
NAMA : RABIAN SYAHBANA
NIM : 0711059
SEMESTER : IVA
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahhirobbil alamin wasalatu wassalamuaalai’asysyrofil anbiya wal mursalina sayyidina Muhammad wa’ala alihi washobihi ajmain.
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam tak lupa penyusun haturkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
Pembahasan tugas kali ini, penulis mencoba membahas tentang mata kuliah pengelolaan pengajaran PAI untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen mata kuliah kepada kami. Kali ini kami mencakup pembahasan tentang PAI dan pergaulan bebas remaja.
Penulis menyadari bahwa dalam tugas ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna untuk itu tanggapan, teguran, dan kritikan serta saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan dari teman-teman. Penulis juga berharap tugas ini bermanfaat dan dapat dipergunakan untuk mahasiswa sekalian.Wassalamualaikum Wr.Wb.
Petaling, 2009
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pendidikan agama sangat mempengaruhi perkembangan atau cara bergaulnya manusia terutama pada remaja, dikarenakan remaja adalah kondisi keadaan manusia yang sedang mengalami pertumbuhan cara berpikir. Yang dulu masih berpikir anak-anak dan sekarang sudah mulai berpikir secara dewasa. Jika mendapat informasi yang salah dan terbawa kedalam perbuatan yang salah maka kemungkinan besar remaja tersebut akan berakhlak buruk (berbeda dengan yang diajarkan oleh agama). Pendidikan agama Islam disini mengambil peranan yang sangat penting dikarenakan pendidikan agama Islam itu sendiri mengajarkan tentang perbaikan akhlak yang buruk menjadi lebih baik.
Arus globalisasi dan kemajuan teknologi tidak selamanya berdampak positif, ternyata ada juga dampak negatifnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di mancanegara sana, saat ini bisa kita saksikan di dalam rumah kita sendiri melalui layar televisi, internet dan fasilitas teknologi informasi lainnya yang secara langsung atau tidak dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak-anak diusia remaja yang memiliki kecenderungan untuk mencoba-coba sesuatu, tidak sabar, mudah terbujuk dan selalu ingin menampakkan egonya.
Fase remaja merupakan perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut Konpka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi (a) remaja awal: 12-15 tahun; (b) remaja madya: 15-18 tahun; (c) remaja akhir: 19-22 tahun. Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Pendidikan Agama Islam Dan Pergaulan Bebas Remaja
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses; cara; perbuatan mendidik.[1] Agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peradatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta ingkungannya.[2] Islam adalah agama yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW. Berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.[3]
Pergaulan adalah 1. Perihal bergaul 2. Kehidupan masyarakat.[4] Bebas adalah 1. Lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat dan sebagainya), 2. Lepas dari (kewajiban, tentang perasaan takut dan sebagainya), 3. Tidak dikenankan (pajak, hukuman, dan sebagainya), 4. Tidak terikat atau terbatas oleh atasan dan sebagainya, 5. Merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing), 6. Tidak terdapat (didapati) lagi.[5] Remaja adalah mulai dewasa; 1. Sudah sampai umur untuk kawin, 2. Muda, 3. Pemuda.[6]
Anggapan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas berkehendak, bebas mengambil sikap, dan bebas menentukan arah dari kehidupannya adalah sebuah angapan dasar yang berakar pada pemikiran filosofis para filsuf eksistensial seperti Soren Kierkegaard, Nietzsche Karl Jaspers, Martin Heidegeer, dan Sarrtre, yang kemudian diambil dan menjadi corakpemikiran para teoris kepribadian dari aliran psikologi eksistensialisme dan psikologi humanistik. Abraham Maslow, sebagaimana yang akan kita lihat adalah bapak spritual psikologi humanistik yang nyata-nyata menunjukkan komitmen pada anggapan dasar tentang manusia sebagai makhluk yang bebas.[7]
Pengertian Masa Remaja
Seiring perkembangan dan pertumbuhan fisik, terjadi pula perubahan dan perkembangan di dalam tubuhnya. Kelenjar kanak-kanaknya telah berakhir, berganti dengan kelenjar endokrin yang memproduksi hormon, sehingga menggalakan Pertumbuhan organ seks yang tumbuh menuju kesempurnaan. Organ seks menjadi besar disertai dengan kemampuannya untuk melaksanakan fungsinya. Pada remaja putri terjadi pembesaran payudara dan pembesaran pinggul. Di samping itu meningkat pula dengan cepat berat dan tinggi badan. Sedangkan pada remaja pria mulai kelihatan (membesar) jakun di lehernya dan suara menjadi sengau / besar. Di samping itu bahunya bertambah lebar dan mulai tumbuh bulu di ketika dan di atas bibir atasnya (kumis). Satu tanda Kematangan seksual dengan jelas pada remaja putri tetapi hanya diketahui oleh yang bersangkutan saja, yaitu terjadinya datang bulan / haid dan pada remaja putera mimpi basah. Tanda-tanda permulaan Kematangan seksual tidak berarti bahwa secara langsung terjadi kemampuan reproduksi.
Masa remaja (mura’haqah) merupakan masa transisi baik fisik, emosi, maupun sosial antara masa kanak-kanak (thu’fulah) yang penuh kepolosan dan keceriaan dengan masa dewasa (syaba’b) yang menjadi awal masa kedewasaan, kematangan dan kesempurnaan eksistensi manusia. Masa remaja ini memiliki urgensi tersendiri dalam kehidupan manusia dalam pembentukan kepribadiannya (personality), sebab pada masa ini terjadi banyak perubahan besaryang berpengaruh dalam berbagai tahapan kehidupan selanjutnya.[8]
1. Ciri-Ciri Masa Remaja1. Masa remaja sebagai periode peralihan, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak ke peralihan masa dewasa.2. Masa remaja sebagai periode perubahan.3. Masa remaja sebagai usia bermasalah.4. Masa remaja sebagai masa mencari identitas.5. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan, karena masalah penyesuaian diri dengan situasi dirinya yang baru, karena setiap perubahan membutuhkan penyesuaian diri.6. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.7. Ciri-ciri kejiwaan remaja, tidak stabil, keadaan emosinya goncang, mudah condong kepada ekstrim, sering terdorong, bersemangat, peka, mudah tersinggung, dan perhatiannya terpusat pada dirinya.
2. Kebutuhan Remaja1. Kebutuhan akan pengendalian diri.2. Kebutuhan akan kebebasan.3. Kebutuhan akan rasa kekeluargaan.4. Kebutuhan akan penerimaan sosial.5. Kebutuhan akan penyesuaian diri.6. Kebutuhan akan agama dan nilai-nilai sosial .
3. Berbagai konflik yang dialami oleh remaja1. Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka.2. Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua.3. Konflik antara kebutuhan seks dan kebutuhan agama serta nilai sosial.4. Konflik antara prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari.5. Konflik menghadapi masa depan.6. Tugas-tugas perkembangan remaja.William Kay mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut :a. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.b. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mencapai otoritas.c. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individu maupun kelompok.d. Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.e. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.f. Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai. Prinsip-prinsip atau falsafah hidup (Weltanschauung).g. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kenak-kanakan.
C. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Pergaulan Bebas Remaja
Remaja hidup penuh dengan dilema. Biasanya mereka mengalami banyak pertentangan dan pertengkaran. Keadaan Emosi memberikan banyak pengaruh dan penyebab mengapa pertentangan dan pertengkaran itu terjadi.Remaja sangat memerlukan tata tertib untuk dapat tumbuh berkembang sebagai manusia yang beradab. Karena remaja mudah terpengaruh oleh lingkungan. Suasana keluarga berperan penting untuk dijadikan penyeimbang pengaruh lingkungan luar, sebab remaja lebih mempercayai pergroup untuk dijadikan panutan. Dalam keluarga, kedua orangtua harus saling sepakat tentang tata tertib yang akan dipakai sebagai patokan.[9]
Hasil penelitian juga memaparkan para remaja tersebut tidak memiliki pengetahuan khusus serta komprehensif mengenai seks. Informasi tentang seks (65%) mereka dapatkan melalui teman, Film Porno (35%), sekolah (19%), dan orangtua (5%). Dari persentase ini dapat dilihat bahwa informasi dari teman lebih dominan dibandingkan orangtua dan guru, padahal teman sendiri tidak begitu mengerti dengan permasalahan seks ini, karena dia juga mentransformasi dari teman yang lainnya.
Setiap teknologi memberikan efek positif dan negatif . Maraknya penggunaan ponsel telah menurunkan interaksi individu secara langsung. Hal ini akan cenderung membuat pola hidup manusia menjadi indivualistis. Dampak negatif ini tentunya dapat dikurangi bahkan dihindari jika saja si pengguna memiliki pemahaman/pengetahuan, etika dan sikap yang kuat (bijak-positif) untuk memanfaatkan sesuatu secara selektif dan tepat guna. Inilah titik permasalahannya bagi anak dan remaja. Penyaring internal (pemahamam, etika dan sikap) anak dan remaja kita masih sangat rapuh. Di era kompleksitas arus kehidupan saat ini, orang tua (terutama di perkotaan) telah kehilangan daya mendidik dan membangun keluarga bagi anak-anaknya. Hal ini diperparah dengan maraknya “racun-racun” yang diterima oleh anak-anak kita saat ini. Adegan-adegan kekerasan, seksual, mistik, dan hedonisme di media TV, koran dan internet, serta sistem pendidikan sekolah yang gagal membangun karakter anak, telah menyerang anak-anak kita saat ini.
Kurang perhatian orangtua, kurangnya penanaman nilai-nilai agama berdampak pada pergaulan bebas dan berakibat remaja dengan gampang melakukan hubungan suami istri di luar nikah sehingga terjadi kehamilan dan pada kondisi ketidaksiapan berumah tangga dan untuk bertanggung jawab terjadilah aborsi. Seorang wanita lebih cendrung berbuat nekat (pendek akal) jika menghadapi hal seperti ini.
Pada zaman modern sekarang ini, remaja sedang dihadapkan pada kondisi sistem-sistem nilai, dan kemudian sistem nilai tersebut terkikis oleh sistem nilai yang lain yang bertentangan dengan nilai moral dan agama. Seperti model pakaian (fasion), model pergaulan dan film-film yang begitu intensif remaja mengadopsi kedalam gaya pergaulan hidup mereka termasuk soal hubungan seks di luar nikah dianggap suatu kewajaran. Bebera faktor yang menyebabkan terjadinya pergaulan bebas dikalangan remaja yaitu:
a. Faktor agama dan iman.
b. Faktor Lingkungan seperti orangtua, teman, tetangga dan media.
c. Pengetahuan yang minim ditambah rasa ingin tahu yang berlebihan.
d. Perubahan Zaman.
Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua.
Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
Cinta dan Hubungan Heteroseksual
Permasalahan Seksual
Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama[10]
D. Dampak Dari Pergaulan Bebas Remaja
Masa yang paling indah adalah masa remaja.
Masa yang paling menyedihkan adalah masa remaja.
Masa yang paling ingin dikenang adalah masa remaja.
Masa yang paling ingin dilupakan adalah masa remaja.
Ditengah berita siswa-siswi berprestasi dalam ajang penelitian, olimpiade sains, seni dan olahraga, anak muda Indonesia saat ini terancam dalam masa chaos. Jutaan remaja kita menjadi korban perusahaan nikotin-rokok. Lebih dari 2 juta remaja Indonesia ketagihan Narkoba (BNN 2004) dan lebih 8000 remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral anak-anak dalam hubungan seksual telah memasuki tahap yang mengawatirkan. Lebih dari 60% remaja SMP dan SMA Indonesia, sudah tidak perawan lagi. Perilaku hidup bebas telah meruntuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat kita.
a. Penyimpangan atau Kenakalan Remaja:1. Seks bebas di kalangan remaja, yang bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS.2. Kecanduan akan Narkoba yang menyebakan kematian dan AIDS3. Kecanduan Alkohol / minuman keras.4. Tawuran.5. Sering berkunjung ke diskotik.6. Menjajakan diri kepada pria hidung belang.
b. 10. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Menyimpang Pada Remaja 1. Kelalaian orangtua dalam mendidik anak (memberikan ajaran dan bimbingan tentang nilai-nilai agama).2. Sikap perilaku orangtua yang buruk terhadap anak.3. Kehidupan ekonomi keluarga yang morat marit (miskin/fakir).4. Diperjualbelikannya minuman keras/obat-obatan terlarang secara bebas.5. Kehidupan moralitas masyarakat yang bobrok.6. Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan porno.7. Perselisihan atau konflik orangtua (antar anggota keluarga).8. Perceraian orangtua.9. Penjualan alat-alat kontrasepsi yang kurang terkontrol.10. Hidup menganggur.11. Kurang dapat memanfaatkan waktu luang.12. Pergaulan negatif (teman bergaul yang sikap dan perilakunya kurang memperhatikan nilai-nilai moral).Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa :- Sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks.- Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan.- Sebanyak 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi.- Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan.- Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno.
Laporan Komisi Nasional Perlindungan Anak alias Komnas Anak dari survei yang dilakukannya tahun 2007 di 12 kota besar di Indonesia tentang perilaku seksual remaja sungguh sangat mengerikan. Hasilnya seperti yang diberitakan SCTV adalah, dari lebih 4.500 remaja yang disurvei, 97 persen di antaranya mengaku pernah menonton film porno. Sebanyak 93,7 persen remaja sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas mengaku pernah berciuman serta happy petting alias bercumbu berat dan oral seks. Yang lebih menyeramkan lagi, 62,7 persen remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi. Bahkan, 21,2 persen remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Ini data tahun 2007, apalagi tahun 2008, pasti sudah bertambah lebih banyak lagi.[11]
Ta’lim (September 2006) Saat ini, sasaran informasi dan komunikasi begitu membentang. Hal itu dikarenakan arus globalisasi yang tak kenal batas. Sebenarnya globalisasi itu dapat berakibat baik jika disikapi secara benar. Tapi apabila kita cermati ternyata gloablisasi menimbulkan perubahan culture yang cenderung negatif. Misalnya saja banyak situs, majalah, film porno yang membanjiri negara kita. Akibatnya orang-orang yang terpengaruh bisa melakukan tindakan-tindakan asusila. Termasuk di dalamnya melakukan aktivitas pergaulan bebas sampai hubungan seksual. Menurut penelitian yang dilakukan berbagai instansi diperoleh hasil yang mencengangkan. Diketahui bahwa seks bebas menembus angka yang sangat signifikan dari tahun ke tahun.[12]

c. Alasan-Alasan Yang Umum Untuk Berpacaran Selama Masa Remaja1. Hiburan Apabila berkencan dimaksudkan untuk hiburan, remaja menginginkan agar pasanganya mempunyai berbagai keterampilan sosial yang dianggap penting oleh kelompok sebaya, yaitu sikap baik hati dan menyenangkan.2. SosialisasiKalau anggota kelompok sebaya membagi diri dalam pasangan-pasangan kencan, maka laki-laki dan perempuan harus berkencan apabila masih ingin menjadi anggota kelompok dan mengikuti berbagai kegiatan sosial kelompok.3. Status Berkencan bagi laki-laki dan perempuan, terutama dalam bentuk berpasangan tetap, memberikan status dalam kelompok sebaya, berkencan dalam kondisi demikian merupakan batu loncatan ke status yang lebih tinggi dalam kelompok sebaya.4. Masa PacaranDalam pola pacaran, berkencan berperan penting karena remaja jatuh cinta dan berharap serta merencanakan perkawinan, ia sendiri harus memikirkan Sungguh-sungguh masalah keserasian pasangan kencan sebagai teman hidup.5. Pemilihan Teman HidupBanyak remaja yang bermaksud cepat menikahi memandang kencan sebagai cara percobaan atau usaha untuk mendapatkan teman hidup.
Sedangkan kondisi eksternal terutama tampak dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat, di mana pelaku pendidikan berada di dalamnya. Sejauh ini masalah narkoba, pornografi, miras, dan pergaulan bebas, serta tindak kriminal, merupakan masalah sosio-kultural yang sebagian ditemukan melibatkan pelaku yang terkait dengan simbol dan citra pendidikan.
Selama empat tahun terakhir, angka kejahatan narkoba di Indonesia naik signifikan 90 %, dari 958 kasus pada 1998 menjadi 3.617 kasus pada 2001. Penggunanya bukan lagi masyarakat umum, namun juga kalangan mahasiswa dan pelajar. Peredaran narkoba ini bahkan telah merambah ke kalangan pelajar SLTP dan SD. Di Bogor, 16 siswa SLTP dipecat karena terbukti mengkonsumsi narkoba. Sementara itu di Yogya ditemukan indikasi bahwa pemakaian narkotika ini sudah masuk ke SD.
Hal yang sama juga terjadi pada tayangan pornografi. Pornografi merupakan tantangan besar bagi masyarakat dan pendidikan. Sebab, bila pornografi dibiarkan, akan merusak moral rakyat, membuka peluang perkosaan, dan pernikahan dini. Masalah pergaulan bebas juga menjadi masalah krusial dalam pendidikan kita, terutama bagi pelajar dan mahasiswa. Menurut Romli Atmasasmita, menjadi preman bukanlah karena turunan orang tua, melainkan melalui proses pergaulan ini. Beberapa penelitian mengenai pergaulan bebas ini telah diungkap secara langsung, di antaranya adalah penelitian tentang virginitas para mahasiswa Yogyakarta yang dipublikasikan pada Agustus 2002 yang lalu, terlepas dari polemik dan kontroversi yang muncul mengenai penelitian ini. Paling tidak, penelitian tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran pola pergaulan di kalangan pelajar dan mahasiswa, ke arah yang lebih bebas. Kekerasan dalam pendidikan bisa dipengaruhi secara tidak langsung oleh kondisi eksternal ini.[13]
Tingginya kasus penyakit Human Immunodeficiany Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), khususnya pada kelompok umur remaja, salah satu penyebabnya akibat pergaulan bebas.Hasil penelitian di 12 kota di Indonesia termasuk Denpasar menunjukkan 10-31% remaja yang belum menikah sudah pernah melakukan hubungan seksual. Di kota Denpasar dari 633 pelajar Sekolah Menengah Tingkat Atas (SLTA) yang baru duduk di kelas II, 155 orang atau 23,4% mempunyai pengalaman hubungan seksual.
Demikian pula masalah remaja terhadap penyalahgunaan narkoba semakin memprihatinkan.Berdasarkan data penderita HIV/AIDS di Bali hingga Pebruari 2005 tercatat 623 orang, sebagian besar menyerang usia produktif. Penderita tersebut terdiri atas usia 5-14 tahun satu orang, usia 15-19 tahun 21 orang, usia 20-29 tahun 352 orang, usia 30-39 tahun 185 orang, usia 40-49 tahun 52 orang dan 50 tahun ke atas satu orang.
Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Legalisasi aborsi bukan sekedar masalah-masalah kesehatan reproduksi lokal Indonesia, tapi sudah termasuk salah satu pemaksaan gaya hidup kapitalis sekuler yang dipropagandakan PBB melalui ICDP (International Conference on Development and Population) tahun 1994 di Kairo Mesir. Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami ; penderitaan kehilangan harga diri (82%), berteriak-teriak histeris (51%), mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%), ingin bunuh diri (28%), terjerat obat-obat terlarang (41%), dan tidak bisa menikmati hubungan seksual (59%).
Risiko Aborsi
Dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd; Risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi adalah ;- Kematian mendadak karena pendarahan hebat.- Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.- Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.- Rahim yang sobek (Uterine Perforation).- Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.- Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita),- Kanker indung telur (Ovarian Cancer).- Kanker leher rahim (Cervical Cancer).- Kanker hati (Liver Cancer).- Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.- Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi ( Ectopic Pregnancy).- Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).- Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
Situasi ini menjadi semakin buruk, karena kaum kapitalis, khususnya para pengusaha bisnis hiburan, berusaha mengambil keuntungan dari kondisi remaja yang labil. Pencarian jati diri remaja dilihat oleh mereka sebagai ”permintaan” (demand) dan peluang bisnis. Mereka pun kemudian memberikan ”penawaran” (supply) berupa artis dan selebritis yang menampilkan identitas semu (pseudo-identity). Remaja tak sekedar mengapresiasi para selebritis karena film atau lagu mereka yang menarik, tapi juga karena para selebritis itu menampilkan model-model identitas yang bisa mereka tiru dan ikuti. Hanya saja, peniruan yang mereka lakukan ini tidak menyelesaikan problem dan gejolak pada diri mereka, malah semakin melipatgandakannya.
Semua ini berputar dalam suatu siklus. Kaum kapitalis menciptakan industri hiburan yang menghadirkan artis dan selebritis. Para selebritis menampilkan identitas semu yang diapresiasi oleh anak-anak remaja sebagai upaya pemenuhan atas pencarian jati diri mereka. Kaum remaja, atau orang tua mereka, mengeluarkan uang untuk mengkonsumsi hiburan dan mengapresiasi artis-artis, dan uang itu masuk ke kantong kapitalis. Siklus itu terus berputar. Dan sebagai dampaknya, kaum kapitalis mengalami akumulasi modal, sementara remaja mengalami akumulasi krisis.
Telah jelas bagi kita tidak ada dasar bagi Rancangan pembentukan Undang-undang legalisasi aborsi karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, Agama dan Hukum yang berlaku. Legalisasi aborsi akan mendorong pergaulan bebas lebih jauh dalam masyarakat.
Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan pelepasan tanggung jawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Sedangkan dilarang saja masih banyak terjadi aborsi, bagaimana jika hal ini dilegalkan? Legalisasi akan berakibat orang tidak lagi takut untuk melakukan hubungan intim pranikah, prostitusi karena jika hamil hanya tinggal datang ke dokter atau bidan beranak untuk menggugurkan, dengan kondisi ini dokter ataupun bidan dengan leluasa memberikan patokan harga yang tinggi dalam sekali melakukan pengguguran.
Jika perharinya yang melakukan aborsi 7 s/d 8 orang dan harga sekali aborsi sebesar Rp. 4.000.000,-, berarti dalam satu harinya dokter ataupun bidan bisa meraup keuntungan sebesar Rp. 32.000.000,-. Jika di legalkan hal tersebut lebih berdampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja, legalisasi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan Agama, jika bertentangan tidak perlu diterima/dibentuk peraturan tersebut.[14]
Sampai akhir 1996 saja, WHO memperkirakan jumlah orang yang terinfeksi HIV mencapai 30 juta orang dan mereka yang meninggal akibat AIDS sebanyak 6,4 juta orang. WHO juga melaporkan, penderita AIDS paling banyak ditemukan di Amerika Serikat yaitu 581.429 orang, disusul Brasil 103.262 orang, Tanzania 82.174 orang, Thailand 59.782 orang, dan Perancis 45.395 orang.
· Di Afrika di mana diperkirakan 1.000 anak-anak terinfeksi HIVsetiap hari tiga negara selain Tanzania dilaporkan memiliki penderitaAIDS lebih dari 50.000 orang. Negara-negara itu ialah Kenya, Zimbabwe,dan Uganda, yang kemudian disusul Malawi dan Zambia dengan penderitaAIDS tidak jauh berbeda. Wuah, benar-benar gawat, Non!
· Di Asia tidak ada negara selain Thailand yang melaporkan jumlahkasus AIDS lebih dari sepuluh ribu. Negara dengan kasus AIDS mendekatiThailand ialah India sebanyak 3.000 kasus, Myanmar 1.822 dan Jepang1.447 penderita.
· Di Eropa, terutama di negerinya David Trezeguet (Perancis), tercatatjumlah penderita AIDS paling banyak yaitu 45.395 orang, melewatiSpanyol 45.132 penderita. Kemudian disusul Italia 38.418 penderita,Jerman dengan 16.138 penderita dan Inggris sendiri mengoleksi 14.082penderita. Tuh, di negara-negara yang membolehkan pergaulan bebasternyata memang angkanya cukup besar.
· Brasil juga menyimpan penderita AIDS paling banyak, 103.262penderita, dibandingkan negara Amerika Latin lainnya seperti Meksiko29.962 penderita dan Argentina 10.461 penderita. Kanada secara resmimelaporkan ada 14.836 penderita AIDS dan Australia melaporkan 7.033kasus (Kompas, 7 Juli 1997)
· Data terbaru yaitu hingga akhir Oktober 1998 jumlahpenderita AIDS maupun pengidap HIV di wilayah Sumatera Utara saja telahmencapai 27 orang. Itu artinya Sumut menduduki urutan ke tujuh setelahDKI Jaya, Irian, Riau, Bali, Jawa Timur dan Sumatera Selatan. DiIndonesia sendiri hingga akhir Oktober 1998 lalu telah mencapai 776orang, 555 di antara mengidap HIV, yang meninggal sudah 111 orang(Kompas, 1 Desember 1998). Dan nggak mustahil, jumlah itu akan terusmembengkak bila tak segera diselesaikan dengan benar dan baik..[15]
Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Pergaulan Bebas Remaja Masa Kini
Sekolah tidak ada pengawasan secara ketat. Maka prilaku bebas pelajar dapat berakibat pada prilaku mesum pelajar (berzina sesame pelajar atau dengan pelacur). Tingkat pemahaman anak-anak terhadap agama juga sangat rendah, bahkan nol. Pendidikan agama di sekolah hanya sekedar formalitas saja. Para guru agama juga tidak menampakkan tanggung jawab secara all out, penuh, ikhlas dan selalu memberi pendampingan. Apalagi didukung oleh fasilitas memadai untuk berbuat mesum. Klop semua.[16]
Karakteristik Kerohanian Remaja
1. Ketertarikan pada hal-hal kerohanian berkurang secara drastis pada usia ini tetapi remaja dipengaruhi oleh tingkah laku teman-teman sepergaulannya.
2. Tiga belas tahun adalah usia terbesar kedua untuk dibaptiskan di gereja.
3. Ini adalah usia dimana cita-cita untuk pekerjaan seumur hidup sering akan ditentukan. Hal penting dari pegangan sebelum anak-anak remaja ini tentukan nasibnya dalam menyelesaikan perkerjaan pengabaran injil akan kelihatan.
4. Akan ada kurangnya kecenderungan dalam usia ini untuk menyatakan perasaannya pada hal-hal yang bersifat rohani atau keyakinannya.
5. Sering terjadi pertentangan dengan suara hati.[17]
Untuk itulah, guna menyelamatkan remaja dari pergaulan yang tidak terkendali ini, beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan, misalnya :(1) Keluarga harus mamu menjadi pengendali pergaulan remaja dengan ketat. (2) Lembaga pendidikan, seperti sekolah dan lembaga-lembaga keagamaa juga harus proaktif dalam mengendalikan masalah pergaualan remaja.
Upaya Mensiasati Keterbatasan Jam Pelajaran Sebagai Strategi Penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di Sekolah.
1) Menyeleggarakan Bina Rohani Islam (ROHIS)
2) Mengkondisikan Sekolah Dengan Kegiatan Keagamaan (Islamisasi Kampus).
3) Menggunakan Metode Insersi (Sisipan) dalam KBM[18]
Menurut Islam, siapa saja yang melakukan seks bebas akan diganjar sanksi hukum segera setelah persyaratan sanksi tersebut terpenuhi. Seperti pelaku perzinahan, mereka akan dirajam untuk yang sudah (pernah) berkeluarga, dan akan dijilid (cambuk) bagi yang masih lajang.Dengan demikian, Daulah Khilafah (negara Islam) akan menertibkan, lebih tepatnya memberangus tanpa ampun segala bentuk pergaulan bebas, perzinahan, dan prostitusi. Kemudian menghukum kaum homoseks dan lesbi. Karena semua itu adalah ‘pintu gerbang’ penyebaran AIDS secara efektif. Bagaimana dengan yang sudah kena AIDS seperti sekarang? Mereka harus dikarantina, Brur, jangan sampai menularkan ‘benih’ virus HIV yang ada di tubuhnya ke orang lain.[19]
F. HAL-HAL YANG HARUSNYA DILAKUKAN
Pelajar dan remaja membutuhkan sesuatu yang lebih dari itu: moral dan etika secara practical. Karenanya, pendidikan harus kembali benar-benar diarahkan untuk tidak sekadar menggenjot capaian-capaian pada aspek kognitif semata, namun harus diseimbangkan dengan aspek afeksi dan psikomotorik. Nilai bagus memang penting, namun tentu tidak hanya itu. Pengajaran dan pemantauan terhadap budipekerti pelajar juga tidak kalah penting untuk dilakukan secara intensif.[20]
1. Pemerintah filtrasi tegas sinetron, film atau iklan yang berisi kekerasan seksual, pergaulan bebas, mistis-religi, kekerasan-religi, ramalan serta judi.
2. Menindak tegas para pelanggar UU Perlindungan Anak
3. menfilter situs-situs porno di Indonesia. Hingga saat ini saja ada 6 Situs Porno yang Paling Banyak diakses di Indonesia
4. Membangun Youth Centre, pusat pendidikan dan kreasi bagi remaja-remaja agar beraktivitas yang positif.
5. Secara aktif mengontrol promosi (iklan) dan peredaran rokok.
6. Memprioritaskan program pencegahan perdagangan anak, eksploitasi seksual komersial anak, dan narkoba.
7. Edukasi pada masyarakat bahwa jangan mengasingkan anak-anak (yang menjadi korban), bantulah mereka untuk keluar dari permasalahan mereka (material maupun moril).[21]
Dan tambahan terakhir adalah mempunyai teman (sohib). Syarat orang yang bisa kita jadikan sohib sejati adalah : 1. Harus satu Aqidah, yaitu aqidah Islam a. Orang yang sholeh b. Kriteria orang yang sholeh adalah ; c. Bertakwa kepada Allah d. Berakhlak mulia e. Berbaik sangka f. Pemaaf g. Menutupi celah sohibnya h. Mempunyai sifat teman i. Bisa menjaga sohibnya j. Baik tutur katanya k. Menunjukkan wajah berseri-seri l. Memberi salam dan berjabat tangan pada saat bertemu m. Menceritakan kebaikan sohibnya di belakangnya n. Mengunjungi sohibnya ketika terkena musibah o. Menasehati dengan ikhlas.[22]BAB IIIPENUTUP
A. Kesimpulan
Para remaja yang mengalami ‘kecelakaan’ ini tak boleh dijauhi dan dibenci. ‘’Kita tidak pernah melarang mereka untuk melakukan hubungan seks, karena ketika dilarang atau kita menghakimi, mereka akan menjauhi kita. Makanya, disini teman tempat curhat mereka dan kita memberikan solusi bersama. Seberat apapun masalahnya, kalau bersama bisa diatasi. Bukan hanya remaja nakal saja yang terjebak, anak baik pun bisa kena. ‘’Anak baik yang disebut anak rumah pun ada yang mengalami ‘kecelakaan’,.Oleh sebab itu, sangat diperlukan pancegahan dini dengan memberikan pengetahuan seks. ‘’Pendidikan seks itu sangat penting sekali. Tapi, di masyarakat kita pendidikan seks itu masih dianggap tabu. Banyaknya remaja yang terjebak seks bebas ini dikarenakan mereka belum mengetahui tentang seks. Seks itu bukan hanya berhungan intim saja. Tapi, banyak sekali, bagaimana merawat organ vital, mencegah HIV dan lainnya. Pelajari seks itu secara benar supaya kita bisa hidup benar.[23]
Dalam ajaran Islam sesungguhnya istilah pacaran itu tidak ada, yang ada hanyalah istilah ta’aruf yaitu perkenalan antara calon istri dan calon suami. Tetapi mungkin disebabkan oleh semakin berkembangnya teknologi sehingga pergaulan semakin luas dan berkembang sehingga banyak orang yang setuju dengan pacaran. Hal ini juga mungkin disebabkan karena Indonesia bukan negara Islam, sehingga peraturan / hukum-hukum islam di Indonesia tidak begitu kuat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tidak seperti di negara Islam lainnya seperti Arab Saudi. Serta tuntutan dan perkembangan zaman yang membuat sistem /cara didik dan pergaulan pada zaman “Siti Nurbaya” tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan zaman sekarang.
B.Saran
Saran-saran yang mungkin bisa bermanfaat, diantaranya:
1. Bagi responden mahasiswa yang menyatakan tak setuju hingga pacaran, dapat melakukan ta’aruf kepada calon suami atau istri.
2. Bagi responden atau mahasiswa yang menyatakan setuju hingga pacaran diharapkan agar bisa menjaga kelancaran kuliahnya, jadikan pacaran sebagai motivasi atau penyemangat untuk berprestasi dalam bidang pendidikan.
3. Jadikan agama dan keimanan sebagai alat untuk membatasi atau mengontrol diri dalam berpacaran agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas atau seks bebas.4. Bagi mempunyai pacar diharapkan untuk bisa menjaga diri, kehormatan kesucian dan nama baik dirinya sendiri, keluarga, agama, almamater dan daerah asalnya serta bangsanya.[24]
Perlu disadari bahwa tugas pendidikan agama Islam adalah agar manusia selalu lurus dengan fithrahnya. Terkait dengan pendidikan, Syed Muhammad Naquib al-Attas menekankan bahwa tujuan pendidikan dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling tinggi seharusnya tidak ditujukan untuk menghasilkan warga negara yang sempurna (complete citizen), tetapi untuk memunculkan manusia paripurna.38 Para ahli pendidikan Muslim juga mempunyai pendapat yang senada. Dr. Ali Asraf menyatakan bahwa pendidikan seharusnya diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya. Sementara Imam al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya kesempurnaan manusia yang bisa mendekatkannya kepada Allah dan bisa membawa pada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Upaya pembentukan manusia yang utuh dan paripurna (al-insan al-kamil) tidak mungkin dapat terwujud selama masih adanya kesenjangan yang serius dalam aspek-aspek kedewasaan remaja. Kesenjangan ini bertentangan dengan pola pertumbuhan natural manusia dan karenanya menimbulkan ketidaksehatan jiwa pada diri remaja. Ketidaksehatan jiwa ini pada gilirannya menyebabkan terjadinya ketidaksehatan sosial pada komunitas remaja dan lingkungannya. Prof. El-Quussy menyatakan bahwa ”pendidikan yang tidak menuju ke arah menciptakan kesehatan jiwa dianggap sebagai suatu perbuatan yang sia-sia, yang tidak ada gunanya.”
Oleh karenanya, salah satu tugas penting pendidikan agama Islam sekarang ini dalam pendidikan remaja adalah menghapuskan kesenjangan pada aspek kedewasaan remaja. Jadwal kedewasaan biologis tidak mungkin dimundurkan waktunya, karena terjadi secara alamiah. Oleh sebab itu, jadwal kedewasaan psikologis dan sosial-lah yang perlu kembali dimajukan waktunya agar berdekatan dengan jadwal kedewasaan biologis, sebagaimana yang selama ini dialami oleh remaja-remaja pada masyarakat primitif dan pada masyarakat di masa lalu. Dimajukannya jadwal waktu kedewasaan psikologis dan sosial lebih bersifat natural dan lebih menjamin kesehatan jiwa dalam fase pertumbuhan remaja.[25]
DAFTAR PUSTAKA
1. Admin. “Aids, Seks, dan Remaja” (online) available: http://main.man3malang.com/index.php?name=News&file=article&sid=760 (diakses pada tanggal 1 Juni 2009)
2. Athiyah Ath-Thuri, Hannah. Mendidik Anak Perempuan di Masa Remaja. Jakarta: Amzah. 2007
3. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. 2005
4. E. Koswara. Teori-teori Kepribadian. Bandung: PT. Eresco. 1991
5. Hisyam. ” Problematika Mendasar Krisis Generasi dan Solusinya”, (online) available: http://www.islamuda.com/?id=55&imud=rubrik&kategori=3&menu=baca (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
6. Muzayyad, Idy. “Geng Remaja dan Kegagalan pendidikan Kita” (online) available:
7. (//mbs)http://news.okezone.com/read/2007/11/18/58/61742/58/geng-remaja-dan-kegagalan-pendidikan-kita (diakses pada tanggal 2 juni 2009)
8. Sak Dermo, Mung. ”Pergaulan Bebas Pelajar” (online) available: http://www.smpn1awn.sch.id/id/index.php/berita/publik/68-pergaulan-bebas-pelajar (diakses pada tanggal 1 Juni 2009)
9. Anonimus. “Akibat Terjadinya Pergaulan Bebas” online (available): http://ninahamzah.wordpress.com/akibat-terjadinya-pergaulan-bebas/ (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
10. Anonimus. “Aids, Seks, dan Remaja” (online) available: http://opic-bandang.blog.friendster.com/2007/08/aids-seks-dan-remaja/ (diakses pada tanggal 1 Juni 2009)
11. Anonimus. “Hancurnya Moral Akhlak Remaja Indonesia” online (available): http://moeflich.wordpress.com/2008/11/12/hancurnya-moral-akhlak-remaja-indonesia/Hancurnya Moral-Akhlak Remaja Indonesia (diakses pada tanggal 1 Juni 2009)
12. Anonimus. ”Istiqro” online (available): http://www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
13. Anonimus. “Karateristik Remaja dan Pemuda” (online) available: http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=483:karakteristik-remaja-dan-pemuda&catid=87:muda-mudi&Itemid=92 (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
14. Anonimus. “Kenakalan Remaja” (online) available: http://irsanfa-94.blogspot.com/2008/04/kenakalan-remaja.html (diakses pada tanggal 1 Juni 2009)
15. Anonimus. ”Keprihatinan Gaya Hidup Bebas Remaja” (online) available: Mhttp://nusantaranews.wordpress.com/2008/12/13/keprihatinan-gaya-hidup-bebas-remaja/erdeka, dan Kompas (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
16. Anonimus. “NJ” (online) available: http://anakciremai.blogspot.com/2008/04/makalah-psikologi-tentang-psikologi.html (diakses pada tanggal 1 Juni 2009)
17. Anonimus. “NJ” (online) available: http://www.lpmpjateng.go.id/blog/?p=13 (diakses pada tanggal 1 Juni 2009)
18. Anonimus. “Pergaulan bebas remaja sikap terhadap pergaulan bebas remaja ditelaah dari tingkat pemahaman keagamaannya (studi deskriptif)” online (available): http://fpips.upi.edu/jurnalfpips/log_user/mkjurnal.php (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
19. Anonimus. “Pergaulan Bebas Dikalangan Remaja” (online) available: http://tranzfers.blogspot.com/2009/01/pergaulan-bebas-dikalangan-remaja.html, 2009 (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
20. Anonimus. “Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang” online (available): http://netsains.com/2009/04/psikologi-remaja-karakteristik-dan-permasalahannya/ (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
21. Anonimus. “Stratergi penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum” (online) available: http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/03/06/strategi-penyelenggaraan-pendidikan-agama-islam-di-sekolah-umum/ (diakses pada tanggal 2 Juni 2009)
[1] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 263.
[2] Ibid, hal. 12.
[3] Ibid, hal.444.
[4] Ibid, hal. 399.
[5] Ibid, hal. 188.
[6] Ibid, hal. 944.
[7] E. Koswara, Teori-teori Kepribadian, (Bandung: PT. Eresco, 1991), hal.20.
[8] Hannah Athiyah Ath-Thuri, Mendidik Anak Perempuan di Masa Remaja, (Jakarta: Amzah, 2007), hal. V.
[9] Anonimus, “Kenakalan Remaja” (online) available: http://irsanfa-94.blogspot.com/2008/04/kenakalan-remaja.html., diakses pada tanggal 1 Juni 2009.
[10] Anonimus, “Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang”, online (available): http://netsains.com/2009/04/psikologi-remaja-karakteristik-dan-permasalahannya/., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[11] Anonimus, “Hancurnya Moral Akhlak Remaja Indonesia”, online (available): http://moeflich.wordpress.com/2008/11/12/hancurnya-moral-akhlak-remaja-indonesia/Hancurnya Moral-Akhlak Remaja Indonesia., diakses pada tanggal 1 Juni 2009.
[12] Anonimus, “Pergaulan bebas remaja sikap terhadap pergaulan bebas remaja ditelaah dari tingkat pemahaman keagamaannya (studi deskriptif)”, online (available): http://fpips.upi.edu/jurnalfpips/log_user/mkjurnal.php., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[13] Anonimus, ”Istiqro”, online (available): http://www.ditpertais.net/istiqro/ist02-03.asp., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[14] Anonimus, “Akibat Terjadinya Pergaulan Bebas”, online (available): http://ninahamzah.wordpress.com/akibat-terjadinya-pergaulan-bebas/., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[15] Anonimus, “Aids, Seks, dan Remaja”, (online) available: http://opic-bandang.blog.friendster.com/2007/08/aids-seks-dan-remaja/., diakses pada tanggal 1 Juni 2009.
[16] Mung Sak Dermo, ”Pergaulan Bebas Pelajar”, (online) available: http://www.smpn1awn.sch.id/id/index.php/berita/publik/68-pergaulan-bebas-pelajar., diakses pada tanggal 1 Juni 2009.
[17] Anonimus, “Karateristik Remaja dan Pemuda”, (online) available: http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=483:karakteristik-remaja-dan-pemuda&catid=87:muda-mudi&Itemid=92., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[18] Anonimus, “Stratergi penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum”, (online) available: http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/03/06/strategi-penyelenggaraan-pendidikan-agama-islam-di-sekolah-umum/., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[19] Admin, “Aids, Seks, dan Remaja”, (online) available: http://main.man3malang.com/index.php?name=News&file=article&sid=760., diakses pada tanggal 1 Juni 2009.
[20] Idy Muzayyad, “Geng Remaja dan Kegagalan pendidikan Kita”, (online) available:
(//mbs)http://news.okezone.com/read/2007/11/18/58/61742/58/geng-remaja-dan-kegagalan-pendidikan-kita., diakses pada tanggal 2 juni 2009.
[21] Anonimus, ”Keprihatinan Gaya Hidup Bebas Remaja”, (online) available: Mhttp://nusantaranews.wordpress.com/2008/12/13/keprihatinan-gaya-hidup-bebas-remaja/erdeka, dan Kompas., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[22] Hisyam, ” Problematika Mendasar Krisis Generasi dan Solusinya”, (online) available: http://www.islamuda.com/?id=55&imud=rubrik&kategori=3&menu=baca., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[23] Anonimus, “Pergaulan Bebas Dikalangan Remaja”, (online) available: http://tranzfers.blogspot.com/2009/01/pergaulan-bebas-dikalangan-remaja.html, 2009., diakses pada tanggal 2 Juni 2009.
[24] Anonimus, “NJ”, (online) available: http://anakciremai.blogspot.com/2008/04/makalah-psikologi-tentang-psikologi.html., diakses pada tanggal 1 Juni 2009.
[25] Anonimus, “NJ”, (online) available: http://www.lpmpjateng.go.id/blog/?p=13., diakses pada tanggal 1 Juni 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar